OPINI: Pemuda dalam Belenggu Era Digital  

Yulianti, Statistisi Ahli BPS Kulonprogo
30 Oktober 2021 06:07 WIB Yulianti, Statistisi Ahli BPS Kulonprogo Aspirasi Share :

“Beri aku seribu orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncang dunia.” Sebuah kalimat yang dipekikkan oleh proklamator bangsa mampu menggugah semangat, menggetarkan jiwa patriotisme para pemuda untuk bangkit, bersatu membela tanah air. Sepanjang sejarah bangsa, gerakan pemuda selalu menjadi pelopor setiap aksi perjuangan. Oleh karenanya elemen pemuda juga merupakan sumber kekuatan dalam menggerakkan roda pembangunan.

Pemuda menurut Undang-Undang No.40/2009 adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Mengacu definisi tersebut maka golongan pemuda merupakan gabungan antara sebagian generasi Z dan sebagian generasi milenial. Hasil Sensus Penduduk 2020 yang dirilis BPS mengklasifikasikan penduduk Indonesia menurut generasi, kelompok umur dan jenis kelamin. Sumber pengklasifikasian menurut generasi merujuk teori William H Frey seorang ahli demografi yang membagi komposisi penduduk kedalam enam generasi. Dua di antaranya adalah generasi yang mendominasi penduduk Indonesia saat ini yakni generasi Z sebesar 27,94% dari 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia atau sebesar 74,93 juta jiwa dan generasi Y (dikenal dengan generasi milenial) sebesar 25,87% atau 69,38 juta jiwa.

Berdasar hasil Sensus Penduduk 2020, generasi Z lahir pada rentang waktu 1997-2012, artinya usia mereka saat sensus berlangsung adalah 8-23 tahun. Generasi ini lahir dan dibesarkan di tengah melesatnya perkembangan teknologi digital. Sejak usia dini mereka telah beradaptasi dengan dunia digital, fasih dalam mengakses internet serta terampil dalam mengoperasikan perangkat digital. Sementara generasi Milenial lahir dalam rentang waktu 1981-1996, dengan perkiraan usia saat sensus berlangsung adalah 24-39 tahun. Sebagai generasi yang berada pada masa peralihan, kaum milenial mengalami fase pendidikan konvensional pada usia dini kemudian harus beradaptasi dengan teknologi digital ditengah perjalanan hidupnya karena tuntutan dunia pendidikan maupun dunia kerja.

Membangun generasi muda yang berkualitas dan berkepribadian tangguh bukan perkara mudah. Tantangan era digital kian nyata dan semakin kompleks. Dunia digital yang sudah merasuk ke setiap aspek kehidupan manusia tanpa disadari turut membentuk karakter pemuda bangsa. Karakter pemuda sekarang cenderung lebih mementingkan hasil dibanding proses. Proses yang panjang dipandang sebagai sesuatu yang menjenuhkan.  Mereka mengiginkan mendapatkan segala sesuatunya dengan cepat (instan). Hal ini mengakibatkan semua informasi yang diterima langsung ditelan mentah-mentah tanpa difilter sebelumnya.

Studi Istiana (2016) menyebutkan, suka berkolaborasi adalah karakter yang menonjol dari generasi sekarang sehingga mereka menyukai kerja tim serta memiliki kemampuan multitasking. Dari semua karakter yang telah disebutkan, beberapa dipandang membawa manfaat dan bisa menjadi modal pembangunan. Namun beberapa karakter justru berpotensi sebagai ancaman ke depan.

Masa pandemi Covid-19 yang terus berkepanjangan hingga sekarang layaknya katalisator pada pemanfaatan teknologi digital di Indonesia. Berbagai kebijakan pemerintah yang diberlakukan untuk membatasi pergerakan masyarakat berdampak pada tingginya akses Internet dan aktivitas dunia maya. Bersumber data Kementerian Komunikasi dan Informasi, penetrasi internet berkembang pesat selama tahun 2020 sebesar 53,73%. Naik 6,04% dari tahun 2019 yang sebesar 47,69%.

Sementara data BPS menunjukkan angka Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) tahun 2020 turut naik menjadi 5,59 dari tahun sebelumnya yang tercatat 5,32. Kenaikan ini dipicu faktor pandemi yang mengharuskan masyarakat mengurangi kontak fisik dan mengalihkan aktivitasnya secara daring melalui platform-platform digital. Sisi positifnya masyarakat lebih melek teknologi. Di sisi lain peningkatan arus konten digital semakin massive baik berupa teks, gambar, infografis, foto dan video telah menjadi konsumsi publik yang sangat diminati kawula muda bahkan anak-anak sekalipun.

Dampak buruknya tindak pornoaksi, pornografi, hoaks, ujaran kebencian, konten radikal, bahkan kejahatan daring hingga kasus narkoba semakin hari kian memprihatinkan. Hal ini sebagai alarm untuk selalu berhati-hati dan selektif dalam memilah dan memanfaatkan informasi, karena jika tidak derasnya arus informasi-komunikasi di era digital ibarat candu yang bisa menjerumuskan generasi bangsa ke depannya.

 

Langkah Antisipasi

Teknologi digital sudah menjadi suatu kebutuhan hidup. Kita tidak bisa mengendalikan pesat laju teknologi. Namun kita harus mampu mengantisipasi pengaruh buruk kencangnya arus informasi-komunikasi. Beberapa langkah antisipasi yang bisa diupayakan, yaitu: pertama, mengoptimalkan fungsi keluarga dalam pola mendidik anak. Keluarga memegang peran penting dalam membentuk generasi berkualitas. Orang tua sebagai role model sekaligus madrasah pertama bagi anak. Di tengah kesibukan orang tua, penting meluangkan sebagian waktu untuk mendampingi anak, menjadi pendengar yang baik dari cerita dan segala keluh kesahnya. Komunikasi dan interaksi yang sehat antara orang tua dan anak dapat menghindarkan generasi kita dari menjadikan Internet dan dunia maya sebagai tempat pelarian yang dianggap sebagai solusi dari beragam masalah.

Upaya ini akan meminimalkan pengaruh buruk sampah informasi yang saat ini marak beredar di Internet. Upaya kedua, dengan mengajarkan serta memberi pemahaman agama yang baik dan benar pada anak sejak usia dini. Landasan agama yang kuat dapat membentengi generasi kita dari perilaku keji dan munkar termasuk bahaya konten-konten digital yang bersifat merusak. Ketiga, dengan menggeliatkan kembali aktivitas organisasi masyarakat yang bergerak di bidang kepemudaan seperti karang taruna dan sejenisnya. Tujuannya, menggali potensi pemuda agar aktif berkarya dan mampu memberi kontribusi nyata pada masyarakat dan lingkungan sekitar. Sehingga pemuda tidak hanya menghabiskan sepanjang waktunya hanya untuk bermain internet maupun berselancar di dunia maya tanpa tujuan jelas. Upaya ini bisa terwujud jika ada dukungan kuat dari pemerintah setempat dan masyarakat.

Peringatan Sumpah Pemuda ke-93 sebagai momentum untuk membangkitkan kembali semangat dan jiwa patriotisme pemuda membela tanah air meski dalam konteks dan kondisi yang berbeda. Jika dulu, perjuangan dilakukan secara fisik mengangkat senjata melawan penjajah. Maka perjuangan era digital cenderung secara mental untuk mengendalikan diri, menjaga dan meluruskan pola pikir agar tidak terpengaruh apalagi sampai terprovokasi oleh maraknya berita hoaks juga konten-konten digital yang destruktif.

Pemuda adalah generasi yang akan meneruskan roda pembangunan juga pemegang estafet kepemimpinan di masa depan. Sehingga kemampuan pemuda harus benar-benar dipersiapkan dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan, skill dan ketrampilan serta tak kalah penting pemahaman agama yang benar. Karena di pundak pemuda masa depan bangsa akan ditentukan.