OPINI: Strategi Suksesi Bisnis Keluarga

Mahestu N Krisjanti, Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) di Indonesia telah terbukti mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi nasional. Sebesar 97% dari total tenaga kerja nasional terserap di UMKM. Dengan demikian, hanya 3% saja tenaga kerja Indonesia yang terserap di usaha skala besar. Selain kontribusi pada penyerapan tenaga kerja kontribusi UMKM pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pun sangat signikan, yaitu lebih dari 60%. Sehingga, tidaklah mengherankan kalau kemudian pemerintah memberikan perhatian lebih pada UMKM.

Data menunjukkan bahwa banyak UMKM di Indonesia merupakan bisnis keluarga, dimana dimiliki dan dikelola oleh orang-orang yang masih dalam satu keluarga. Pengelolaan bisnis oleh orang-orang yang terikat dalam hubungan darah, sangatlah tidak mudah. Konflik keluarga di dalam pengelolaan bisnis sangat sering terjadi, karena kepentingan-kepentingan yang berbeda. Bahkan banyak yang meyakini, berbisnis bersama anggota keluarga, hanya akan menyebabkan ketidakprofesionalan dan berakhir dengan kegagalan.

Budaya ewuh pekewuh atau budaya tidak enak hati adalah awal dari permasalahan dalam pengelolaan bisnis keluarga. Misalnya, tidak enak hati menegur anggota keluarga yang tidak mejalankan tanggung jawab dengan baik, atau tidak enak hati memberikan sanksi pada anggota keluarga yang menyalahgunakan kewenangannya dalam menjalankan bisnis.

Permasalahan-permasalahan akan mulai muncul ketika bisnis keluarga ini diturunkan ke generasi berikutnya dan mulai dikelola oleh para ahli waris. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa banyak perusahaan keluarga yang gagal bertahan ketika dikelola oleh generasi ketiga, yang notabene level cucu. Ketika ahli waris sudah semakin banyak, maka muncul potensi persaingan pengelolaan bisnis di antara ahli waris. Dalam banyak kasus, ketika ahli waris tidak mencapai kata sepakat dalam pengelolan, maka pemecahan bisnis menjadi satu solusi terakhir.

Konsekuensi dari pemecahan tersebut adalah persaingan di antara bisnis-bisnis pecahan atau dengan kata lain munculnya persaingan antar keluarga. Permasalahan ini semakin besar jika bisnis pecahan tersebut masih bermain dalam segmen pasar yang sama, dengan pola manajemen yang sama dan dengan supplier yang sama. Serasa head-to-head competition yang bukan tidak mungkin mereka akan sibuk bersaing dengan bisnis pecahan-pecahan dalam keluarga, dan melupakan persaingan pasar yang sesungguhnya. Dengan demikian, mereka pasti akan tertinggal jauh dengan pemain bisnis lain dalam industri yang sama.

Dalam bisnis keluarga, sangat potensial muncul masalah yang tidak kalah peliknya, yaitu ahli waris tidak tertarik untuk meneruskan bisnis yang sudah dibangun oleh orang tua ataupun kakek neneknya. Beberapa kasus mengindikasikan bahwa ahli waris merasa gengsi untuk meneruskan bisnis keluarga, karena takut dianggap tidak memulai dari nol.

Selain itu, banyak ahli waris yang tidak tertarik dengan bisnis yang sudah dikembangkan oleh orang tuanya, mereka mempunyai kesukaan pada tipe dan jenis bisnis yang berbeda. Namun demikian, untuk menghindari masalah ini, para pelaku bisnis sudah mempunyai formulasi solusinya, yaitu dengan membangun sense-of-belonging para ahli waris. Cara yang dilakukan cukup sederhana, yaitu dengan melibatkan anak-anak mereka dalam bisnis keluarga sejak anak-anak tersebut masih sangat mudah. Keterlibatan mereka sejak usia dini ternyata bisa menumbuhkan rasa memiliki bisnis tersebut. Dengan demikian, bisa diharapkan suatu ketika nanti mereka akan siap mengambil alih pengelolaan bisnis keluarga.

Dari beberapa kesempatan berdiskusi dengan pelaku-pelaku bisnis keluarga, yang sebagian adalah generasi kedua dan ketiga, bisa dipetakan beberapa strategi untuk mempertahankan bisnis keluarga tanpa perlu melakukan pemecahan bisnis. Strategi yang pertama, menanamkan pemahaman bahwa bisnis keluarga bukan bisnis pribadi atau personal, sehingga kotribusi atau keterlibatan dalam pengelolaan bisnis keluarga akan berbasis pada penggajian, bukan secara penuh berdasar profitabilitas.

Dengan demikian, keluarga yang terlibat akan diberikan gaji atau upah sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, dan tentunya anggota keluarga yang tidak terlibat dalam pengelolaan perusahaan tidak akan mendapatkan gaji dari bisnis keluarga tersebut.

Keuntungan perusahaan akan dibagi secara proporsional untuk seluruh anggota keluarga. Pendekatan ini dianggap cukup adil dan bisa menghindari permasalahan dalam keluarga yang biasanya akan berakhir dengan pemecahan bisnis keluarga.

 

Strategi Kedua

Namun demikian satu strategi ini, tidak akan cukup ampuh untuk mempertahankan bisnis keluarga. Untuk penguatannya, masih perlu didukung dengan strategi kedua, yaitu pembagian spesialisasi terutama dalam pasokan material dan distribusi produk akhir. Strategi ini dianggap mampu untuk membangun harga diri para ahli waris yang gengsi kalau hanya sekadar meneruskan bisnis orang tua.

Pada beberapa beberapa bisnis keluarga, spesialisasi bisnis mulai dilakukan di generasi kedua. Salah satu bisnis keluarga yang bergerak di kuliner berbahan dasar ayam, menceritakan mengenai spesialisasi ini. Pada saat orang tua menyerahkan pengelolaan bisnis pada anak pertama, mulailah dibangun rantai pasokan dalam ikatan keluarga. Beberapa bahan mentah yang sebelumnya dibeli dari pemasok luar, pelan-pelan mulai diatur dengan strategi backward integration yang dikelola secara mandiri, tetapi tetap dalam satu payung bisnis.

Ketika si anak pertama mengelola bisnis utma, maka anak kedua dan seterusnya, diberikan peluang untuk mendirikan usaha yang bisa memasok bisnis utama. Misalnya, memasok ayam, beras, bumbu dan sebaganya. Perputaran uang ada terjadi di antara bisnis keluarga ini. Namun demikian, bisnis-bisnis pemasok tidak dimiliki oleh keluarga besar, melainkan dimiliki secara personal, dimana profit juga tidak dibagikan ke keluarga besar.

Hanya bisnis utama saja yang profitnya dibagikan ke semua ahli waris. Semua anak ataupun cucu diberikan peluang untuk mendirikan perusahaan yang akan memasok bisnis utama.

Pendekatan ini menjadi sangat ideal. Bisnis utama tetap utuh menjadi satu kesatuan, dan akan memberikan keuntungan yang besar untuk kemudian dibagikan ke seluruh ahli waris. Pada saat yang bersamaan, ahli waris diberikan peluang untuk mendirikan perusahaan secara mandiri, untuk memasok dan mendukung bisnis utama. Dengan demikian, hal ini bisa mendukung keinginan anggota keluarga untuk mendirikan bisnis secara mandiri, sekaligus pembuktian kinerja dan harga diri.

Penggabungan dua strategi ini, sangat disarankan untuk dipertimbangkan oleh para pelaku bisnis keluarga. Bisnis utama semakin berkembang dan anggota keluarga diberikan kesempatan untuk mendirikan bisnis mandiri terutama untuk memasok bisnis utama. Dengan demikian seluruh anggota keluarga akan merasa terdukung dan saling mendukung.