OPINI: Perubahan Budaya Kampung di Kota Jogja


Sejak tahun 2020 Pemerintah Kota Yogyakarta memulai tradisi baru pembangunan kampung berlandasan masterplan. Dalam kerangka acuan kerja Penyusunan Rencana Terintegrasi Kemantren tahun 2021, dokumen perencanaan harus menyentuh, mengulik dan diturunkan sampai dengan tingkat kampung dan disebut “Perencanaan Terintegrasi”.

Sebutan itu sangat tepat, sebab sesuai dengan gagasan dasar Bapak Wawali, yang berkehendak menjadikan kampung sebagai basis perencanaan. Tegasnya, kampung hingga Kemantren harus memiliki perencanaan tunggal, sebagai acuan semua program berpola partisipasi gandeng gendong multi-pihak membangun kampung secara berkelanjutan.


Tradisi baru


Selesainya dokumen masterplan kampung pada kampung Karangwaru, Gedongkiwo dan Wirogunan tahun 2020 menandai perubahan tradisi. Membangun kampung harus terencana, direncanakan masyarakat dalam kolaborasi gandeng gendong. Kampung harus maju dalam bingkai kebersamaan dengan kampung lain dan seluruh kota. Idealnya, warga kampung harus merumuskan masa depan kampung mereka secara terencana. Artinya, warga kampung menjadi Tuan Rumah di kampung sendiri.


Keberhasilan penyusunan masterplan kampung tahun 2020 menjadi semangat baru. Pemerintah Kota Yogyakarta tahun 2021 menargetkan 42 kampung selesai menyusun Perencanaan Terintegrasi. Semangatnya sama, kampung menyusun rencana sendiri, sebagai tanda penting adanya kedaulatan ruang dalam bingkai kebersamaan. Perencanaan yang dihasilkan harus setara dan sekualitas atau bahkan lebih baik daripada masterplan kampung yang sudah tersusun tahun 2020.


Penyusunan rencana berbasis partisipasi masyarakat menjadi kunci yang pe nting. Mimpi masyarakat dalam wujud tema-tema, sengaja diangkat menjadi branding kampung, agar menjadi semangat dan motivasi gerak pembangunan kampung. Masyarakat belajar menyusun peta jalan perubahan (roadmap) dengan target terfokus dan terukur. Era masyarakat memiliki kecerdasan menyusun masterplan kampung adalah titik perubahan tradisi yang pertama.


Anehnya, ketika dokumen masterplan kampung selesai disusun, pihak-pihak pemerintah kelurahan justru kebingungan. Pada waktu proses penyusunan mereka terlibat aktif, tetapi ketika dokumen masterplan tersusun mereka kebingungan bagaimana penggunaannya. Hal ini menjadi tanda nyata, hidup berencana berbasis dokumen perencanaan bagi kampung (baca: elite kampung) masih menjadi masalah yang mengganjal dan harus diselesaikan. Budaya mengelola kampung memang harus diubah secara mendasar.


Perubahan Kedua


Perencanaan dalam era digital haruslah bukan sekadar penyusunan dokumen. Gagasan-gagasan kunci Perencanaan Terintegrasi berkelanjutan perlu mudah diimplementasikan. Pihak-pihak internal kampung maupun eksternal perlu dimudahkan menggunakan dokumen dalam perencanaan dan eksekusi kegiatan kolaboratif. Artinya, dokumen perencanaan terbuka bagi siapapun dan kapanpun. Dokumen tidak di dalam almari atau laptop seseorang apalagi di dalam flashdisk, melainkan terletak di cloud-drive.


Jaman memang sudah berubah, tradisi dan perilaku pengelolaan kampung juga perlu berubah. Pilihan digitalisasi dokumen Perencanaan Terintegrasi menjadi sebuah keharusan yang tidak terhindari. Keluhan terhadap dokumen hardcopy yang tebal harus dijawab dengan teknologi. Era digital memaksa kampung beradaptasi terhadap pola kerja berbasis digital. Budaya baru memerlukan perilaku baru.


Digitalisasi Perencanaan Terintegrasi mendukung sifat dinamis rencana jangka panjang. Penambahan tema atau branding baru selalu terbuka diintegrasikan setiap saat dengan yang sudah ada. Munculnya komunitas baru, misalnya kelompok penggemar jamu herbal, dapat didampingi bagaimana menyusun roadmap perubahan yang ditargetkan. Selanjutnya, roadmap diintegrasikan dengan semua rencana yang sudah ada, sehingga menjadi bagian yang menyatu dalam seluruh rencana.


Digitalisasi Perencanaan Terintegrasi juga luwes mendukung pembangunan berkelanjutan. Teknologi digital mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian banyak elemen perencanaan dengan mudah.

Roadmap perubahan dibuat tidak terlalu kaku dalam kerangka waktu. Setiap tema rencana tidak harus sama persis waktu mulai atau terminasinya. Pola ini terjadi karena niat ideal yaitu mewadahi semua aspirasi masyarakat yang tidak selalu sama waktu dan durasinya.


Jika digitalisasi Perencanaan Terintegrasi sungguh diterapkan, maka kampung-kampung di kota Yogyakarta memasuki budaya baru. Digitalisasi perencanaan dan pengelolaan teritegrasi kampung kota menjadi tanda perubahan tradisi kedua yang sangat signifikan.


Penutup
Tradisi baru kota Yogyakarta membangun kampung berlandasan masterplan perlu ditingkatkan. Dalam era digital, digitalisasi dokumen Perencanaan Terintegrasi mutlak dilakukan.

Jika pembangunan kampung berlandasan masterlan kampung adalah perubahan tradisi yang pertama, maka digitalisasi Perencanaan Terintegrasi layak disebut sebagai perubahan tradisi yang kedua.
Selamat datang budaya baru, selamat datang era baru.