OPINI: Wisata di Tengah Wabah

Warga antre saat akan melakukan tes cepat (rapid test) COVID-19, di area Terminal Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Jumat (18/12/2020). Pengelola Bandara Ngurah Rai Bali mulai Jumat (18/12) menyediakan layanan Rapid Test Antigen setelah sebelumnya telah menyediakan layanan Rapid Test Antibodi yang dapat digunakan sebagai salah satu syarat untuk melakukan perjalanan. - ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
11 Januari 2021 02:27 WIB Bambang Susantono, Wakil Presiden Asian Development Bank Aspirasi Share :

Pariwisata di Asia merupakan salah satu sektor yang terdampak paling berat akibat Covid-19. Asia hanya dikunjungi oleh maksimal 25% wisatawan mancanegara (wisman) di 2020 bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Thailand, yang 18% PDB-nya bersumber dari pariwisata, hanya dikunjungi 6,9 juta wisman dibandingkan dengan 40 juta pada 2019.

Indonesia diperkirakan kehilangan lebih dari Rp100 triliun tahun lalu akibat penurunan jumlah wisman lebih dari 70%. Data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia menunjukkan terjadinya pengurangan karyawan besar-besaran, yaitu sekitar 550.000 pegawai perhotelan atau 78,5% dari jumlah pegawai terdaftar.

Penanganan Covid-19 diperkirakan perlu waktu lebih lama dari perhitungan awal. Wisman tampaknya masih perlu memulihkan kepercayaan mereka sebelum melakukan perjalanan lagi.

Lebih dari setengah responden survei yang dilakukan Asosiasi Angkutan Udara Internasional (IATA) mengindikasikan bahwa mereka belum akan berwisata ke luar negeri selama 6 bulan ke depan. Riset Asian Development Bank (ADB) menunjukkan bahwa sekitar setengah dari negara-negara di Asia berpotensi meningkatkan wisata dalam negeri untuk mengkompensasi gap yang ditimbulkan oleh hilangnya wisman.

Pada 2019, Indonesia mencatat datangnya 16,1 juta wisman, sedangkan 10,7 juta orang berwisata ke luar negeri. Bila mereka yang berwisata ke luar negeri melakukan perjalanan domestik, gap yang ditimbulkan oleh berkurangnya wisman dapat diperkecil. Pemerintah di banyak negara makin gencar mempromosikan wisata domestik untuk mengurangi dampak hilangnya wisman.

Tren peningkatan wisatawan domestik sebenarnya telah terjadi pada dekade terakhir. Hal ini sejalan dengan meningkatnya masyarakat kelas menengah dan jumlah milenial yang memicu peningkatan perjalanan wisata.

Seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan lokal, banyak negara mulai me-reorientasi layanan wisata dengan karakter yang berbeda dengan wisata konvensional. Di Kamboja, promosi besar-besaran di media sosial mendorong peningkatan permintaan wisata bernuasa alam dan petualangan.

Vietnam meluncurkan program ‘Orang Vietnam Melancong di Vietnam’ dengan menawarkan tiket murah dan memperkuat transportasi lokal. Tahun lalu, jumlah wisatawan domestik di Vietnam mencapai 80 juta orang, sedangkan wisman berjumlah hanya 15 juta orang.

Di China jumlah wisatawan domestik sepanjang Golden Week pada Oktober 2020 mencapai 80% dari jumlah wisatawan tahun lalu. Provinsi Hubei yang merupakan episentrum Covid-19 pun sukses menarik wisatawan domestik.

Namun, memobilisasi wisatawan domestik bukan pekerjaan mudah, terutama bila pandemi belum tertangani. Pembatasan sosial dan 3M tetap harus dilakukan untuk mencegah makin memburuknya pandemi. Karenanya, terdapat beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan wisata domestik.

Pertama, pemanfaatan teknologi digital. Pengendalian wisatawan di satu tempat dapat dilakukan menggunakan aplikasi yang mengatur pergerakan (motion control) dan keramaian (crowd control). Beberapa negara menggunakan QR scanner, sehingga pengunjung dapat leluasa menikmati obyek wisata dengan tetap menjaga jarak antar pengunjung.

Mantra dasar 3M tetap berlaku tetapi pengaturannya dijalankan secara digital menggunakan teknologi yang kian terjangkau. Kedua, pandemi membangkitkan wisata perdesaan dan berbasis alam. Tekanan psikologis dan dampak pembatasan interaksi fisik menyebabkan banyak orang ingin merasakan kebebasan dan rasa damai di tengah alam yang masih permai.

Studi ADB memperlihatkan bahwa pasar wisata domestik di Korea bergeser dari perkotaan ke kawasan minim penduduk seperti perdesaan. Paket wisata yang ditawarkan juga makin beragam seperti agrowisata, gastronomi lokal, dan kebugaran. Dalam hal ini Thailand memberikan award bagi penyelenggara wisara perdesaan dan bantuan finansial untuk mendorong warga desa melestarikan budaya lokal.

Ketiga, pelibatan UMKM merupakan langkah strategis untuk membentuk ketahanan ekonomi. Salah satu tren wisata yang berkembang adalah kegiatan yang membaur dalam aktivitas keseharian penduduk. Di sini, UMKM berperan penting dalam menciptakan ekosistem wisata lokal.

Beberapa paket wisata di Mongolia dan Bhutan menawarkan pengalaman makan di rumah tangga setempat dalam jumlah yang terbatas. Di Laos, sebagian ibu rumah tangga kini beralih profesi menjadi tuan rumah, perajin cinderamata, dan pemandu bagi wisatawan yang ingin memahami kehidupan dan kultur daerah setempat.

Keempat, segmen yang sering terlewatkan adalah para ekspatriat yang bekerja di satu negara. Jumlah ekspatriat yang banyak, didukung oleh kemampuan finansial dan minat untuk lebih memahami negara tempatnya bekerja, menempatkan ekspatriat dalam segmen khusus di dalam pasar wisata domestik.

Belum banyak riset dilakukan mengenai ketertarikan wisata untuk ekspatriat. Misalnya, Thailand telah mengeksplorasi hal-hal unik bagi para ekspatriat seperti wisata kuliner otentik, spa dan wellness (paket kebugaran), serta membuat promosi wisata khusus untuk mereka.

Kelima, penguatan riset. Penelitian tentang wisata domestik belum dilakukan sebanyak wisata internasional. Data wisata domestik di Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) hanya mencakup kurang dari seperempat dari seluruh negara anggotanya.

Indonesia berpotensi untuk lebih menguatkan wisata domestik. Momentum pandemi harus digunakan untuk menciptakan wisata lokal ber-genre baru yang lebih ramah lingkungan, atraktif bagi kelas menengah baru dan milenial, serta mendorong ekonomi lokal.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia