OPINI: Imajinasi Bocah dan Gim Sepak Bola

Gaya suporter Iran saat kali pertama dibolehkan nonton laga Piala Dunia 2018 secara langsung di stadion sejak 1979. - Reuters/Jorge Silva)
29 Juni 2018 07:29 WIB Sugeng Pranyoto Aspirasi Share :

Bandung Mawardi

bandungmawardi@gmail.com

Kuncen Bilik Literasi

 

Indonesia hadir di Piala Dunia 2018di Rusia. Indonesia berada di stadion bersama para pemain Rusia dan Arab Saudi. Orang-orang mungkin telanjur terpikat memikirkan kehebohan acara pembukaan atau tergesa berimajinasi pertandingan seru bakal menentukan martabat Rusia.

Kehadiran Indonesia di situ disahkan oleh bocah perempuan bernama Raina Premiera G. Ia bercelana pendek warna merah dan berkaus warna kuning. Rambut panjang terurai. Berparas cantik dan berpipi temben.

Ia menghadirkan Indonesia di Piala Dunia 2018 sebagai bocah penggandeng salah seorang pemain Rusia. Indonesia belum ada di Piala Dunia berpredikat pemain sepak bola. Bocah berusia Sembilan tahun itu terpilih dalam lomba yang diselenggarakan McDonald’s, sponsor Piala Dunia 2018.

Indonesia mengirimkan dua duta bocah di acara pembukaan dan penutupan. Raina mengaku berdebar saat berada di stadion yang dipadati 78.000 penonton. Peristiwa bersejarah bagi si bocah itu belum tentu bersejarah bagi sepak bola di Indonesia.

Raina telah memastikan Indonesia turut hadir di Rusia meski belum diberitakan dan diceritakan kepada bocah-bocah di seantero Indonesia (Kompas, 24 Juni 2018).

Sejak puluhan tahun silam sepak bola memang milik kaum bocah. Pengisahan sepak bola bertokoh bocah seperti membentuk impian atau imajinasi masa depan sepak bola Indonesia. Sepak bola itu imajinasi dan pengalaman bergelimang arti bagi bocah. Ketokohan kaum bocah kadang tak mendapat halaman dalam buku besar sejarah sepak bola Indonesia.

Negara dengan ratusan juta penduduk ini cenderung mengisi halaman-halaman bertokoh kaum dewasa saat membela klub dan tim nasional di pelbagai kompetisi atau turnamen, bertaraf nasional dan internasional. Kaum bocah mungkin ada di halaman lampiran, jarang terbaca dan teringat.

Bocah dan remaja era 1980-an mungkin ingat Marsudi dan teman-teman. Mereka bercerita diri, sepak bola, keluarga, desa, dan Indonesia. Kaum bocah itu dihidupkan D. Kusuma dalam novel berjudul Marsudi: Si Anak Tiri dari Desa Waleri.

Buku itu terbitan Balai Pustaka (1980). Ribuan eksemplar novel diedarkan ke perpustakaan-perpustakaan di sekolah seantero Indonesia. Sepak bola sah milik bocah! Novel itu dokumentasi zaman saat kegandrungan bocah menonton dan bermain sepak bola di desa.

Alkisah, sekumpulan bocah berada di lapangan: mengurusi rumput dan menyiramkan air agar lapangan enak digunakan bermain sepak bola. Mereka bekerja girang. Upah bagi mereka berupa nasi pecel dan gratis menonton sepak bola.

Dulu, pertandingan sepak bola di desa dalam peringatan hari kemerdekaan sering berkarcis. Lapangan ditutup pagar dari bambu. Orang berkarcis boleh masuk menonton dan mendukung tim-tim pujaan agar merebut piala dari Pak Camat. Bocah tak turut kerja bakti berharap bisa menonton menggunakan cara nginthil atau membeli karcis berharga murah.

Di desa, bocah yang menonton sepak bola adalah suka tiada tara. Peristiwa itu hiburan dan pembesaran imajinasi tentang sepak bola.Kusuma mendeskripsikan lakon sepak bola dan bocah di desa.

Orang berjejal di depan loket. Anak-anak mengerumuni orang-orang yang hendak membeli karcis; mereka membujuk dan memohon agar mereka diperkenankan ikut serta, sebagai anak atau jika penonton itu sudah tua, sebagai cucunya. Biasanya memang demikian, setiap orang yang mempunyai karcis boleh membawa serta seorang anak kecil, asal masih keluarganya. Anak itu ikut masuk dengan memegang ujung baju atau bergantung pada lengan orang yang membawanya. Perbuatan seperti itu dinamakan nginthil.”

Kejadian itu pernah ada di desa-desa pada masa lalu. Marsudi sedang tak untung, gagal nginthil. Nasib Marsudi berbeda dengan Raina yang hadir di Piala Dunia 2018, tak cuma sebagai penonton. Marsudi cuma di fiksi tapi membuat pembaca merenungi nasib bocah dan sepak bola Indonesia, dari masa ke masa.

 

Gawai dan Komputer

Pengajaran cerita sepak bola sejak lama diterapkan di Indonesia. Buku pelajaran di sekolahan sering memuat cerita-cerita sepak bola. Bocah masih menjadi tokoh berpredikat penonton di buku berjudul Panggelar Boedi I susunan W. Keizer dan R. Inggris, terbitan J.B. Wolters, Jakarta, 1949.

Buku berbahasa Jawa itu merangsang imajinasi bocah mengenai sepak bola. Para tokoh di cerita bernama Saridjan, Gatot, Amir, dan Ibrahim. Mereka menonton pertandingan sepak bola di kampung. Cerita itu mengajarkan cara membasakan peristiwa secara apik dan mengesankan.

Saiki bale banjur disadhuk purwares ing tengah, pleng! Kebeneran nalika iku ditampani kiper, banjur ditendhang mak pleng, tiba ngliwati garis wates tengah. Ana ing kono bal mau nuli ditepang, digiring nganti tekan ing sacedhake gol sisih kana. Begitu tulisas Keizer dan Inggris dalam ejaan sekarang.

Adegan-adegan dalam cerita seperti membimbing pembaca agar mahir berbahasa dan berimajinasi. Bercerita mengandung kenikmatan ketimbang bocah-bocah cuma melongo turut menonton Piala Dunia 2018 di televisi.

Saridjan dan teman-temannya tentu sudah terlupakan. Dulu, cerita sepak bola membuat bocah-bocah bungah dan bersorak.Sejarah sepak bola Indonesia panjang tapi ikhtiar mengadakan bacaan bercerita sepak bola bagi bocah-bocah mungkin masih sampingan.

Ketekunan bercerita dengan bahasa Indonesia atau Jawa cuma milik masa lalu. Kesanggupan berimajinasi tentang sepak bola sering dituduh merepotkan, menghabiskan waktu, dan sia-sia. Literasi sepak bola masih belum menggairahkan saat bocah-bocah lekas mendapat godaan gim sepak bola.

Di depan gawai atau komputer mereka disulut ambisi meraih menang, tak sempat menikmati cerita atau memahirkan bahasa bertema sepak bola. Bocah lekas mengandaikan diri sebagai pemain, pengatur taktik, atau pemain melalui gim dan bebas memilih klub-klub besar di dunia.

Godaan masih mendingan adalah pembuatan film-film bertema sepak bola. Dulu bocah-bocah girang menonton film Garuda di Dadaku. Film bermutu ketimbang sinetron-sinetron aneh meniru tokoh besar dunia tapi diperempuankan menjadi Ronaldowati.

Sekian sinetron memang diproduksi untuk menghibur kaum bocah tapi terasa picisan dan wagu. Indonesia masih sulit bersaing dengan produksi film animasi di Jepang.

Keengganan dan kegagalan mengadakan literasi sepak bola sambungan dari cerita-cerita sepak bola masa lalu mungkin turut memengaruhi kaum bocah Indonesia sulit berimajinasi memuliakan sepak bola, bermula dari desa sampai dunia. (JIBI)

Sumber : JIBI/Solopos