Advertisement

OPINI: Antisipasi Boros Pangan pada Ramadan

Jojo, Pegiat Pangan CARE & Staf Pengajar STIESA Subang
Selasa, 12 April 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Antisipasi Boros Pangan pada Ramadan

Advertisement

Ramadan tahun ini merupakan kali ketiga menjalani ibadah di tengah pandemi. Pada kondisi ini, pola konsumsi masyarakat berubah karena berbagai faktor.

Misalnya, pada puasa 2020 dan 2021 lalu, mudik Lebaran secara resmi dilarang. Pos pengeluaran kemudian dialihkan. Sisi lain, pengeluaran untuk konsumsi pangan jadi meningkat. Bagi sebagian orang, pos pengeluaran makanan dan minuman ini menjadi pengeluaran terbesar.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Ramadan harusnya menjadi momentum untuk menahan hawa nafsu dan pengendalian diri. Namun pada praktiknya mengendalikan nafsu konsumerisme lebih sulit bukan saat berpuasa, melainkan saat jelang berbuka.

Secara teori, kebutuhan pangan selama puasa lebih sedikit dibandingkan dengan bulan lainnya. Pola makan mereka biasa tiga kali sehari berubah ke dua kali. Alih-alih berkurang, tetapi faktanya tidak demikian. Hasil kajian Habriyanto (2019) menemukan hal sebaliknya. Perbandingan pengeluaran konsumsi makan dan minum dihitung per-hari sebelum dan pada saat Ramadan justru naik sekitar 41%—50%.

Menjadi hal lumrah di masyarakat, peningkatan konsumsi untuk berbuka puasa menunya lebih variatif dan kualitas terbaik daripada bulan lainnya. Sebagian orang justru mengonsumsi lebih banyak makanan pada bulan puasa sebagai ‘balas dendam’ selama menahan lapar dan haus pada siang harinya. Tidak jarang, kelebihan menu buka puasa menjadi sampah makanan karena kapasitas perut yang itu-itu saja. Pemborosan pangan pun tak terhindarkan.

Pemborosan pangan global menjadi permasalahan serius. Badan pangan dunia (FAO) merilis, kehilangan pangan dunia akibat salah pola konsumsi mencapai 1,3 miliar ton atau setara US$1 triliun setiap tahun. Indonesia pun tak luput dari tradisi “hambur-hamburkan makanan”. Menurut data The Economist Intelligence Unit, orang Indonesia rata-rata menghasilkan sampah makanan sebesar 300 kg per orang tiap tahun, setara 13 juta ton lebih. Data tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat dua buang-buang makanan di bawah Arab Saudi (427 kg) per tahun.

Pemborosan pangan atau food loss and waste (FLW) terdiri dari dua jenis. Food loss (FL) yaitu kehilangan pangan sebelum sampai ke tangan konsumen. Adapun food waste (FW) diartikan sebagai kehilangan pangan yang terjadi karena ulah konsumen pada level restoran, katering, dan rumah tangga.

Data Bappenas 2021 mencatat pada kurun waktu 2009-2019 Indonesia menghasilkan FLW mencapai 115-184 kg per kapita per tahun. Hal ini berarti dalam 10 tahun terakhir FLW dapat memberi makan 61 juta-125 juta orang (29%-47%) penduduk Indonesia. Estimasi kerugian ekonomi FLW diperkirakan sebesar Rp213 triliun-Rp551 triliun per tahun. Angka ini setara dengan 4%-5% PDB Indonesia.

Adapun dampak lingkungan akibat timbunan sampah pangan sekitar 1.702,9 Mt CO2. Rata-rata per tahun berkontribusi sebesar 7,29% emisi gas rumah kaca Indonesia yang berpengaruh terhadap pemanasan global. Oleh sebab itu, tak berlebihan isu FLW ini dimasukkan ke dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 12 yaitu Responsible Consumption and Production.

Komoditas yang menempati urutan pertama kehilangan tertinggi yakni sayur dan buah sebesar 45% total produksi (setara 6,3 triliun buah apel). Selanjutnya secara berturut-turut ditempati oleh ikan dan seafood (35% kehilangan atau setara 11 miliar ekor salmon).

Menyusul komoditas beras, gandum, dan jagung (30% kehilangan atau setara dengan 1,4 triliun kotak spageti), daging (20% kehilangan atau setara 75 juta ekor sapi) dan 20% kehilangan produk susu (Sahara, 2021).

Rumah Tangga

Untuk kasus rumah tangga, hasil kajian Anggraini (2020) menunjukkan pemborosan pangan (FW) tertinggi terjadi pada kelompok rumah tangga menengah, dan paling rendah pada rumah tangga mewah.

Langkah penting untuk mengurangi pemborosan makanan pada Ramadan adalah mengubah perilaku boros, peningkatan kesadaran masyarakat, peraturan yang tegas, membuat bank makanan dan didukung peran aktif masyarakat.

Tip praktis yang bisa dilakukan konsumen mengurangi boros pangan pada bulan puasa: Pertama, membuat rencana menu sahur dan berbuka. Kedua, membuat daftar belanja dan disiplin mematuhi daftar belanja tersebut berdasarkan menu yang telah dibuat.

Ketiga, simpan hasil belanjaan tersebut di lemari penyimpanan berdasarkan prinsip first in first out. Keempat, siapkan bahan makanan untuk sahur dan berbuka puasa sesuai menu harian yang telah disusun sebelumnya. Kelima, mengonsumsi makanan ikuti anjuran Nabi SAW, sesuai kebutuhan dan hindari menyisakan makanan di dalam piring.

Momentum puasa seyogyanya menjadikan titik awal untuk meningkatkan kesadaran pentingnya bijak terhadap pangan. Kampanye hemat pangan dimulai diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Dapat dilakukan dengan pendekatan keagamaan, sosial ekonomi dan kesehatan.

Sampai titik ini, keseriusan pemerintah diuji guna antisipasi lonjakan angka boros pangan dan lonjakan harga pangan secara umum.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Pesan DKP Gunungkidul, Kalau Bosan Pelihara Ikan Predator Jangan Dibuang!

Gunungkidul
| Minggu, 05 Februari 2023, 17:27 WIB

Advertisement

alt

Lirik 'Angin' Dewa 19, Lagu Pembuka Konser di JIS

Hiburan
| Minggu, 05 Februari 2023, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement