OPINI: Berpacu dengan Teknologi dan Ideologi Terorisme

Mohammad Affan, Peneliti Terorisme, Kandidat Doktor Studi Islam UIN Sunan Kalijaga

Belum kering luka dan air mata akibat bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, Minggu (28/3), kita dikejutkan lagi dengan aksi teroris di depan Mabes Polri, Rabu (31/3).

Dua peristiwa beruntun ini menegaskan bahwa operasi penumpasan kelompok teroris yang gencar dilakukan Densus 88 belum tuntas memutus jaringan mereka sampai ke akar-akarnya. Bahkan, ibarat kata pepatah “mati satu, tumbuh seribu,” teroris mampu berkembang biak dan berevolusi.

Setidaknya ada dua organ utama yang selalu mereka transformasikan untuk mempertahankan jaringan dan menyebar sel-selnya. Pertama, transformasi dan modifikasi teknologi yang mendukung setiap aksi kekerasan yang dilakukan. Kedua, transformasi penyebaran ideologi dengan berbagai cara untuk membentuk sel-sel baru jaringan teroris. Kedua organ ini harus diputus mata rantainya jika ingin melumpuhkan teoris sampai ke akarnya.

Dari sisi teknologi, mereka terus melakukan transformasi baik dalam hal strategi, taktik, dan peralatan yang digunakan. Mereka bukan lagi teroris tradisional dengan persenjataan konvensional. Kemahiran mereka bukan hanya dalam hal meracik bom, tetapi juga penguasaan senjata api, dan kemampuan strategi penyerangan untuk melumpuhkan lawan.

Dalam setiap aksinya, kelompok teroris menguasai dan memanfaatkan berbagai bentuk teknologi mutakhir dan tercanggih, seperti teknologi pengamatan (vision machine), telepon selular, teknologi sibernatik, dan teknologi simulasi. Setidaknya ada tiga logika sosial sebagai efek dari perkembangan teknologi, yang secara intensif dimanfaatkan teroris.

Pertama, logika ketidakterlihatan (logic of invisibility). Perkembangan teknologi pengawasan dan pengintaian mutakhir, seperti satelit, radar, kamera video, dan internet memungkinkan setiap orang menggunakan akses di dalamnya. Dengan logika ini, kelompok teroris dapat melakukan pengintaian target tanpa terdeteksi seperti yang terjadi di depan Gereja Katedral dan Mabes Polri.

Kedua, logika miniaturisasi (logic miniaturization). Perkembangan teknologi simulasi mampu membuat sebuah model miniaturisasi tindakan sebagai tiruannya. Dengan logika ini, mereka telah melalukan observasi lokasi yang akan menjadi sasaran, dan dapat menyusun model penyerangan dalam bentuk miniaturasi dan simulasi sebelum melakukan serangan.

Ketiga, logika nomadisme (logic of nomadism). Globalisasi telah membuka peluang besar bagi para teroris untuk menjalankan nomad strategy. Yaitu, sebuah pola operasi teror yang bertransformasi dalam skala global dalam sebuah jaringan yang kompleks. Mereka bisa belajar teknologi elektronik, misalnya, di Australia, sistem radarnya di Singapura, latihannya di Filipina, tapi aksi terornya di Indonesia. Meskipun pelaku pemboman telah tewas, tapi aktor-aktor nomad di baliknya harus diungkap, ditangkap, dan diadili.

Dari sisi penyebaran ideologi, merujuk penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2013, yang penulis terlibat di dalamnya, ada empat transformasi ideologi hingga sampai pada tahap terorisme. Pertama, militansi. Pada tahap ini, narasi ideologis yang disebarkan adalah logika oposisi biner untuk melihat dunia sebagai medan pertentangan antara iman dan kafir, kebenaran dan kesesatan. Kedua, radikalisme. Narasi ideologis yang disebarkan pada tahap ini adalah idealisasi masa lalu yang ingin dibangkitkan kembali sebagai solusi satu-satunya bagi kehidupan saat ini. Dunia dipandang sudah sangat kacau, karena itu harus meniru kembali masa lalu yang sudah teruji.

Setelah dua narasi di atas berhasil diindoktrinasi, masuklah pada transformasi ketiga, yaitu ekstremisme. Narasi ideologis yang dibangun adalah, kekerasan dibolehkan, bahkan wajib dilakukan, dalam rangka melawan orang/kelompok lain yang dianggap kafir, sesat, dan zalim terhadap kelompoknya. Puncaknya adalah terorisme, ketika segala bentuk teror dan kekerasan dihalalkan untuk membela dan mewujudkan kepentingan ideologis mereka.

 

***

Dalam beberapa tahun terakhir juga terjadi transformasi target penyebaran ideologi. Jika sebelumnya ditemukan fenomena penyusupan ideologi terorisme pada kalangan anak muda, kini penyebaran ideologi terorisme makin banyak ditemukan masuk di kalangan preman dan eks narapidana yang pernah ditahan atau berurusan dengan polisi.

Pemilihan preman dan residivis sebagai target penyebaran ideologi terorisme dapat dipahami karena mereka dianggap sebagai orang-orang yang “dimusuhi” polisi. Dengan begitu, ideologi terorisme mudah dimasukkan dengan menjadikan polisi sebagai musuh bersama (common enemy). Dapat kita bayangkan betapa seriusnya ancaman ini, jika seorang pelaku kejahatan disusupi ideologi terorisme dan diberikan skill penguasaan alat-alat persenjataan dan strategi perang.

Berhadapan dengan situasi ini, sudah seharusnya aparat keamanan terus meningkatkan skill dan profesionalitasnya. Kemampuan teknologi yang digunakan aparat dan konter narasi terorisme harus berpacu dengan transformasi teknologi dan ideologi kelompok teroris. Kerjasama semua elemen aparat mulai dari kepolisian khususnya Densus 88, TNI, dan Badan Intelijen Negara (BIN) mendesak diperkuat untuk bersama-sama mempersempit ruang gerak jaringan teroris.

Masyarakat juga harus meningkatkan kewaspadaan, tanggap, dan peka terhadap segala bentuk ancaman terorisme.

Pada saat yang sama, konter narasi harus digalakkan di bawah komando Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama para tokoh agama, budayawan, politisi, public figure, influencer, dan seluruh elemen masyarakat. Jaringan media sosial dan media massa harus diramaikan dengan narasi-narasi anti militansi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme sebagai musuh bersama. Tidak ada tempat bagi terorisme di Indonesia.