OPINI: Kala Ukuran Sarung Cekak

Seorang petani tengah berada di sawah di Sungai Sariak, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatra Barat. Di kawasan pertanian padi ini banyak tumbuh pembangunan rumah baru yang dapat berdampak pada penyusutan luas lahan tanam padi. - Bisnis/Noli Hendra
02 Juni 2021 05:07 WIB Khudori, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Aspirasi Share :

Banyak pihak (masih) percaya Indonesia adalah zamrud khatulistiwa. Negeri yang kaya sumber daya alam, lahan maha luas, tanahnya subur, lautnya luas, dan bejibun keanekaragaman hayati. Begitu suburnya tanah, meminjam lirik lagu Kolam Susu Koes Ploes, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Narasi ini diajarkan di sekolah-sekolah dan aneka lembaga pendidikan, dari tingkat terendah hingga tinggi. Karena disampaikan berulang-ulang, narasi ini dianggap sebagai kebenaran (akhir). Benarkah demikian?

Luas daratan Indonesia mencapai 1,9 juta kilometer persegi. Ini sudah mencakup sungai, rawa, dan hutan. Jika dibagi jumlah penduduk sebanyak 276 juta jiwa, luasan per kapita hanya 0,70 hektare.

Bila yang dihitung hanya lahan yang bisa ditanami (arable land) yang luasnya 26,3 juta hektare, ketersediaan lahan per kapita lebih kecil lagi, hanya 0,096 hektare. Sangat kecil. Ketersediaan lahan yang bisa ditanami per kapita ini menjadi salah satu indikator kemampuan negara menjamin kecukupan pangan warganya.

Dibandingkan dengan negara lain, betapa kecilnya ketersediaan lahan yang bisa ditanami per kapita di Indonesia. Bandingkan dengan Ethiopia yang ketersediaan lahanya mencapai 0,12 hektare/kapita (luas 16,8 juta hektare dengan penduduk 112,1 juta). Atau dengan ketersediaan lahan di Amerika Serikat 0,5 hektare/kapita, Thailand 0,23 hektare/kapita, dan China 0,12 hektare/kapita.

Indonesia, boleh jadi, unggul dalam kualitas lahan. Akan tetapi, setelah diperiksa saksama, klaim ini tak sepenuhnya benar. Lahan-lahan di Indonesia sebagian besar, tepatnya sekitar 70%, bersifat masam (Widowati, 2020). Tidak mudah berbudidaya atau berusahatani di lahan masam. Butuh input lebih mahal, rakitan varietas khusus, dan teknologi spesifik.

Jika pun berhasil, sebagian besar produktivitasnya tidak setinggi di lahan yang subur. Lahan-lahan yang subur sebagian besar berada di Jawa. Pulau ini dikelilingi pegunungan aktif yang rutin memuntahkan erupsi. Erupsi itu kaya mineral penyubur tanah yang dibutuhkan tanaman.

Lebih dari itu, setelah mengalami eksploitasi sejak introduksi Revolusi Hijau era 1970-an, tanah-tanah kita sudah jenuh dan keletihan (soil fatique), bahkan sakit (sick soil).

Menurut Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (2010), sekitar 73% lahan sawah memiliki kandungan C-organik sangat rendah sampai rendah (C-organik <2%), 22% memiliki kandungan C-organik sedang (2%—3%), dan 4% berkandungan C-organik tinggi (> 3%). Tanah dengan kandungan C-organik < 2% dapat dikategorikan sebagai lahan sawah yang sakit, kelelahan, dan sangat kritis (Simarmata, 2012).

Jadi, selain ketersediaan per kapita amat sempit, lahan-lahan itu butuh pemulihan kesuburan. Praktik pertanian konvensional yang boros lahan dan air tak lama lagi tak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Kala produksi pangan, seperti padi, jagung, kedelai, tebu, aneka umbi, dan tanaman lain dipacu atau ditargetkan swasembada, pertanyaannya di manakah hendak ditanam dan apakah lahannya tersedia?

Tanpa banyak disadari, di lahan sawah seluas 7,4 juta hektare saat ini telah berkompetisi aneka tanaman pangan. Yang paling utama tentu padi, jagung, kedelai, dan tebu. Kala suatu tanaman diperluas–karena ditargetkan untuk swasembada—harus mengorbankan luasan lahan tanaman lainnya.

Misalnya, ketika produksi kedelai dipacu, terpaksa harus mengorbankan lahan untuk padi, jagung atau tebu. Begitu seterusnya. Tak salah jika ada yang mengatakan ini ibarat orang memakai sarung kependekan atau cekak. Menutup dada kelihatan lutut, menutup lutut kelihatan dada. Serba salah. Ada yang menyebut ini Teori Sarung. Inilah yang terjadi pada pertanian Indonesia hari-hari ini.

Memang ada lahan-lahan suboptimal, seperti lahan kering, rawa pasang surut, rawa lebak atau lahan gambut. Masalahnya, pelbagai program, termasuk riset, at all cost dikembangkan untuk lahan-lahan yang baik.

Adalah benar ada program, penelitian, dan inovasi pemanfaatan lahan-lahan suboptimal itu tetapi jumlahnya jauh dari memadai apabila dibandingkan dengan riset serupa di lahan-lahan subur. Padahal inilah sebagian harapan yang tersisa. Tanah harapan yang menjanjikan kehidupan di masa depan.

Di hari-hari mendatang, pertanian Indonesia musti terus memacu diri ke arah teknologi hemat lahan dan hemat input guna memproduksi lebih banyak, lebih baik, lebih berkualitas, dan lebih menguntungkan.

Teknologi biologis dan rekayasa genetika guna meracik varietas andalan jadi pilihan. Pertanian presisi, teknologi aeroponik, hidroponik, dan pertanian vertikal jadi alternatif yang diupayakan.

Peningkatan indeks pertanaman, tumpang sari, integrasi tanaman-peternakan, pemanfaatan pekarangan, lahan telantar, dan pertanian keluarga juga memberi harapan baru. Masih terbentang sekian opsi lain.

Termasuk potensi yang belum dioptimalkan adalah memanfaatkan sumberdaya laut dan perikanan yang luar biasa besar. Berpuluh tahun potensi laut hanya jadi catatan statistik, tak pernah benar-benar menjadi sumberdaya riil.

Akibatnya, sumber daya laut justru dieksploitasi pihak asing lewat pencurian. Inilah saatnya menempatkan pertanian, dalam arti luas, di posisi terhormat. Inilah saatnya memuliakan petani, memastikan kesejahteraan dan kehidupannya lebih baik.

Bukan seperti selama ini: ditulis manis di pelbagai aturan, berbusa-busa dipidatokan tapi riil ditaruh di belakang dan ditinggalkan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia