OPINI: Telaah Dampak Teknologi 5G

Tiang jaringan Swisscom AG yang dilengkapi dengan peralatan 5G di atas atap gedung Swisscom di Bern, Swiss, Kamis (4/7/2019). Bloomberg - Stefan Wermuth

Ada kado spesial akhir tahun 2020 yang mungkin luput dari perhatian masyarakat umum terkait dengan pengembangan sektor digital di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) secara resmi mengumumkan pemenang tender dari penggunaan pita 2,3 GHz yang nantinya digunakan sebagai spektrum frekuensi teknologi 5G di Tanah  Air.

Ketiga operator tersebut adalah PT Smartfren Telecom (Smartfren), PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), dan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia).

Kemenkominfo membagi penggunaan spektrum frekuensi tersebut berdasarkan area, yaitu Smartfren mendapatkan Blok A dengan cakupan wilayah Sumatera Bagian Utara, Banten dan Jabodetabek, Jawa Bagian Barat, Jawa Bagian Tengah, Jawa Bagian Timur, Papua, Maluku, dan Maluku Utara dan Sulawesi Bagian Utara.

Tri Indonesia mendapatkan Blok B yang meliputi Sumatera Bagian Utara, Banten dan Jabodetabek, Jawa Bagian Barat, Jawa Bagian Tengah, Jawa Bagian Timur, Papua, Maluku dan  Maluku Utara, Sulawesi Bagian Utara serta Kepulauan Riau.

Adapun   Telkomsel mendapatkan Blok C yang meliputi wilayah Banten dan Jabodetabek, Jawa Bagian Barat, Jawa Bagian Tengah, Jawa Bagian Timur, Papua, Maluku dan Maluku Utara, Sulawesi Bagian Utara serta Kepulauan Riau).

Dari blok yang dialokasikan tersebut, ketiga operator mengajukan harga penawaran yang disetujui pemerintah sebesar Rp 144,8 miliar. Dengan adanya pemenang tender tersebut, Indonesia akan memasuki era baru teknologi yang diharapkan bisa memaksimalkan potensi ekonomi digital di masa depan.

Secara historis, teknologi seluler mulai berkembang terutama sejak 2G diperkenalkan pada 1993 sebagai sebuah leap-frog, karena 1G masih menggunakan teknologi telekomunikasi analog. Teknologi 2G memungkinkan fitur seluler untuk short messaging system (SMS), multimedia messaging system (MMS) dan internet terbatas (narrowband) sampai dengan kecepatan 64 kbps.

Selanjutnya 3G diperkenalkan pada 2001 dengan teknologi yang lebih maju dan memungkinkan video call, mobile TV dan Global Positioning System (GPS) dengan kecepatan internet hingga 2 Mbps.

Generasi selanjutnya yaitu 4G yang menunggunakan Long Term Evolution (LTE) dan WiMAX dan diperkenalkan sejak 2009. Teknologi ini memungkinkan high-speed internet and global mobility, aplikasi, mobile TV dan wearable devices dengan kecepatan internet mencapai 20 Mbps.

Dalam kaitan itu The International Telecommunications Union (ITU) menjelaskan bahwa teknologi 5G sangat berbeda dengan teknologi seluler sebelumnya. Teknologi 5G memungkinkan keterhubungan orang, benda, data, aplikasi, sistem transportasi cerdas dan smart cities.

Teknologi ini juga memungkinkan berkembangnya video 3D, cloud, layanan medis jarak jauh, augmented reality, intelligence transport system dan komunikasi mesin-ke-mesin yang mendorong otomatisasi industri manufaktur.

Dengan demikian menelaah dampak dari teknologi 5G harus berdasarkan manfaat yang lebih besar dari sekedar aspek industri seluler yang memungkinkan kita bisa mengakses internet dengan jauh lebih cepat dan dengan kapasitas upload dan download yang lebih besar.

Bagaimana kemungkinan dampak 5G dalam perekonomian Indonesia? Salah satu acuan yang bisa dipakai adalah melihat tingkat digitisasi sektor ekonomi di Indonesia berdasarkan agregasi dengan klasifikasi The International Standard Industrial Classification of All Economic Activities (ISIC).

Menggunakan data The World Input Output Database (WIOD), kita bisa melihat level digitisasi suatu sektor ekonomi berdasarkan berapa besar komponen input digital yang dipakai. Dengan demikian, suatu sektor dikatakan lebih digital jika dalam proses produksinya lebih banyak menggunakan komponen input digital, yang berdasarkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) diterjemahkan sebagai komponen sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK), baik berupa barang (perangkat elektronika dan komputer) maupun jasa (telekomunikasi dan software).

Berdasarkan data WIOD, sepanjang tahun 2000 hingga 2014 (data terakhir yang tersedia), hanya ada tiga sektor yang mengalami kenaikan level digitisasi di Indonesia yaitu sektor informasi, keuangan dan asuransi serta sektor jasa professional.

Sebagian besar sektor ekonomi yang lain memiliki pola digitisasi yang tidak banyak berubah dalam 15 tahun terakhir, yaitu di industri manufaktur, perdagangan, real estat, pertanian, dan administrasi publik.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah dari rollout teknologi 5G ini agar memberikan manfaat yang lebih maksimal bagi Indonesia. Salah satu yang menjadi prasayarat adalah bahwa sektor-sektor yang menjadi target utama, terutama sektor industri manufaktur, transportasi dan administrasi pemerintahan harus dikembangkan terlebih dulu, baik kesiapan modal fisik maupun modal sumber daya manusia.

Alhasil, manfaat 5G bisa optimal mengubah wajah perekonomian Indonesia menuju knowledge economy dengan nilai tambah yang jauh lebih besar.

Harus dipahami pula bahwa teknologi 5G tidak untuk menggiring semakin banyak lahirnya Youtuber dan influencer di platform internet tetapi terlebih, sebagaimana pendapat Timothy Bresnahan dari Stanford University, harus  memberikan manfaat besar sebagai general purpose technology yang mendorong pertumbuhan di sektor downstream dalam rantai perekonomian.

 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia