OPINI: Kurikulum Berdiferensiasi untuk Anak Berbakat

Ilustrasi. - Freepik

Kurikulum merupakan metode menyusun kegiatan-kegiatan belajar mengajar untuk menghasilkan perkembangan kognitif, efektif dan psikomotorik anak. Sistem layanan pendidikan yang ada dalam kurikulum bagi semua anak didik mengacu pada sistem pendidikan anak normal.

Artinya, semua anak mendapat perlakuan yang sama sehingga tujuan pembelajaran seringkali tidak tercapai karena tidak memperhatikan heterogenitas potensi anak didik. Anak- anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal apalagi yang memiliki keterbatasan fisik seringkali tertinggal mengikuti pelajaran.

Begitu juga halnya dengan anak-anak yang memiliki tingkat inteligensi di atas normal ataupun anak yang memiliki bakat khusus, mereka mendapatkan perlakuan seperti anak-anak normal. Akibatnya mereka akan merasa jenuh sehingga sering berprestasi di bawah potensinya (under achiever).

Berbeda dengan kurikulum umum yang bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak pada umumnya, maka kurikulum berdiferensiasi merupakan jawaban terhadap perbedaan-perbedan dalam minat dan kemampuan anak didik. Dengan kurikulum berdiferensiasi setiap anak memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kemampuannya tanpa harus terikat oleh satu kurikulum umum yang menyamaratakan kemampuan seluruh anak.

Kendati demikian, pada dasarnya kurikulum berdiferensiasi tetap bertitik tolak pada kurikulum umum yang menjadi dasar bagi semua anak didik. Kurikulum berdiferensiasi juga memberikan pengalaman belajar berupa dasar-dasar keterampilan, pengetahuan, pemahaman, serta pembentukan sikap dan nilai yang memungkinkan anak didik berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Istilah diferensiasi dalam pengertian kurikulum menunjuk pada kurikulum yang tidak berlaku umum, melainkan dirancang khusus untuk kebutuhan tumbuh kembang bakat tertentu. Kurikulum berdiferensiasi (differ-rentiation instruction) adalah kurikulum pembelajaran yang memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak. Walaupun model pengajaran ini memperhatikan atau berorientasi pada perbedaan-perbedaan individual anak, namun tidak berarti pengajaran harus berdasarkan prinsip satu orang guru dengan satu orang murid.

Hakekat pembelajaran berdiferensiasi yaitu penanganan anak-anak berbakat atau cerdas dengan program pengayaan dan percepatan penuh banyak memiliki kelemahan-ke-lemahan yang merugikan anak itu sendiri, maka telah dikembangkan kurikulum alternative yaitu berdiferensiasi (differentiated instruction).

Pendekatan ini menghendaki agar kebutuhan siswa berbakat dilayani di dalam kelas regular. Program ini menawarkan serangkaian pilihan belajar pada siswa berbakat dengan tujuan menggali dan mengarahkan peng-ajaran pada tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar yang berbeda-beda.

Suatu kurikulum dapat berdiferensiasi melalui materi (konten atau muatan), proses, dan produk belajar yang lebih maju dan majemuk, serta dapat dirancang dengan cara menambah hal-hal baru yang menarik dan menantang bagi anak berbakat. Misalnya dengan menambahkan muatan tugas yang dianggap menantang kemampuan yang dimiliki anak berbakat, mengubah bagian-bagian tertentu yang kurang sesuai, mengurangi kegiatan-kegiatan yang terlalu rutin.

Dalam kurikulum berdiferensiasi ini, guru menggunakan beberapa kegiatan, agar siswa dapat mengksplorasi kurikulum, melakukan berbagai kegiatan atau proses belajar sehingga siswa dapat lebih mudah menyerap informasi dan menuangkan ide atau gagasan serta dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari.

Dalam proses pembelajaran berdiferensiasi, pengajaran harus berfokus pada konsep atau pokok materi pelajaran sehingga semua siswa dapat mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar. Siswa yang agak lambat bisa memahami dan menggunakan ide-ide dari konsep-konsep yang diajarkan. Bagi para siswa berbakat memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut. Kesiapan dan perkembangan belajar siswa harus dievaluasi untuk dijadikan sebagai dasar keputusan penentuan materi serta strategi pembelajaran yang akan diterapkan.

Dalam pengajaran berdiferensiasi, siswa berbakat sering belajar dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri, belajar berpasangan maupun belajar dalam kelompok. Oleh karena itu, pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebas-an untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pembelajaran berdiferensiasimeliputi perpustakaan dan penyediaan alat pengajaran yang terdiri atas laboratorium atau workshop yang memadai, jadwal pelajaran yang fleksibel, pengembangan program independent study, pengembangan program penyuluhan dan bimbingan, dan pengembangan team teaching. Karakteristik umum kurikulum berdiferensiasi adalah pengajaran berfokus pada konsep dan prinsip pokok materi pelajaran, evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar siswa diakomodasi ke dalam kurikulum