OPINI: Risalah Komunikasi Bisnis Post Milenial

Agnes Gracia Quinta, Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Internet membuat batasan waktu dan jarak menjadi semakin tidak berarti. Interaksi sosial dan bisnis semakin dinamis dengan keberadaan internet. Proses ini secara teknis memang terlihat semakin gampang atau efisien, namun apakah efektifitas komunikasi benar-benar semakin mudah? Nilai etika, gaya bicara, konten pembicaraan antar generasi dan antar budaya ternyata menjadi tantangan baik dalam interaksi sosial maupun urusan bisnis.

Dalam mengembangkan bisnis di era post milenial, dari konteks pemasaran maupun pengelolaan sumber daya manusia sangat penting untuk membangun pemahaman lintas budaya dan lintas generasi. Kehadiran teknologi membuka cakrawala komunikasi daring lintas generasi dan lintas budaya. Dengan kemunculan berbagai platform media sosial, komunikasi bisnis semakin ekstensif dan intensif terjadi baik oleh entitas bisnis dengan publik maupun dalam organisasi. Komunikasi bisnis membutuhkan strategi engagement atau pendekatan yang berbeda agar efektif dalam menyasar target audience (internal dan eksternal) karena setiap budaya dan generasi memiliki karakteristik yang berbeda pula.

Miskonsep sering terjadi dimana pemahaman budaya kerap dikaitkan dengan kemampuan bahasa. Kapabilitas melakukan translasi secara harafiah bukanlah penguasaan budaya. Menguasai bahasa asing bukan berarti memahami budaya asing, walaupun tidak dapat dipungkiri struktur bahasa memiliki pengaruh terhadap budaya. Masalah ini semakin nyata ketika komunikasi di era internet menunjukan penguasaan bahasa bukan lagi menjadi masalah. Dengan berbagai bantuan baik seperti kecerdasan buatan atau mesin pencarian (daring), sangat mudah untuk menerjemahkan bahasa. Tantangan komunikasi bisnis lebih kepada interpretasi yang melibatkan kercerdasan emosional, karena pemahaman lintas budaya tidak hanya mengenai pengenalan unsur eksplisit budaya namun juga terkait penerimaan, keterbukaan dan nilai moral (implisit). Pemahaman lintas budaya memerlukan literasi budaya dari berbagai sisi, terlepas dari bahasa, elemen-elemen budaya lainnya seperti agama, kepercayaan, pandangan sosial, adat istiadat juga tidak boleh diabaikan.

Ada beberapa kondisi yang potensial menjadi masalah dalam komunikasi internasional secara umum, yang pertama adalah generalisasi yang tidak berdasar. Misalnya, stereotifikasi terhadap latar belakang rasial, agama dan asal negara. Asumsi yang tidak berdasar ini, membuat komunikasi menjadi bias bahkan gagal. Kondisi lainnya adalah pengabaian komunikasi non verbal, karena ternyata 30% komunikasi melibatkan gestur, isyarat, ekspresi dan lainnya. Contoh implikasi praktis pada bisnis adalah pemasar harus berhati-hati dalam menyusun kalimat, memakai ikon/gambar/warna dan juga dalam mendesain skenario video promosi. Iklan yang sama bisa dipersepsikan berbeda di negara yang berbeda. Dilain sisi tantangan pada pengelola SDM saat ini adalah untuk menciptakan atmosfir kerja yang melahirkan kesempatan dan penilaian yang adil terhadap sumber daya dari berbagai latar belakang budaya.

Komunikasi lintas generasi juga menjadi tantangan tersendiri, tiap generasi memiliki karakteristik tersendiri. Generasi xennial mungkin tidak sepopuler milenial, sebagai generasi yang menjembatani generasi X dan milenial, xenial punya sifat kombinasi keduanya. Xenial tidak sesinis generasi X namun juga tidak seoptimistis milenial (www.usatoday.com, 2018). Generasi milenial mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Nielsen melakukan riset terhadap 30 ribu responden dengan akses internet memadai. Studi tersebut menggambarkan perilaku generasi ini memilih jalur daring untuk meneliti dan membeli beragam produk atau jasa dalam memenuhi kebutuhan. Generasi Z miliki ciri suka berkomunikasi dengan semua kalangan menggunakan berbagai macam jejaring sosial yang semakin merebak di internet. Melalui jejaring sosial berekspresi secara spontan sehingga terkadang seolah bertindak atau berkata tanpa sopan dan santun. Generasi Alpha  sangat plural dengan arti dari perspektif budaya generasi ini terlahir dengan kondisi dimana pluralitas menjadi bagian dari peradaban, sehingga pola pikir maupun penerimaan terhadap perbedaan dalam konteks budaya sangat tinggi. Tiap generasi ini memiliki gaya hidup yang berbeda, prinsip dan perilaku komunikasi yang berbeda. Contohnya Gen Z lebih memilih konten interaktif di tiktok sementara platform digital pilihan generasi milenial adalah instagram. Gen Z dan milenial mengingat hal-hal yang “receh”, dan menginginkan konten yang baru setiap harinya, hal ini berbeda dari generasi sebelumnya yang lebih menyukai postingan yang lengkap dari pada interaktif. Pada interaksi internal organisasi, menghargai dan mengenal karakter generasi juga menjadi sangat penting agar komunikasi bisa efektif.

 

Tips Komunikasi Bisnis Post Milenial

Ada banyak kegagalan pemasaran karena hanya mengandalkan translasi bahasa tanpa memahami budaya. Panasonic pernah melakukan kesalahan besar ketika masuk pasar amerika dengan ikon Woody Woodpecker dan melakukan translasi secara harfiah saja. Begitu pula Pepsi ketika masuk ke China. Melibatkan pihak asing secara lansung dalam menginterpretasi pemahaman budaya dan bahasa akan sangat efektif. Dari sisi pengelolaan sumber daya manusia, sebagian besar penugasan ekspatriat maupun negosiasi bisnis gagal karena hal yang sama. Ketidakmampuan beradaptasi tidak hanya karena bahasa, namun juga minimnya keterbukaan diri. Keterbukaan akan pembelajaran budaya akan menjadi gerbang awal terhadap penerimaan budaya asing.  Komunikasi lintas budaya tentunya juga melibatkan  komunikasi verbal dan nonverbal. Artinya gestur, ruang personal, isyarat, komponen adat istiadat tidak bisa ditanggalkan begitu saja. Mempelajari sejarah, politik, dan nilai-nilai tradisi juga krusial, karena persepsi lawan bicara terhadap situasi sangat dipengaruhi hal tersebut. Penerimaan dan pemahaman lintas budaya tidak bisa lahir tanpa menghargai dan menghormati perbedaan yang ada. Persiapan sebelum keberangkatan (pre-departure training) dalam bentuk pendidikan non formal baik untuk dinas temporal maupun penempatan jangka Panjang menjadi program wajib yang harus dimiliki organisasi.

Pemahaman lintas budaya harus digandengkan dengan strategi komunikasi lintas generasi untuk menghasilkan konten atau pendektan yang efektif dan persuasif. Sebagai contoh strategi awal dimulai dengan memahami perilaku daring generasi yaitu dengan mengidentifikasi platform digital yang mana yang menjadi prioritas opsi generasi tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan komunikasi yang tepat nilai dari perspektif budaya. Program-progam seperti pelatihan bahasa, pembelajaran mengenai keberagaman budaya, menjadi fundamental pada setiap organisasi masa kini. Mari melatih diri untuk berpikiran terbuka, banyak belajar dan berinteraksi dengan orang-orang dari latarbelakang lintas generasi - lintas budaya, serta menghindari sikap judgemental terhadap perbedaan.