OPINI: Membangun Modal Psikologis

Bartolomeus Galih Visnhu Pradana, Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Saat ini, pandemi Covid-19 masih menjadi masalah besar di dunia bahkan di Indonesia. Tidak ada yang bisa menghindari efek dari wabah ini. Kejadian ini mengubah semua aspek kehidupan. Walaupun telah banyak dilakukan penelitian untuk memprediksi berakhirnya wabah ini, namun ketidakpastian masih saja menghantui. Dampak pandemi ini sangat serius, tidak hanya berdampak praktis, tetapi juga membawa tekanan psikologis pada setiap orang.

Dampak psikologis ini harus kita waspadai. Terlebih lagi, karena kita belum pernah mengalami peristiwa sebesar ini sebelumnya. Wabah ini tentunya akan menimbulkan berbagai efek psikologis, seperti rasa khawatir, cemas, ketakutan, bahkan depresi. Jika kita tidak mampu mengelola efek psikologisnya dengan baik, maka proses pemulihan disegala aspek kehidupan akan memakan waktu lebih lama. Karena apabila seseorang tertekan secara psikologis, maka penanganan tersebut akan terkendala oleh perilaku yang tidak mendukung.

Dari sudut pandang psikologi positif, seseorang memiliki modal (capital) tertentu, dan dalam situasi seperti ini, modal psikologis adalah yang paling penting. Pada 2007, Luthans dan kawan-kawan memperkenalkan psychological capital (biasanya disingkat psycap) untuk menggambarkan kemampuan mental positif seseorang. Kuncinya adalah kemampuan manusia beradaptasi terhadap tekanan, sehingga siapa pun dapat menghadapi dan melewati masa sulit dengan selamat. Selalu ada harapan ketika seseorang mampu mengelola modal psikologis sebagai kekuatan dalam menghadapi berbagai tekanan.

Psycap sebagai kondisi pertumbuhan psikologis positif seseorang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) self-efficacy, seseorang mempunyai kepercayaan diri dalam melaksanakan dan mengambil suatu usaha dalam menyelesaikan pekerjaan dalam situasi yang sulit, 2) hope, seseorang bertekun dan teguh terhadap tujuan yang hendak dicapai serta mengatur upaya agar tujuan tersebut berhasil, 3) optimism, seseorang mempunyai reaksi yang positif mengenai keberhasilan yang telah dicapai dan yang akan datang, 4) resiliency, jika seseorang mengalami masalah dan kegagalan, seseorang tersebut akan tetap bertekun dan bangun kembali untuk mencapai kesuksesan, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Fang dan kawan-kawan pada 2020 menunjukkan bahwa tingkat self-efficacy dapat berdampak positif pada tindakan pencegahan dan tanggap darurat. Selain itu, orang dengan self-efficacy yang tinggi seringkali dapat menemukan solusi inovatif untuk menghadapi masalah. Psycap sendiri dapat dibangun dengan memperkuat dan membangun harapan (hope). Jika kita bisa memperkuat dan membangun harapan dalam diri kita, maka energi psikologis yang luar biasa akan muncul dalam diri kita. Energi harapan ini akan menghasilkan optimisme. Optimisme ini akan menjadikan kita individu yang memiliki motivasi dalam mencari dan memilih tindakan serta respon yang tepat dan realistis agar kita dapat keluar dari masa sulit ini. Optimisme yang realistis akan mengarahkan kita pada tindakan yang masuk akal, yang sepenuhnya berada dalam kendali kita. Apakah kita dapat keluar dan bangkit dari situasi ini, sepenuhnya bergantung pada upaya kita sendiri.

 

***

Seseorang yang optimistis mengartikan peristiwa negatif sebagai hal yang sementara dan di luar kendali mereka. Seperti pandemi saat ini, masyarakat yang optimis akan terus maju dan mencoba melihat aspek positif dari kejadian ini. Selain itu, orang yang optimistis percaya bahwa situasi buruk adalah peluang, bukan alasan untuk menyerah (resiliency). Hal ini memungkinkan individu untuk mengembangkan rencana kedepannya yang mudah beradaptasi dengan segala situasi perubahan yang mungkin terjadi.

Meskipun saat ini sedang dilakukan berbagai upaya untuk meminimalkan dan menghentikan penyebaran wabah ini. Namun ada baiknya kita mulai memikirkan dan mempersiapkan langkah-langkah pemulihan pasca wabah, baik itu berasal dari pemerintah, organisasi / lembaga, maupun dunia usaha.

Bangsa Indonesia telah mengalami banyak masa sulit dan telah mampu mengatasi kesulitan dengan menuju ke arah yang lebih baik. Seperti krisis 1998 dan beberapa bencana alam yang pernah terjadi adalah beberapa fakta yang tidak terbantahkan. Fakta-fakta ini harusnya dapat memberikan kita keyakinan dan optimisme yang tinggi bahwa kita dapat keluar dari kesulitan saat ini dengan memunculkan cara yang tepat.

Berdasarkan uraian tersebut, menurut penulis, program pemulihan dapat berjalan secara efektif jika kita bisa memulai strategi pemulihan dengan membangun dan memperkuat modal psikologis masyarakat. Selain pemerintah, rencana atau program tersebut juga perlu didukung dan dilaksanakan oleh lembaga nonpemerintah termasuk dunia usaha.

Dunia usaha dapat memulai dengan mendefinisikan kembali pengalaman organisasi dan upaya organisasi dalam mengatasi kesulitan. Lebih lanjut, forum juga dapat diadakan untuk berbagi pengalaman dan melaksanakan workshop pelatihan untuk membentuk dan memperkuat modal psikologis masyarakat.

Keempat ciri yang ada dalam modal psikologis diyakini berdampak positif pada seseorang, sehingga memungkinkannya untuk tampil optimal. Dalam persaingan bisnis yang ketat dan lingkungan yang terus berubah, kualitas sumber daya manusia akan menentukan kelangsungan dan kesuksesan perusahaan. Dengan cara ini, pengelolaan dalam membangun modal psikologis yang tepat juga akan memberikan hasil yang optimal.