Advertisement

OPINI: Pembelajaran Berdiferensiasi Paradigma Baru dalam Pendidikan?

Fadhilah, Guru di SMAIT Abu Bakar Yogyakarta
Selasa, 19 Juli 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI:  Pembelajaran  Berdiferensiasi Paradigma Baru dalam Pendidikan? Fadhilah, Guru di SMAIT Abu Bakar Yogyakarta

Advertisement

Mulai bulan Juli 2022, pemerintah memberikan kewenangan kepada kepala sekolah dan guru untuk memilih kurikulum apa yang akan diterapkan dengan memilih satu, dua atau semua kurikulum yaitu kurikulum 2013, kurikulum darurat atau kurikulum proto-type (kurikulum merdeka belajar).

Kurikulum darurat adalah penyederhanaan dari kurikulum 2013, sementara kurikulum merdeka belajar adalah produk perbaikan dari kurikulum 2013 dan kurikulum darurat. Salah satu ciri dari kurikulum merdeka belajar adalah diterapkannya pembelajaran berdiferensiasi. Apakah pembelajaran berdiferensiasi?

Berdasarkan pada beberapa artikel di website ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran yang memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda-beda. Pendekatan pembelajaran ini berakar pada kebutuhan murid dan memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar peserta didik.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Dengan kata lain, pembelajaran berdiferensiasi adalah proses pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. untuk berkembang sesuai dengan kodratnya. Prinsip ini sesuai dengan salah satu dari filosofi pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu sistem “among”. 

Prinsip pembelajaran ini secara resmi diperkenalkan kembali di era merdeka belajar yang dilakukan secara masif melalu berbagai media dan beragam program seperti guru penggerak, sekolah penggerak, organisasi penggerak, dan program lainnya yang ditawarkan oleh pemerintah sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar. Topik opini guru kali ini adalah apakah paradigma pembelajaran berdiferensiasi merupakan hal baru dalam dunia pendidikan? 

Kalau kita berdiskusi tentang dunia pendidikan, maka lingkup pembahasannya, bukan hanya pada pendidikan formal (sekolah atau institusi pendidikan dari PAUD sampai perguruan tinggi) tetapi juga pendidikan nonformal (pendidikan di keluarga dan di masyarakat) karena trilogi pendidikan (pendidikan di rumah, di sekolah dan di masyarakat) adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan saling berkaitan sehingga saling memunculkan hubungan sebab akibat. Apakah paradigma pembelajaran berdiferensiasi merupakan hal baru dalam dunia pendidikan? 

Menurut pendapat penulis, jawabannya bisa bervariasi (bisa ya, bisa juga tidak). Mungkin bagi sebagian warga masyarakat, istilah ini baru mereka kenal, akan tetapi sesungguhnya tanpa mereka sadari sebenarnya mereka sudah mempraktikkannya. Mengapa?

Alasan pertama, di level keluarga kita bisa menemukan banyak keluarga yang sudah mempraktikkan prinsip pembelajaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip pembelajaran ini tidak selalu diperoleh melalui dunia pendidikan formal tetapi bisa diperoleh dari nilai-nilai agama atau budaya yang mereka jadikan sebagai petunjuk hidup yang diberikan secara  lisan melalui nasihat orang  terdekat seperti  orang tua, saudara, tetangga,  teman, dan lain sebagainya.

Atau juga bisa dipelajari dari proses niteni. Niteni adalah istilah yang diambil dari Bahasa Jawa, yang mungkin bisa diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai mengamati.

Advertisement

Alasan kedua, berdasarkan pada pengamatan penulis, saat ini prinsip pembelajaran berdiferensiasi juga sudah banyak diterapkan di pendidikan formal baik di level pendidikan dasar, menengah maupun di perguruan tinggi. Sebagai contoh, di sekolah-sekolah  yang berada di bawah naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) ditawarkan program Bina Pribadi muslim (disingkat BPI). Visi dan misi program PBI selaras dengan profil Pelajar Pancasila. Proses pembelajarannya   berdasarkan prinsip pembelajaran berdiferensiasi yaitu diawali dengan pemetaan kebutuhan belajar siswa yang meliputi kesiapan belajar, minat belajar dan profil gaya belajar.

Topik materi yang dibahas sangat beragam bukan hanya pengetahuan tentang dasar-dasar keislaman, tetapi juga berbagai materi keterampilan hidup yang dibutuhkan dalam kehidupan. Aktivitas belajar mengajarnya pun dilakukan secara bervariasi tergantung kepada fokus materi yang dipilih. Sebagai konsekuensinya, produk karakter yang dihasilkan juga sangat berwarna-warni, tentu selaras dengan profil pelajar Pancasila.

 

Advertisement

Sangat Bervariasi

Alasan ketiga, di masyarakat, diferensiasi pembelajaran ini bisa kita temukan dalam bentuk kegiatan yang sangat bervariasi dalam berbagai level usia dan status sosial. Di level anak-anak dan remaja, kita bisa temukan Taman Pendidikan Al-Qur’an yang mengajarkan cara membaca Al-Qur’an berdasarkan tingkat kemampuan membaca yang berbeda. Ada juga paguyuban pemulung sampah yang sudah terbiasa memilah sampah organik dan anorganik  untuk dimanfaatkan menjadi produk lain atau didaur ulang. Ada klub penggemar sepak bola, klub senam ibu-ibu, klub olah raga bola voli di level RT dan lain-lain. Semua contoh di atas secara sadar ataupun tidak sadar adalah penerapan pembelajaran berdiferensiasi.

Dari pemaparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa paradigma pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuah paradigma pembelajaran yang sebenarnya sudah ada dan sudah diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia, baik formal maupun non-formal, akan tetapi  secara praktik mungkin belum optimal. Begitu juga apa yang selama ini penulis lakukan di kelas di mata pelajaran Bahasa Inggris terinspirasi oleh prinsip pembelajaran berdiferensiasi,  meskipun di institusi tempat penulis mengajar, kurikulum merdeka belajar baru akan diterapkan di Tahun Ajaran Baru 2022/2023. Tentu saja banyak catatan terkait dengan tantangan yang penulis hadapi yang mungkin akan penulis uraikan di kesempatan lain. Akhir kata mari kita sambut baik berbagai program dalam kerangka merdeka belajar. Semoga bisa mengoptimalkan apa yang sudah ada sehingga sinergi dan kolaborasi antara pendidikan di rumah, di sekolah dan di masyarakat makin meningkat demi kemajuan bersama.

 

Advertisement

 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

BREAKING NEWS: Pelaku Pemerkosaan Anak Difabel di Bantul Resmi Ditahan

Bantul
| Selasa, 27 September 2022, 15:17 WIB

Advertisement

alt

Netflix Bocorkan 120 Konten Baru yang Akan Dirilis

Hiburan
| Selasa, 27 September 2022, 11:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement