Advertisement

OPINI: Siklus Hidup Manusia dan Perencanaan Keuangan

Elizabeth Fiesta Clara Shinta Budiyono
Kamis, 15 Februari 2024 - 06:07 WIB
Bhekti Suryani
OPINI: Siklus Hidup Manusia dan Perencanaan Keuangan Elizabeth Fiesta Clara Shinta Budiyono - Dok. Pribadi

Advertisement

Perencanaan keuangan saat ini adalah kegiatan yang sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat di segala usia, terutama kaum milenial dan generasi Z. Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) menjelaskan bahwa perencanaan keuangan adalah sebuah proses individu mencapai tujuan hidupnya dengan pengelolaan sumber daya material secara terencana.

Tujuan disesuaikan dengan profil individu (usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan lainnya), misalnya menikah, memiliki kendaraan pribadi, rumah pribadi, persiapan pendidikan anak, dana
pensiun dan lainnya.

Advertisement

Perencanaan keuangan memiliki manfaat jangka panjang sehingga individu akan lebih mudah beradaptasi dengan dinamika di masa depan. Kegatan ini membawa individu berada di jalur
yang tepat untuk memitigasi segala risiko keuangan. Individu berharap dengan kegiatan ini maka mereka akan merasakan kebebasan keuangan (financial freedom) di masa mendatang,
misalnya bebas akan utang, tidak terjebak pada stigma sandwich generation¸ tercukupinya arus penghasilan dari investasi yang dilakukan sebelumnya, terproteksi dari risiko yang
mungkin terjadi, aman terhadap kehidupan masa tua dan lainnya (OJK, 2019).

Meskipun terdengar sederhana, namun perencanaan keuangan merupakan proses yang cukup kompleks karena setiap individu memiliki kondisi yang berbeda-beda sehingga
mempengaruhi kelancaran dalam kegiatan ini. OJK dalam siaran persnya menjelaskan bahwa beberapa kondisi yang mempengaruhi perencanaan keuangan antara lain: 1). Status
perkawinan, di mana akan terjadi perbedaan prioritas antara individu yang telah menikah dan belum menikah; 2). Kondisi pekerjaan, apakah sudah memiliki pekerjaan namun tidak tetap/sudah bekerja tetap dan lainnya; 3). Usia, pandangan akan pengelolaan keuangan akan berbeda ketika usia remaja dibandingkan individu berusia dewasa hingga lansia; 4). Kondisi
kesehatan, karena mempengaruhi cash flow.

Dengan banyaknya “if condition” tersebut, lalu bagaimana individu mampu merencanakan keuangan agar kesejahteraan di masa depan mampu tercapai dengan baik?

Siklus Hidup
Salah satu kunci dari kesuksesan perencanaan keuangan adalah dengan memahami siklus hidup manusia dan kaitannya dengan siklus keuangan. Penting disadari bahwa dengan
memahami siklus tersebut, maka individu dapat menggambarkan tahapan hidupnya dan menentukan strategi sesuai untuk kondisi keuangan di masa depan. Mengapa siklus hidup
keuangan dipengaruhi oleh siklus hidup manusia?

Pada dasarnya kebutuhan dan keinginan manusia sebagian besar akan dipengaruhi oleh usia individu yang berkaitan dengan dua faktor yaitu revenue dan expenses. OJK menjelaskan bahwa sejak usia 0-20-an (masa lajang), siklus perjalanan hidup manusia dimulai dan akan sangat menentukan siklus keuangannya. Berikut ini adalah garis besar tiga tahapan siklus kehidupan keuangan individu:

Siklus hidup di masa kanak-kanak hingga dewasa (+- 0-18 tahun). Dalam siklus hidup keuangan, penghasilan yang diharapkan (expected return) adalah parameter penting yang mana mempengaruhi setiap tindakan individu dari waktu ke waktu.

Pada masa ini, individu belum sepenuhnya mengerti akan makna perencanaan keuangan yang sebenarnya karena keterbatasan penghasilan (revenue) dan pengeluaran (expenses) yang
belum terlalu berarti, biasanya pengeluaran untuk kebutuhan saja.

Di masa ini, individu belum bisa secara utuh melakukan perencanaan keuangan karena sumber daya yang terbatas. Tugas orang tua dan keluarga terdekat untuk menjelaskan dan melatih anak-anak agar memiliki prinsip sederhana pengelolaan keuangan yaitu memahami dari mana pendapatan diterima dan belajar menyisihkan uang (menabung) sebagai simpanan.

Siklus hidup di masa lajang (+- 18-25 tahun) Pada tahap ini, individu telah mampu memilih/memilah antara kebutuhan dan keinginan. Individu juga mulai memasuki masa kuliah sehingga tahap ini adalah titik kritis karena saatnya individu bersikap lebih mandiri dan mulai merencanakan keuangan agar tidak selalu bergantung pada orang tuanya.

Individu pada tahap ini mulai mendapatkan penghasilan dengan bekerja. Dengan expected return yang semakin tinggi, hal tersebut akan diiringi dengan kebutuhan/keinginan yang semakin tinggi pula. Disinilah peran perencanaan keuangan dibutuhkan. Tahap mengumpulkan kekayaan dimulai dengan melakukan pengendalian diri akan sikap hedonisme dan mulai melakukan kegiatan menabung, misalnya yang paling sederhana adalah dengan tabungan/deposito.

Siklus hidup di masa pembentukan keluarga, masa berkarier dan berpenghasilan (usia +- 25-50 tahun). Setelah melalui masa lajang, seiring berjalannya waktu, maka individu mulai memiliki pekerjaan tetap, penghasilan semakin tinggi, berkeluarga dan mencapai masa yang paling produktif dalam siklus hidup. Dalam kurva siklus keuangan, tahap ini adalah tahap dengan expected return, return, dan expenses tertinggi. Kebutuhan hidup akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya peran (double role) yang dilakukan manusia. Berkaitan dengan perencanaan keuangan, mulai dari tahun 25-40 tahun, individu sebaiknya terus mengumpulkan kekayaan dengan mempertahankan cara menabung yang dirasa efektif/sesuai. Persiapkan pula asuransi serta dana pensiun karena setelah ini kemungkinan return yang dihasilkan tidak sebesar di tahap ini.


Selanjutnya diusia 40-50 tahun adalah usia yang tepat untuk melipatgandakan kekayaan yang dimiliki dengan berinvestasi. Kegiatan berinvestasi juga harus disesuaikan dengan profil investor, baik itu investor agresif, moderat ataupun konservatif. Siklus hidup di masa tua awal (+- 50-55 tahun) Setelah usia 50 tahun, maka individu akan masuk kedalam masa tua awal. Di masa tua awal maka produktivitas akan semakin menurun sehingga expected return juga akan semakin menurun. Di masa ini, seharusnya individu telah merasakan hasil dari perencanaan keuangan yang dilakukan di masa lajang dan masa berkeluarga. Hal tesebut diperoleh karena individu melipatgandakan keuangan demi kesejahteraan keluarga dimasa depan untuk dirasakan bersama di masa ini.

Siklus hidup di masa pensiun (55 tahun) Masa terakhir adalah masa pensiun dimana individu mulai mempersiapkan warisan sehingga apa yang telah direncanakan akan memberikan dampak terhadap kesejahteraan anak-cucu di masa depan.

Dengan menerapkan perencanaan keuangan yang strategis sedari dini dengan prinsip pemahaman pendapatan, disiplin menabung, berani berinvestasi, dan kesiapan dalam proteksi
diri dari keadaan darurat dimasa depan maka individu akan lebih mudah menata hidup dan memberikan kehidupan layak bagi orang disekitarnya. Literasi keuangan terkait dengan
perencanaan keuangan perlu terus ditingkatkan oleh segala pihak (pemerintah, instansi terkait, institusi pendidikan, keluarga dll) sehingga semakin banyak yang merasakan manfaat
dari kegiatan ini.

Elizabeth Fiesta Clara Shinta Budiyono
Dosen Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomi UAJY

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

40.000 Lebih Kendaraan Keluar DIY lewat Prambanan

Sleman
| Sabtu, 13 April 2024, 22:17 WIB

Advertisement

alt

Westlife Bakal Konser Eksklusif di Indonesia, Rencana Digelar di Candi Prambanan

Hiburan
| Jum'at, 12 April 2024, 12:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement