OPINI: Perilaku Belanja Online Mahasiswa

Any Agus Kana - Ist.
31 Juli 2018 05:25 WIB Any Agus Kana Aspirasi Share :

Internet telah mengubah cara operasi bisnis di seluruh dunia (Adnan, 2014). Orang memakai Internet untuk beberapa alasan antara lain: mencari informasi produk, evaluasi harga dan mutu, memilih layanan, transfer pembayaran, dan networking (Shadzad, 2015). Di banyak negara, Internet telah menjadi medium komunikasi dan belanja online. Belanja online telah menjadi fenomena di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna Internet Indonesia pada 2017 sebanyak 143,26 juta, ini merupakan 54,68% dari total penduduk yang mencapai 262 juta orang. Social Research & Monitoring menyatakan dari seluruh pengguna Internet di Indonesia pada 2015, 77% di antara mereka mencari informasi produk dan belanja online. Juga dinyatakan bahwa pada 2016 jumlah online shopper mencapai 8,7 juta orang dengan nilai transaksi sekitar US$4,89 miliar. Selain itu, pada Indonesia Technology Forum Pebruari 2018, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan bahwa nilai transaksi e-commerce satu bulan di atas Rp2 triliun. Pada 2015, pendapatan Kantor Pos Besar Jogja berasal dari pengiriman bisnis online sebesar 72% atau Rp 29,9 miliar. Dengan demikian, nilai transaksi bisnis online sangat besar dan penggunaan internet di Indonesia sudah sangat masif.

Belanja Online

Belanja online merupakan salah satu tipe e-commerce ketika teknologi web memegang peran penting (Khanh dan Gim, 2014). E-commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti Internet atau televisi atau www, atau jaringan komputer lainnya (Sutabri, 2012). Perilaku belanja online mencakup proses pembelian produk dan jasa melalui internet (Moshref, et.al. 2012). Perilaku belanja online adalah persepsi dan evaluasi individual atas produk dan jasa yang dapat menghasilkan nilai baik atau buruk (Shahzad, 2015). Perilaku konsumen diukur memakai sejumlah dimensi. Dimensi pertama mengacu pada sikap atas motivasi manfaat (kemudahan, variasi, mutu, biaya, dan waktu). Dimensi kedua motivasi hedonik (happiness, fantasy, escapism, awakening, sensuality, enjoyment). Dimensi ketiga adalah persepsi kemudahan dan kegunaan dan dimensi terakhir adalah persepsi atas risiko.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perilaku belanja online dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Global E-Shopping Survey pada 2001 menyatakanm bahwa 82% online shopper meninggalkan situs belanja online tanpa menyelesaikan transaksi karena konten situs yang kurang memadai. Penelitian Rehman pada 2000 menjelaskan 43% upaya pembelian gagal karena alasan yang sama.

Adnan (2014) menjelaskan belanja online juga tidak terlaksana secara mulus disebabkan antara lain: gagal memperoleh produk yang tepat, tidak bisa menyelesaikan transaksi, ragu terhadap kredibilitas prosedur pembayaran. Hal lain yang juga menjadi kendala belanja online adalah kepercayaan dan keamanan atas data yang dikelola oleh e-retailers, keraguan atas manfaat yang diperoleh dan, persepsi atas risiko yang dihadapi.

Persepsi atas Risiko

Persepsi atas risiko mengacu pada sifat dan jumlah risiko yang dipersepsikan oleh shopper online ketika memutuskan untuk belanja barang atau jasa tertentu. Ada beberapa jenis risiko yang perlu diperhitungkan, antara lain: keuangan, produk, dan pengiriman.

Risiko keuangan meliputi: keamanan informasi kartu kredit, informasi kartu kredit dicuri, atau dibebani lebih besar dibanding harga dan biaya yang harus dibayar. Pencurian dana dari kartu kredit merupakan fenomena yang sudah sering terjadi.

Risiko produk merupakan risiko yang terjadi ketika produk yang diterima tidak sama dengan yang dipersepsikan berdasar deskripsi yang disampaikan. Risiko ini bisa terjadi karena mutu diskripsi produk dan representasi visual produk, dan secara signifikan memengaruhi kemampuan pembeli untuk memahami produk. Produk tidak bisa dicoba dan informasi yang kurang disampaikan di laman merupakan risiko produk yang tak terhindarkan.

Layanan pengiriman dan kebijakan pengembalian menjadi dimensi yang penting dan disepakati antara e-retailers dan online shopper. Ini merupakan risiko lain yang terjadi dalam proses belanja online. Pembelian lewat Internet memerlukan layanan pengiriman. Perhatian juga terkait dengan biaya pengiriman, keterlambatan atau bahkan produk tidak sampai alamat. Risiko ini terkait dengan infrastruktur dan moda pengiriman yang tersedia baik oleh swasta maupun pemerintah. Apabila produk yang diterima rusak, tata cara pengembalian harus jelas. Ketentuan apakah produk ditukar atau uang dikembalikan, waktu penukaran produk, waktu dan jumlah pengembalian uang merupakan komponen yang harus diperhatikan.

Arif et.al (2013) menyatakan bahwa faktor psikologis seperti kepercayaan terkait dengan perlindungan atas web dan keamanan informasi personal pelanggan. Dalam lingkungan belanja online konsumen Turki dan Rumania, keamanan dan kepercayaan merupakan faktor penghambat terbesar untuk melakukan belanja online (Yörük, 2011). Mereka lebih memilih belanja ke toko karena bisa melihat secara langsung produk, bisa berinteraksi dengan orang lain, dan menikmati pergi ke bazar dan menghabiskan waktu.

Keamanan juga terkait dengan risiko informasi keuangan. Sistem keamanan informasi keuangan personal dan transaksi yang aman mendorong konsumen untuk melakukan belanja online.

Desain Website

Dalam lingkungan belanja online di Thailand, desain website mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap sikap belanja online (Suwunniponth, 2014). Faktor penerimaan teknologi dan kepercayaan mempunyai hubungan yang signifikan dengan intensi belanja online. Hasil penelitian Osman (2010) terhadap 100 mahasiswa University Putra Malaysia menemukan fakta bahwa 77% responden akan membeli melalui desain website yang baik dan bermutu tinggi, sementara 76% setuju membeli melalui desain website yang aman dan mudah dipakai. Disisi lain, desain website dengan mutu rendah menjadi hambatan konsumen untuk melakukan belanja online.

Penelitian terhadap mahasiswa 130 mahasiswa yang berdomisili 14 kecamatan di Sleman yang meliputi: Minggir, Seyegan, Godean, Gamping, Mlati, Depok, Berbah, Kalasan, Ngemplak, Ngaglik, Sleman, Tempel, Turi dan Pakem menunjukkan bahwa persepsi atas risiko, keamanan dan kepercayaan dan desain website berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk. Produk yang dibeli lewat Internet antara lain pakaian dan aksesori, barang elektronik dan gadget, buku dan majalah, tiket dan perabot rumah. Adapun situs yang sering dikunjungi adalah Kaskus, OLX, Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Elevenia, dan Traveloka.

*Penulis adalah dosen STIM YKPN Jogja.