OPINI: Di Balik Keketatan Program Studi

Th. Agung M. Harsiwi, Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Ingar bingar masa penerimaan mahasiswa baru sudah selesai, segera berganti dengan hari-hari pertama bagi mahasiswa baru di banyak kampus. Segala jerih payah dan ketegangan belajar menyiapkan berbagai macam tes di perguruan tinggi sudah berakhir. Meskipun pandemi belum berakhir, tetapi proses mencari tempat belajar di kampus menyelipkan harapan untuk tetap survive menyongsong karier di masa depan. 

Beberapa kampus besar telah merilis tingkat keketatan program studi. Ada hal menarik untuk dicermati. Selain program studi dengan tingkat keketatan tinggi yang dikenal masyarakat, seperti Kedokteran, Teknologi Informasi, Kedokteran Gigi, Teknik Industri untuk Saintek, atau Ilmu Komunikasi, Manajemen, Ilmu Hubungan Internasional untuk Soshum, muncul pula program studi dengan nama relatif baru, namun tingkat keketatannya meningkat tajam.

Sebut saja, Gizi Kesehatan, Manajemen Informasi Kesehatan, Manajemen dan Kebijakan Publik, Prodi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi, Manajemen dan Penilaian Properti, Akuntansi Sektor Publik, Pembangunan Ekonomi Kewilayahan, dan Bisnis Perjalanan Wisata. Sungguh-sungguh program studi dengan bidang yang spesifik, bahkan berkolaborasi dengan ilmu lain sehingga menjadi lebih aplikatif. Adakah yang sedang berubah?

Keketatan dan Preferensi Peminat

Apa itu keketatan program studi? Keketatan selalu dikaitkan dengan daya tampung suatu program studi dan jumlah peminat pada program studi tersebut. Sebagai contoh, daya tampung program studi X adalah 50 kursi dengan jumlah peminat mencapai 1.000 orang, maka tingkat keketatan sebesar 50:1.000 atau 5%. Artinya 1 calon mahasiswa harus mengalahkan 20 orang lainnya. Menarik mencermati keketatan program studi karena setiap tahun selalu berubah sesuai dengan jumlah peminat untuk program studi itu, meskipun daya tampung relatif tidak banyak berubah.

Program studi dengan keketatan yang tinggi menunjukkan tingginya minat calon mahasiswa pada program studi tersebut. Siapa calon mahasiswa itulah yang harus dicermati terlebih lanjut karena saat ini manusia pembelajar didominasi oleh generasi Z yang mempunyai karakter berbeda dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Jenkins (2017) menyatakan generasi Z memiliki harapan, preferensi, dan perspektif kerja yang berbeda, cenderung lebih beragam dan memberi pengaruh pada budaya dan sikap masyarakat pada umumnya.

Keunikan lain dari generasi Z ini adalah sangat melek terhadap teknologi informasi karena generasi ini lahir tahun 1997 sampai 2012  pada saat dunia internet berkembang pesat. Sebagai akibatnya, generasi Z menjadikan teknologi informasi sebagai bagian dari kehidupannya. Kebiasaan menggunakan media sosial menjadi jembatan generasi Z dalam mengakses berbagai informasi, sehingga generasi Z mempunyai keterbukaan dalam menerima berbagai pandangan yang berbeda, termasuk pandangan global.

Maka dari itu, tidak mengherankan jika terjadi pergeseran minat terhadap suatu bidang ilmu terjadi pada generasi Z ini. Dalam beberapa tahun terakhir ini preferensi terhadap bidang ilmu dengan kekhasan tertentu karena sangat aplikatif di dunia karier meningkat dengan tajam. Hal ini sejalan dengan karakter generasi Z yang sangat realistis dalam memandang disrupsi kehidupan manusia akhir-akhir ini. Generasi Z dinilai menyukai hal-hal baru yang menantang dan semakin kritis dalam menentukan preferensi bidang ilmu. Secara umum bidang ilmu yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan era post modern menjadi program studi yang diminati karena lebih kekinian sesuai perkembangan zaman.

Di satu sisi, preferensi dari generasi Z ini harus menjadi ‘wake up call’ bagi dunia pendidikan tinggi. Cepat atau lambat preferensi calon mahasiswa telah mempengaruhi tingkat keketatan program studi di dunia kampus. Umumnya generasi Z dengan literasi yang memadai hanya akan memilih bidang ilmu yang mendukung kariernya di masa depan.  Bagaimana nasib program studi yang classical dan generalis yang belum mampu menunjukkan keunikan dari bidang ilmunya? 

Inilah saatnya berubah. Bagaimana dunia pendidikan tinggi mampu menciptakan program studi yang mempunyai keunggulan bersaing (competitive advantage). Porter (1985) menegaskan keunggulan bersaing sebagai kemampuan yang diperoleh melalui karakteristik dan sumber daya suatu organisasi untuk memiliki kinerja yang lebih tinggi dibandingkan organisasi lain pada industri yang sama. Kinerja lebih tinggi itu diwujudkan dalam bentuk membangun kekhasan program studi, misalnya dengan membangun kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang dibutuhkan calon mahasiswa dan menjawab tantangan ke depan. 

Saat orientasi calon mahasiswa berubah, ini pertanda dunia pendidikan tinggi juga harus berubah. Mendesain kurikulum kontemporer yang jauh lebih menarik bagi generasi Z. Ide kampus merdeka menjadi awal dari adopsi kepentingan generasi Z yang sangat fleksibel dan sangat ingin tahu terhadap banyak hal

Apa yang dilakukan dunia perguruan tinggi dengan mendesain kurikulumnya adalah adaptasi atas perubahan zaman yang selalu bergerak sesuai kebutuhan peradaban manusia. Sebagai contoh, perkembangan bidang-bidang kontemporer seperti manajemen keberlanjutan, manajemen inovasi, manajemen informasi, bisnis internasional, dan kewirausahaan. Masyarakat masih menyambut baik perkembangan bidang ilmu ini, maka sangat dipahami jika minat generasi Z terhadap bidang ilmu yang khas dan aplikatif akan bertumbuh pesat di Indonesia. 

Catatan Penutup

Keketatan program studi terjadi sebagai cerminan dari preferensi generasi Z sebagai makhluk pembelajar saat ini. Keinginan untuk mendapatkan bekal bagi masa depannya tidak terlepas dari karakteristik generasi Z, apalagi didukung informasi yang mudah diakses di era Internet ini. Saatnya dunia perguruan tinggi membaca peta preferensi ini, dengan mampu menjawab kebutuhan generasi Z ini tanpa mengabaikan tuntutan dari Industri dan Dunia Kerja (IDUKA). Fakta menunjukkan pengelola dunia kampus masih didominasi oleh generasi X, yang tidak lama lagi akan bergeser pada generasi Y yang diharapkan lebih mampu memahami pergeseran preferensi generasi Z sebagai customer-nya serta sigap beradaptasi dengan perubahan itu. Kesadaran akan dunia pendidikan yang berubah ini akan menjadi kunci keberhasilan untuk survive dalam era disrupsi ini.