OPINI: Perempuan, Kesetaraan dan Kerentanan

Titik Munawaroh, Statistisi Muda pada BPS Kota Jogja & Mahasiswa Program Doktoral, Program Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada

Suatu saat saya tidak sengaja mendengarkan lagu berbahasa Jawa. Didorong oleh rasa penasaran, saya mencari judul lagu dan penyanyi yang membawakannya. Akhirnya saya tahu bahwa lagu itu berjudul Mendung Tanpo Udan dan dinyanyikan oleh Ndarboy Genk. Sekilas tidak ada yang aneh dari lagu itu.

Lagu yang berisi lirik pasangan yang pernah bercita-cita membina rumah tangga namun pada akhirnya memutuskan hubungan karena sudah tidak sejalan. Namun ada satu bait kalimat yang sangat menggelitik nurani saya. Awak dewe tau duwe bayangan. Besok yen wes wayah omah-omahan. Aku maca koran sarungan, kowe blanja dasteran.

Terjemahan bebas bait kalimat itu adalah, kita pernah berangan-angan, nanti saat kita hidup berumah tangga, saya membaca koran dengan mengenakan sarung, sedangkan kamu (pasangan perempuan) belanja dengan mengenakan daster.

Lirik tersebut menurut saya sangat menggelitik karena sampai saat ini ternyata pembagian peran antara perempuan dan laki-laki masih sangat bias gender. 

Perempuan masih sangat identik dengan peran kerumahtanggaan. Sedangkan laki-laki dalam lagu itu digambarkan menikmati waktu luang dengan membaca koran. Tentu tidak ada yang salah dengan peran kerumahtanggaan yang identik dengan perempuan. Namun ketika dua kegiatan tersebut disejajarkan dalam konteks penggunaan waktu dan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, baru terlihat bahwa dua jenis kegiatan tersebut sangat kontras.

Dalam pandangan teori alokasi waktu, laki-laki dalam lirik lagi tersebut sedang menikmati waktu santai, dan merupakan kebalikan dari waktu bekerja. Sedangkan perempuan yang berbelanja dianggap sedang mengalokasikan waktunya untuk melakukan pekerjaan domestik. Meskipun tidak menghasilkan upah sebagai balas jasa, namun pekerjaan tersebut bisa dinilai dengan uang. Bekerja pun bisa dilihat sebagai disutility yang mengurangi tingkat kepuasan seseorang karena dengan bekerja seseorang kehilangan kesempatan untuk bersantai.  Posisi laki-laki dan perempuan dalam lagu itu itu juga menunjukkan bahwa budaya kita menempatkan laki-laki lebih superior dibandingkan wanita dalam rumah tangga. Budaya tersebut memengaruhi pola pikir dan tindakan kita sehingga secara tidak sadar menempatkan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.

Masih banyak kita temui dalam sebuah keluarga di mana seorang Ibu mengurus semua urusan rumah tangga, mulai dari memasak, membersihkan rumah, memandikan anak, mengasuh anak, serta mendampingi anak belajar seorang diri.

Sedangkan si bapak, karena merasa telah bekerja seharian, sama sekali tidak ikut berbagi peran dalam urusan kerumahtanggaan dan menganggap bahwa urusan tersebut adalah bagian dari tugas perempuan.

Memang tidak semua gambaran tersebut hadir di setiap rumah tangga. Tidak sedikit pula laki-laki yang bersedia berbagi peran dalam pekerjaan domestik dengan istrinya.

Berdasarkan data BPS, hasil Sakernas Agustus 2021 terdapat 27,20% dari total penduduk perempuan yang kegiatan utamanya adalah mengurus rumah tangga, dan 37,70% dari total penduduk perempuan yang bekerja di pasar tenaga kerja. Sedangkan untuk laki-laki terdapat 3,28% penduduk laki-laki yang kegiatan utamanya seminggu yang lalu adalah mengurus rumah tangga, dan yang bekerja sebanyak 57,36%.

Memang jika hanya dilihat dari data tersebut, terlalu prematur untuk menyatakan ada ketimpangan pembagian peran domestik dalam rumah tangga. Namun data tersebut bisa dijadikan sebuah indikasi awal bagaimana persepsi masyarakat terhadap pekerjaan mengurus rumah tangga.

Kesetaraan gender adalah isu yang sudah lama ada. Tidak sedikit upaya dilakukan perempuan untuk mendapatkan kesetaraan. Tidak sedikit pula hasil dari upaya perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan gender. Mulai dikukuhkannya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu, sampai disahkannya Undang-Undang No.12/2003 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD yang mengatur ketentuan agar partai politik peserta Pemilu memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30% di dalam mengajukan calon legislatif. Selain itu saat ini juga semakin banyak perempuan muncul dalam jajaran kementerian juga memberikan angin segar bagi perjuangan kaum perempuan.

Namun, selain perkembangan hasil perjuangan kaum perempuan, nyatanya masyarakat kita masih memperlakukan perempuan dengan tidak setara seakan-akan perlakuan tersebut adalah sesuatu yang wajar dengan berkedok pada kata “kodrat”. Contohnya tergambar dalam  lirik lagu Mendung Tanpa Udan yang menggambarkan ketidaksetaraan perempuan dalam rumah tangga khususnya dalam berbagi peran domestik.

Kerentanan

Perempuan di banyak bidang disebutkan lebih rentan dibanding laki-laki. Peran ganda perempuan merupakan salah satu sumber kerentanan perempuan. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2020 terdapat 38,77% perempuan dengan status menikah yang berperan ganda (bekerja dan juga melakukan kegiatan mengurus rumah tangga) dan memiliki anak yang masih bersekolah SD dan tercatat sekitar 28% perempuan yang bekerja dan mengurus rumah tangga, juga memiliki anak balita.

Perempuan juga rentan mengalami perlakuan kekerasan dalam rumah tangga, serta rawan mengalami pelecehan seksual seperti berita terakhir yang mengabarkan tentang pemerkosaan belasan santri di sebuah pondok pesantren. Tidak dipungkiri perempuan memang lebih rentan dibandingkan laki-laki.

Dalam pasar tenaga kerja, perempuan lebih rentan dalam berbagai aspek. Perempuan memiliki rata-rata tingkat upah yang lebih rendah daripada laki-laki. Rata-rata tingkat upah perempuan pada Agustus 2021 adalah sebesar 2,13 juta rupah per bulan lebih sedikit dibanding rata-rata upah laki-laki sebesar 2,59 juta rupiah per bulan. Upah yang lebih rendah menunjukkan kerentanan dari sisi ekonomi yang lebih tinggi bagi perempuan.

Terkait kerentanan dari sisi ekonomi, perempuan disebut lebih rentan terancam kemiskinan dibanding laki-laki. Pada 2021, BPS mencatat sebanyak 10,37% perempuan hidup dalam kemiskinan lebih banyak dibandingkan laki-laki yang hidup di bawah garis kemiskinan (9,92%).  Beban ganda perempuan juga disebut memicu kerentanan perempuan dalam kemiskinan.

Kesehatan Mental

Pembagian peran dalam rumah tangga sangat menentukan apa yg saat ini sedang ramai dibicarakan yaitu kesehatan mental. Perempuan seringkali menghadapi banyak faktor pemicu masalah kesehatan mental. Dalam ranah domestik, perempuan lebih banyak terlibat dalam pengasuhan anak dibandingkan pria. Begitu pula dengan peran perempuan yang sering mengambil tanggung jawab jika ada keluarga yang mengalami kecacatan atau lanjut usia. Akibatnya, perempuan menjadi tidak punya waktu luang dan lebih banyak bertugas dalam urusan domestik berpeluang mengalami kesehatan mental yang buruk.

Peran ganda perempuan yang menimbulkan kerentanan pada perempuan juga menyebabkan semakin buruknya kesehatan mental perempuan.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan masalah kesehatan mental utama dari orang dewasa adalah depresi, sindrom otak organik dan demensia dan mayoritas terjadi pada perempuan.

Solusi Cerdas

Desember adalah bulan yang identik dengan bulan milik kaum Ibu, karena pada bulan ini setiap pada tanggal 22 diperingati sebagai Hari Ibu. Peringatan tersebut bisa dijadikan sebagai momentum untuk memberdayakan perempuan sehingga perempuan tidak lagi menjadi kelompok marginal yang rentan dengan segala macam gangguan. Rentan terhadap perlakuan yang bias gender, rentan terhadap pelecehan seksual, rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga, rentan gangguan kesehatan mental dan juga rentan terhadap kemiskinan.

Pendidikan baik formal maupun nonformal diketahui akan meningkatkan pengetahuan. Dengan tingkat pendidikan yang baik, maka perempuan akan memiliki nilai tawar (bargaining position) yang cukup, baik dalam rumah tangga, maupun komunitas. Dengan pendidikan yang cukup, perempuan mempunyai peluang yang lebih tinggi untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dalam pasar kerja. Pada gilirannya akan memengaruhi tingkat upah/pendapatan yang diperoleh perempuan. Demikian pula, maka kerentanan dalam kemiskinan juga akan berkurang.

Pendidikan yang baik juga bisa memberikan bekal kepada perempuan untuk melindungi diri dari hal-hal buruk di sekitarnya misalnya kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga. Setidaknya perempuan akan mampu bersuara dan bertindak saat hal buruk tersebut datang. Meskipun pendidikan adalah solusi, namun dibutuhkan peranan dari berbagai pihak untuk menurunkan tingkat kerentanan pada perempuan. Setidaknya dalam perspektif rumah tangga, pembagian peran domestik yang berimbang bisa menjauhkan perempuan dari kerentanan dari buruknya kesehatan mental.

Selanjutnya, yang tidak kalah penting adalah dengan pendidikan, wawasan menjadi lebih terbuka baik bagi perempuan maupun laki-laki. Keterbukaan informasi menjadi sebuah modal untuk menjalin komunikasi antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal, termasuk dalam berbagi peran domestik dalam rumah tangga. Akhirnya peranan laki-laki dalam upaya mengurangi kerentanan pada perempuan sangat dinantikan.