OPINI: Senjakala Dolanan Anak

Peringatan Hari Anak Nasional. - Antara
23 Juli 2018 07:25 WIB Winanti Praptiningsih Aspirasi Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Cublak-cublak suweng. Suwengè ting gelentèr.

Mambu ketundhung gudèl. Pak Empong lèra-lèrè.

Sapa ngguyu ndhelikakè. Sir-sir pong dhelè kopong.

Sir-sir pong dhelè kopong.

Alunan tembang Cublak-Cublak Suweng mulai asing terdengar. Permainan sekelompok anak yang selalu didahului dengan hompimpah dan pingsut untuk menentukan salah satu dari mereka menjadi Pak Empong, nyaris sudah tidak pernah dimainkan anak-anak lagi. Anak-anak kini lebih sibuk menyendiri, memegang gadget dan menikmati fitur permainan di dalamnya. Mereka telah menikmati pesta bergerak. Mereka perlahan-lahan bertransformasi menjadi anak digital, yang mulai tidak mengenal lingkungan sosial.

Pergeseran Permainan Anak

Permainan cublak-cublak suweng hanyalah satu di antara berbagai dolanan anak di Indonesia. Dolanan anak pada zaman dahulu dikenal sebagai media interaksi anak dengan lingkungan sosial dan alam sekitar. Hampir semua anak terbiasa bermain jamuran, dakon, engklek, dhelikan, gobak sodor, cublak-cublak suweng, maupun jaranan. Melalui permainan tradisional yang berkembang di masyarakat kala itu, anak-anak bisa bermain secara kolektif untuk melatih tenggang rasa, strategi, kreatifitas, kerja sama, sosialisasi dan mengenal ekologi alam. Setidaknya situasi itu sangat mudah dijumpai sebelum era Internet (tahun 1990-an) mengintervensi kehidupan harian masyarakat Indonesia.

Saat ini dunia telah berada dalam era baru peradaban digital. Sejak masyarakat mengenal kemudahan akses internet maupun media sosial, mereka mulai tidak kuasa membendung derasnya informasi dan aplikasi yang mengalir. Senantiasa terhubung dalam jejaring online sudah merupa menjadi kebutuhan. Era media baru pun telah mengubah cara berkomunikasi manusia. Perkenalan yang semula dilakukan dengan pertukaran kartu nama dan tatap muka, kini dilakukan dengan bertukar alamat akun ataupun (hanya) membuat pertemanan di media sosial.

Saat perangkat komputer jaringan telah mengecil menjadi telepon pintar, maka fitur menarik bisa hadir dan dinikmati tanpa batas. Berbagai animasi pun senantiasa berputar memenuhi layar. Bahkan, hari ini, kemudahan akses jaringan dalam genggaman telah mengeliminasi aktivitas fisik dan lingkungan sosial manusia, termasuk anak-anak.

Anak-anak yang semula asyik bermain di jalan, lapangan, pematang sawah dan halaman rumah, kini mulai senang menyendiri di kamar. Melalui layar gadget, mereka sudah bisa menentukan menu permainan tanpa harus berpanas-panasan dan berlarian di halaman. Mereka membiarkan ruang online mengutak-atik serta memprogram ulang sistem sirkuit saraf. Mereka bermain di dunia virtual, dan sibuk memencet tombol scroll, on, off, left, right, maupun up-down. Mereka asyik berselancar, tanpa menyadari keterpisahannya dengan lingkungan sosial yang sarat akan pembelajaran.

Tak jarang, anak-anak mengenal fitur online pertama kali justru dari keluarganya. Bahkan, memperkenalkan teknologi mutakhir sejak dini menjadi kebanggaan tersendiri untuk sebagian orang tua. Permainan online juga bisa menjadi upaya permissive untuk menenangkan anak dan meringankan tugas pengasuhan.

Risiko Kesehatan

Secara tidak disadari, permainan online telah menggeser permainan tradisional yang menjadi kearifan budaya lokal masyarakat Indonesia. Dolanan anak mulai diabaikan. Anak-anak kini justru memilih untuk bermain bersama gadget mereka.

Dokumen klasifikasi penyakit internasional ke-11 (International Classified Disease/ICD) yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menyebutkan kecanduan bermain game disebut-sebut sebagai gangguan gaming disorder. Gaming disorder merupakan perilaku bermain game terus menerus dengan mengesampingkan kepentingan hidup lainnya.

Anak-anak masa depan berisiko tinggi mengalami gaming disorder, jika kita tidak mewaspadai gejala dan pertumbuhannya sejak dini. Penurunan konsentrasi belajar, daya ingat, tingkat kecemasan tinggi, kesulitan mengontrol emosi, agresif, impulsif, anti sosial, kerusakan mata hingga depresi sudah menjadi ancaman. Selain itu, sikap apatis, kurang mampu berkomunikasi, menghargai lingkungan sekitar, bersosialisasi, dan obesitas pada anak bisa menambah panjang deretan risiko permainan era digital ini.

Bermain dalam Kearifan Lokal

Bermain memang sudah menjadi kebutuhan wajib anak-anak untuk mempelajari lingkungan sosialnya. Berbagai manfaat seperti optimalisasi perkembangan fisik, belajar berbagai pengetahuan dari alam, kesadaran kolektif, konsep pengendalian diri, inovasi, bahkan perkembangan psikologis anak mampu dirangsang melalui dolanan. Dolanan yang tepat, akan memberi landasan perkembangan pribadi yang kokoh untuk anak-anak.

Data penelitian membuktikan bahwa dolanan mampu memberikan manfaat dan pemaknaan tersendiri bagi tumbuh kembang anak (Sumarni; 2013). Jamuranmampu mengajarkan anak-anak memiliki sifat egaliter, tidak diskriminatif dan saling mengasihi. Gobak sodor mengajarkan ketangkasan fisik dan kepiawaian anak melewati setiap garis yang dijaga.

Cublak-cublak suweng mengandung unsur penanaman nilai budaya jawa agar anak-anak berperilaku tangung jawab, waspada, jujur, berani , sportif dan adil. Dan kucing-kucingan, mampu meningkatkan aktivitas fisik pemain yang berlari-lari menghindari kejaran penjaga/kucing.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai upaya penyelamatan? Pertama, mengembangkan kembali tradisi dolanan dengan memberikan ruang kebudayaan untuk menggiatkan kreatifitas bermain anak-anak. Kedua, memberi kesadaran kritis anak terhadap budaya literasi media online yang mendidik. Ketiga, memperluas ide-ide pendidikan kreatif di sekolah-sekolah dengan mengembangkan pola permainan anak yang mendidik. Keempat, menyisihkan dan merawat lahan hijau untuk ruang bermain anak.

Memanfaatkan teknologi bukan serta-merta membiarkan logikanya menguasai cara kerja otak dan tubuh manusia. Karena kesehatan (masih) menjadi hak anak-anak masa depan. Selamat Hari Anak Nasional.

*Penulis adalah peneliti & praktisi humas di Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM.

 

 

Ad Tokopedia