OPINI: Revolusi Mobil Listrik

Komisari PT PLN (Persero) Dudy Purwagandhi mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Jalan Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (26/12/2020). - ANTARA
09 Januari 2021 06:07 WIB Eko Sulistyo, Komisaris PLN Aspirasi Share :

Usai berkomunikasi langsung dengan Presiden Jokowi pertengahan Desember lalu, nama Elon Musk langsung menjadi viral dan terkenal di Indonesia. Viralnya nama Elon Musk, CEO SpaceX dan Tesla bisa dibaca bahwa masyarakat telah memberi respons positif atas masuknya peradaban baru era revolusi mobil listrik.

Harus diakui revolusi mobil listrik pada masyarakat kita sedikit berbeda dengan yang terjadi di belahan bumi lain seperti di Amerika dan Eropa ketika revolusi itu benar-benar terjadi di lapangan. Ada perdebatan atau rivalitas, baik pada aspek teknis maupun konsep pengembangan. Melibatkan pendukung mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle, BEV) versus pendukung mobil berbahan bakar energi fosil atau internal combustion engine (ICE).

Adapun revolusi mobil listrik di negeri kita seperti lompatan waktu. Salah satu pijakan empirisnya adalah pada 17 Desember lalu ketika Menko Kemaritiman dan Investasi bersama Menteri ESDM meluncurkan KBLBB. KBLBB sendiri adalah akronim dari kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Rintisan mobil listrik sebenarnya sudah dimulai awal abad 20 dan memiliki prospek pasar yang bagus, terutama untuk dikendarai di sekitar kota. Sayangnya, jalan yang buruk di luar pusat kota membuat mobil listrik tipe awal tersebut sulit untuk menjelajah jauh melampaui batas kota.

Seperti peristiwa besar pada umumnya, selalu ada tokoh besar dibaliknya. Ada dua tokoh inventor yang layak disebut perannya dalam pengembangan baterai listrik. Pertama, Camille Alphonse Faure dari Prancis (1840-1898) yang pada 1881 berhasil meningkatkan kapasitas baterai yang memungkinkan produksi skala industri. Kedua, Thomas Parker dari Inggris (1843 – 1915). Pada 1884 dia berhasil membuat mobil listrik produksi pertama dengan desain khusus dapat diisi ulang.

Pengembangan mobil listrik sempat terhenti dan menghilang pada 1935. Baru menjelang berakhirnya milenium kedua, mobil listrik modern pertama muncul. Akhirnya momentum datang ketika pada 2008 saat Tesla merilis Roadster, mobil listrik modern pertama dengan teknologi baterai mutakhir dan sistem pemindahan daya (powertrain) listrik. Dari sisi pemasaran, angka penjualan produk Tesla mengalahkan Toyota dan raksasa otomotif lainya pada 2020 (Bloomberg, 2020).

Mobil listrik memang telah memberi dampak pada lingkungan yang lebih bersih dan hijau. Paparan emisi gas rumah kacanya berada pada titik nol. Situasi pandemi seolah blessing in disguise bagi EV, karena keberadaannya makin dikenal. Setelah respons positif diperoleh, penyiapan ekosistem menjadi penting.

Ekosistem EV memiliki spektrum yang luas, setidaknya menyentuh tiga aspek, yakni regulasi, infrastruktur dan insentif. Aspek insentif yang paling kompleks dibandingkan dengan dua aspek lainnya mengingat insentif langsung bersentuhan dengan kepentingan pengguna atau calon pengguna EV.

Kita bisa belajar dari negara lain untuk kebijakan ini. Berdasarkan LeasePlan’s EV Readiness Index 2020, di Belanda calon pembeli EV dapat mengakses hibah hingga 4.000 gulden atau setara Rp31 juta untuk biaya pembelian mobil listrik baru atau bekas. Jika ingin membeli kendaraan listrik bekas, juga masih berhak mendapatkan hibah 2.000 gulden.

Sementara itu Pemerintah Inggris memberi pada calon pembeli EV untuk mengklaim hingga 3.000 poundsterling atau setara Rp57 juta. Di Norwegia, selain ada hibah dan keringanan pajak, ada insentif lain seperti gratis di jalan tol, menumpang kapal feri, dan parkir dalam kota. Norwegia adalah negara pertama di dunia yang sejak 1990 telah memperkenalkan skema insentif kepemilikan EV.

Norwegia dan Belanda hanya akan menjual mobil listrik mulai 2025. Inggris akan melarang penjualan mobil berbahan bakar energi fosil setelah 2030. Swedia yang juga dikenal keras dalam komitmen lingkungan hidup, dan rumah bagi industri mobil Volvo dan Scania, hanya akan memproduksi mobil listrik mulai 2030.

Pada 2019 Inggris telah meningkatkan infrastruktur pengisian daya EV secara signifikan. Pada Januari 2020, negara itu telah memiliki 10.616 stasiun pengisian listrik. Bila Inggris Raya dijadikan rujukan, yang luasnya hampir dua kali Pulau Jawa, kita bisa hitung kira-kira jumlah outlet pengisian listrik yang kita butuhkan.

Tidak ada kata terlambat, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Regulasi ini juga mengatur insentif dan harga listrik untuk EV. Insentif fiskal dan nonfiskal diberikan kepada industri, perguruan tinggi dan perorangan untuk inovasi teknologi kendaraan listrik berbasis baterai.

Untuk infrastruktur pengisian listrik, melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2020 sebagai turunan Perpres Nonor 55 Tahun 2019, ada dua jenis infrastruktur pengisian listrik. Pertama, Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) untuk motor. Kedua, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk mobil. Penyediaan infrastruktur ini dilaksanakan melalui penugasan kepada PT PLN (Persero) bekerjasama dengan BUMN atau badan saha lainnya.

Artinya, secara bertahap menunjukkan pemerintah telah menyiapkan ekosistem menyambut era revolusi mobil listrik. Tidak hanya akan mengurangi emisi karbon dan pemanasan global tapi juga hemat biaya dan menuju pada kemandirian energi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia