OPINI: Menemukan Pijakan Baru Kebangkitan UMKM

Totok Budisantoso, Dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Jogja

Pada hari Senin 6 September, pemerintah secara resmi menurunkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ke level 3 untuk area Jogja. Tentu saja ini kabar positif bagi semua pihak terutama warga Jogja. Namun demikian, Presiden Jokowi masih memberikan catatan yang kiranya perlu menjadi perhatian serius.

Penurunan bukan berarti bahwa masalah telah selesai bahkan kita diminta untuk bersiap untuk jangka waktu panjang untuk berdampingan dengan pandemi ini. Dalam konteks ini dapat dimaknai bahwa eforia sesaat yang kemudian meninggalkan habitus baru untuk menerapkan protokol Kesehatan justru bisa menjadi bumerang pahit yang berdampak jauh lebih besar nantinya. Hal ini dikonfirmasi oleh para pakar endemi.  Sudah mulai banyak yang mengalkulasi sektor apasaja yang bersiap untuk membuka pintu meskipun kalau dicermati lebih lanjut, ketentuan yang ada dalam PPKM Level 4 dan Level 3 tidaklah terlalu signifikan bedanya dalam konteks penyelenggaraan kegiatan ekonomi.

Harus diakui bahwa serangan pandemi dan strategi pencegahan dengan PPKM di level apapun berdampak besar terhadap aktivitas usaha di level UMKM. Perpanjangan PPKM ini seakan lorong gelap yang belum menunjukkan titik terang akhir. Meskipun belum diakhiri, penurunan level sudah menjadi berita baik yang menjadi angin segar untuk mulai mengatur strategi. Dibutuhkan langkah tepat yang harus  dilakukan dalam situasi dinamis yang sangat mungkin berubah dengan cepat.

Hari Senin kemarin 6 September 2021 atau Senen Kliwon, tahun jawa  1955, Paguyuban Lar Gangsir menggelar acara Hamasuh Tosan Aji -Landheping Pusaka Ambuka Jatidiri. Tag line acara yang sangat menarik untuk dikulik. Hamasuh atau lebih banyak dikenal dengan istilah jamasan pada dasarnya adalah ritual untuk pelakukan pencucian benda-benda pusaka. Tradisi ini bermakna tidak hanya sekadar membersihkan secara fisik namun terlebih adalah membersihkan batin yang esensinya adalah rasa dan pikir. Rangkaian sesajian yang beraneka ragam memberikan makna yang spesifik dan  menjadi kelengkapan tradisi jamasan yang dilakukan.

Semua menjadi pernak pernik yang padu padan mendukung ke tujuan utama ritual yang dilakukan. Sebut saja menyan, jadah, krupuk, ingkung, tumpeng, peyek, gudhangan, jenang baro-baro, gedhang raja dan kembang setaman serta puluhan jenis lainnya yang ditata rapi.

Kelengkapan dan tatanan ini merupakan wujud niat, kesiapan dan kesediaan untuk membasuh, mencuci dan memperbaharui diri dan batin dan sumarah pada yang Maha Kuasa. Secara ringkas, hamasuh diri ini merupakan langkah untuk kembali ke khitah secara titah ciptaan yang semata-mata berserah dan membulatkan tekat untuk memperbaharui semangat  menghadapi apapun masalah yang dihadapi.

Rasa dan pikir menjadi landep karena telah dicuci dan diasah untuk menemukan arah dan tujuan yang tadinya banyak ditutupi dengan berbagai kotoran yang mengendap. Tajam rasa dan pikir adalah kunci dan pondasi dalam bertindak.

Apa makna yang dapat dipetik dari serangkaian tradisi yang coba diuri-uri  dengan sepenuh hati ini? Saat hamasuh pada dasarnya adalah kesempatan untuk merefleksikan perjalanan yang sudah ditempuh hingga saat ini serta membulatkan tekat dengan semangat yang baru untuk menatap masa depan. Perjalanan setahun diwarnai dengan mengerahkan segala daya upaya untuk bertahan.

Dalam upaya bertahan tersebut, wajar ketika muncul dinamika yang  mengarahkan pada hal-hal yang kurang produktif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Wajar juga ketika pertama kali menghadapi pandemi, reaksi yang muncul adalah kepanikan. Wujud dari kepanikan adalah pembuatan keputusan yang dilakukan dengan cepat dan bisa jadi keputusan yang diwarnai putus asa dan akhirnya salah. Kesalahan itu mendorong untuk munculnya energi menyalahkan pihak lain dan lebih fokus pada hal-hal yang memang sebenarnya berada di luar kendali.

Korban Situasi

Tindakan menyalahkan muncul karena merasa diri sebagai korban situasi meskipun ketika melihat fakta di luar diri, situasi yang dialami bukanlah hal yang hanya menimpa diri sendiri namun dialami oleh semua orang. Namun energi negatif yang lebih menguasai sehingga tidak ada energi untuk keluar dari lingkaran masalah yang dihadapi. Semua pihak ditempatkan pada posisi salah.

Dalam konteks pengelolaan entitas usaha, dibutuhkan upaya turn around yang berupa langkah radikal untuk  mengatur ulang semua energi dan menentukan arah baru. Turn around strategy adalah strategi untuk membalikkan kondisi tertekan menuju pemulihan dan mencapai masa depan yang berkelanjutan. Berbagai entitas usaha ternasuk UMKM yang masuk dalam fase krisis  karena tekanan pandemi membutuhkan tindakan drastis dan bila diperlukan restrukturisasi untuk menghasilkan perubahan haluan. 

Tentu saja tidak mudah untuk menerapkan strategi ini, Terlepas dari semua agenda yang harus dilakukan, langkah pertama adalah mengubah paradigma. Mengubah paradigma yang harus dilakukan ini adalah membuang sisi takut dalam diri (fear zone) dan melangkah ke kesediaan untuk belajar dan selanjutnya bertumbuh  (learning and growth zone). Ciri utama dalam sona belajar ini adalah tidak lagi menyalahkan pihak lain namun fokus pada peluang yang muncul serta meninggalkan hal-hal yang memang tidak bisa dikendalikan. Pandemi jelas hal yang berada di luar cakupan kita untuk mengontrolnya. Namun pandemi juga menciptakan peluangnya sendiri dan itu yang harus dicermati.

Itulah esensi utama keluar dari tekanan krisis sebagai dampak dari pandemi yang melanda. Kita harus mengubah paradigma. Harus keluar dari sona nyaman yang bisa jadi berada dalam sona ketakutan dan siap untuk masuk di area siap belajar dan berkembang. Tradisi adiluhung membasuh pusaka memberi pelajaran sederhana, mari kita cuci pikir dan rasa kita dan mencicip paradigma baru: siap belajar, bertumbuh dan memanfaatkan peluang yang ada. Siap dan beranikah anda untuk hamasuh diri?