Advertisement

OPINI: Pentingnya Storytelling untuk Penguatan Destinasi Pariwisata

Sigit Widiyanto, JF Adyatama Madya Parekraf, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Sabtu, 30 April 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
 OPINI: Pentingnya Storytelling untuk Penguatan Destinasi Pariwisata Sigit Widiyanto, JF Adyatama Madya Parekraf, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Advertisement

Menurut Undang-Undang No.10/2009 tentang Kepariwisataan, Daya Tarik Wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan”. Daya tarik wisata dapat berwujud fisik seperti bangunan bersejarah, seni dan budaya. Seni dapat berupa seni tari, seni lisan dalam hal ini dapat dipahami sebagai cerita lisan atau storytelling.

storytelling  adalah cerita yang disampaikan kepada wisatawan dalam rangka untuk lebih memahami sejarah atau keistimewaan suatu tempat, storytelling ditujukan untuk menghibur atau mengajarkan sesuatu kepada wisatawan. Selain disajikan keindahan alam, wisatawan juga mendapat pengetahuan baru tentang nilai sejarah atau legenda tempat tersebut. 

Advertisement

Penguatan Destinasi

Pengertian destinasi menurut UNWTO (2007) ialah ruang fisik yang memiliki batas-batas fisik dan administrasi yang mencakup campuran (bauran) dari layanan, produk, serta daya tarik. Tuohino & Konu (2014) menyatakan bahwa pengertian dari destinasi adalah area geografis sebagai lokasi yang dapat menarik wisatawan untuk tinggal secara sementara yang terdiri dari berbagai produk periwisata, sehingga membutuhkan berbagai prasarat untuk merealisasikannya. 

Bagi sebuah destinasi pariwisata storytelling adalah bagian dari pemasaran produk. storytelling adalah proses menggabungkan fakta dan cerita untuk disampaikan kepada wisatawan supaya mereka semakin tertarik dengan apa yang dilihat, melalui teknik atau kemampuan bercerita dari seorang guide maka dapat digunakan sebagai promosi daya tarik keunikan tempat wisata 

Memunculkan sebuah soul atau jiwa pada destinasi pariwisata harus direncanakan secara matang dan harus dibuat melalui penelitian yang akurat dan tidak terkesan dibuat-buat. Penggunaan cerita di balik tempat wisata tersebut akan memberikan salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung, sehingga ketika berkunjung ke tempat wisata, kita tidak hanya melihat tempat yang indah di depan mata akan tetapi juga  pengetahuan nilai nilai yang  tersampaikan.

Melalui storytelling sebuah destinasi wisata akan mempunyai permaknaan pembelajaran bagi wisatawan. Penguatan terhadap destinasi dapat dihubungkan dengan cerita legenda masyarakat setempat yang mengandung nilai nilai kehidupan masyarakat sehingga  apa yang didapat wisatawan tidak hanya sebuah tontonan akan tetapi juga tuntunan.

Dalam membuat storytelling perlu diperhatikan, yaitu pertama, bagaimana sejarah dan gambaran umum tentang tempat daerah tersebut.  Kedua, memperhatikan geografi/objek wisata yang layak dan indah untuk disampaikan ke wisatawan.

Ketiga, dibuat sebuah cerita yang menghubungkan tempat  dan legenda masyarakat setempat sehingga menimbulkan suatu keyakinan pada wisatawan bahwa cerita itu benar benar terjadi di tempat tersebut.

Advertisement

Storytelling yang sudah dibuat harus mampu dipahamkan kepada pengunjung baik melalui guide maupun melalui brosur brosur. Dengan demikian nilai nilai yang diciptakan benar benar dapat dipahami sekaligus membuat mereka antusias melakukan berbagai aktivitas yang sudah diskenariokan dalam cerita. Skenario cerita harus terhubung dengan kondisi tempat tersebut sebagai contoh  wisatawan di Goa Jatijajar harus melakukan cuci muka di tempat sumber air, di situ di beri permaknaan bahwa air tersebut adalah air suci dari dewa tertentu yang dikaitkan dengan cerita legenda Lutung Kasarung yang merupakan penjelmaan dari Kamandaka, putera raja yang sakti dan rupawan  sehingga siapa yang cuci muka di tempat tersebut akan tampak muda dan cantik, seperti kerupawanan Raden Kamandaka. Hal ini menjadikan setiap wisatawan sepulan dari tempat tersebut akan merasa senang dikarenakan dalam diri mereka tersugesti akan cantik dan awet muda.

Oleh karena itu, storytelling pada destinasi pariwisata mempunyai fungsi yang penting yaitu pertama, memberikan pemahaman nilai nilai masyarakat setempat pada wisatawan. Kedua, wisatawan akan mendapatkan pengetahuan tentang sejarah tempat (legenda) yang dikunjungi. Ketiga, legenda yang disampaikan akan memberikan sugesti bagi wisatawan yang mempercayai cerita tersebut. Keempat, cerita yang berkesan akan berefek psikologis pada Penguatan keberadaan destinasi tersebut di masyarakat khususnya para wisatawan

Sekarang ini banyak destinasi terkenal di Indonesia yang sudah mempunyai storytelling yang kuat, namun cara penyampaiannya ke wisatawan kurang baik dan kurang menarik.

Hal ini bisa dikarenakan faktor teknik penyampaian yang kurang profesional maupun faktor bahasa yang kurang lancar. Di samping itu kurangnya brosur-brosur yang bisa dibaca oleh wisatawan sehingga wisatawan kurang paham akan cerita yang disampaikan. Sebagai contoh adalah wisata ke candi Borobudur, yang sudah mempunyai cerita yang kuat namun penyampaiannya guide-nya kurang baik. Hal ini menjadikan suatu kelemahan yang jika disandingkan dengan destinasi yang sama di luar negeri seperti Angkor Wat di Kamboja menjadi kurang bersaing. 

Perlu pelatihan guide secara profesional sehingga apa yang diceritakan tersampaikan dengan baik. Untuk itu diperlukan dukungan program pemerintah untuk dapat secara berkala melakukan pelatihan terhadap guide dan SDM pelaku wisata, sehingga storystelling yang sudah disiapkan dapat sukses mengangkat citra destinasi Pariwisata di Indonesia.

 

 

 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

3 Daerah di Jogja dengan Nama Luar Negeri

Jogja
| Sabtu, 21 Mei 2022, 13:47 WIB

Advertisement

alt

Gen Halilintar Didenda Rp300 Juta karena Ubah Lirik Lagu Siti Badriah

Hiburan
| Sabtu, 21 Mei 2022, 13:27 WIB

Advertisement

Advertisement