OPINI: Bagaimana Ikan Introduksi Menjadi Berbahaya bagi Keseimbangan Ekosistem?

Donan Satria Yudha, Mahasiswa Program Doktor, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada

"Apakah ikan introduksi berbahaya bagi manusia dan lingkungan? Apakah masyarakat Indonesia dan instansi terkait sudah memahami persoalan ini dengan benar?"

Tulisan ini, merupakan opini penulis, mengacu pada artikel oleh penulis yang sama berjudul Introduksi Ikan Perairan Darat: Efek bagi Lingkungan dan Manusia yang dimuat di situs Berita Alam, Volume 1, Edisi 2, Juli 2020, Hal. 15-18, terbitan Yayasan Wahana Gerakan Lestari (Wagleri). Artikel tersebut menjelaskan dengan cukup terperinci mengenai pengertian introduksi, beberapa jenis ikan alami dan introduksi di Indonesia, serta dampak negatif ikan introduksi bagi ekosistem.

Selain itu, opini penulis juga mengacu pada berita daring yang berjudul Red Devil Turunkan Populasi Ikan Lokal di Waduk Sermo, dari laman harianjogja.com (21 Juni 2019).

Dalam artikel tersebut, ikan red devil adalah salah satu contoh jenis ikan introduksi yang banyak dijumpai di perairan DIY, terutama di Waduk Sermo. Tetapi tidak dijelaskan bagaimana ikan introduksi tersebut dapat menyebabkan penurunan populasi ikan lokal, sehingga masyarakat banyak yang belum memahami mengenai potensi bahaya seperti apa yang dapat dilakukan oleh ikan introduksi.

Lalu, benarkah ikan introduksi dapat berbahaya bagi manusia dan lingkungan? Jawabannya adalah “ya". Mengapa? Karena keberadaan ikan introduksi dapat mengubah ekosistem.

Bagaimana hal itu terjadi? Ilustrasi sederhana berikut ini diharapkan memudahkan pemahaman. Tersebutlah ekosistem perairan X, habitat asli ikan jenis A dan B. Kedua jenis ikan memiliki pola konsumsi yang berbeda dan erat kaitannya dengan rantai makanan alami di ekosistem tersebut. Ikan jenis A memakan ganggang (alga) dan ikan jenis B memakan udang dan kepiting. Adapun udang dan kepiting di perairan X memakan telur dan larva ikan jenis A dan B.

Eksistensi ikan jenis A yang memakan alga, menjadikan perairan tetap jernih dan kaya oksigen. Seperti diketahui, alga mengeluarkan senyawa yang bersifat racun ke perairan dan alga juga memburu oksigen dalam proses kehidupannya. Keberadaan ikan jenis A dan B tersebut serta udang dan kepiting menjadikan ekosistem di perairan X menjadi seimbang.

Suatu ketika, manusia melepaskan ikan jenis C ke perairan X. Ikan jenis C yang bukan Ikan asli ekosistem perairan X ini, merupakan ikan dengan daya hidup yang tinggi, rakus, dan hampir-hampir memangsa apa saja, termasuk telur ikan, larva ikan dan larva udang maupun kepiting. Alhasil, keberadaan ikan jenis C menjadikan ikan jenis A berkurang lebih cepat, karena telur dan larvanya dimakan.

Berkurangnya ikan jenis A di perairan X menyebabkan alga tumbuh tanpa kontrol. Pesatnya populasi alga di perairan X menyebabkan ikan jenis B, udang serta kepiting asli menjadi berkurang dan bahkan hilang. Terjadilah ketidakseimbangan ekosistem di perairan X.

Hanya sampai di situ? Ternyata tidak. Dampak ketidakseimbangan ekosistem mulai dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar perairan X. Muncullah fenomena berikut: perairan menjadi keruh dan berwarna hijau; keragaman jenis ikan berkurang dan hanya didominasi oleh ikan jenis C saja. Udang dan kepiting yang jadi salah satu sumber protein alternatif bagi masyarakat sekitar perairan X populasinya turun drastis, bahkan nyaris tidak ada lagi. Sangat merugikan, bukan?

Narasi di atas, dalam kehidupan nyata terjadi di banyak ekosistem perairan di berbagai belahan Bumi. Menyebabkan kelangkaan dan bahkan kepunahan banyak spesies ikan asli yang kaya manfaat. Sekaligus kehilangan besar atas sumber ilmu pengetahuan yang luar biasa bermakna bagi kehidupan.  Jelas sudah, ikan introduksi dapat memengaruhi secara signifikan perubahan ekosistem.

 

Mengedukasi Publik

Sudah saatnya kita bahu membahu mengedukasi publik atau pihak-pihak mana pun yang belum paham, agar menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem perairan darat, baik sungai, danau, dan waduk, dengan tidak serampangan menebarkan benih maupun individu dewasa ikan introduksi.

Kemudian, jika sudah terjadi ketidakseimbangan ekosistem akibat ikan introduksi, menurut saya yang perlu dilakukan adalah membuat program bersama antara warga bantaran Sungai X, pemerintah setempat, akademisi (dosen, mahasiswa, peneliti biologi/perikanan) dan komunitas atau yayasan konservasi. Program yang dicanangkan berupa: menangkap ikan introduksi, membersihkan air sungai dari alga dan tumbuhan air lain yang muncul karena efek domino ikan introduksi, dan memasukkan kembali ikan asli dengan berkoordinasi pada ahli ikan.

Menangkap ikan introduksi tidaklah mudah, tetapi perlu dilakukan secara berkala terutama pada individu dewasa. Kegiatan menangkap ikan introduksi bisa dilakukan dengan perlombaan, dilakukan lomba menangkap ikan introduksi, misal lomba menangkap ikan red devil di sungai. Juara lomba adalah individu yang dapat menangkap hingga ikan red devil antara 5 kilogram sampai dengan 10 kilogram. Kemudian, ikan yang sudah ditangkap, tidak dilepas kembali, tetapi dilakukan kegiatan susulan berupa makan-makan bakar ikan pada sore atau malam harinya. Kegiatan lomba secara berkala, akan mampu untuk mempercepat penurunan populasi ikan introduksi tersebut.

Membersihkan air sungai dari alga juga perlu dilakukan berkala. Kegiatan pembersihan air sungai dari alga bisa dikoordinasikan dengan mahasiswa biologi/perikanan. Koordinasi kegiatan dengan mahasiswa tersebut diharapkan mampu untuk dikelola secara berkala dengan jumlah penggiat yang cukup besar, karena mahasiswa cenderung inovatif. Selain itu, kegiatan yang dikelola mahasiswa bisa menjadi program kampus, sehingga akan lebih efektif dan efisien.

Memasukkan kembali ikan asli perairan tersebut juga tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Perlu ada orang yang paham mengenai persebaran dan jenis-jenis ikan asli di wilayah tersebut dan budi daya ikan lokal/asli. Jadi perlu ada koordinasi dengan akademisi (dosen, peneliti), komunitas atau yayasan konservasi dan pembudi daya ikan maka baru dilakukan pemilihan jenis ikan asli. Setelah menerima masukan dari ahli ikan, maka kita perlu mengatur jumlah individu ikan asli yang akan ditebar.

Kita tidak menebar sembarang usia, sebaiknya ditebar banyak individu dewasa dengan jenis kelamin yang berbeda. Individu dewasa ikan asli lebih mampu untuk bersaing dengan individu ikan introduksi. Jenis kelamin berbeda dari individu dewasa akan mempercepat pertumbuhan populasi ikan asli.