Menyiasati Biaya Pendidikan yang Kian Membengkak

Ilustrasi anak-anak - Reuters
02 Agustus 2018 17:45 WIB Ignatia Ryana Widyatini Aspirasi Share :
Ad Tokopedia

Kelahiran anak merupakan momen kebahagiaan setiap pasangan. Menjadi tanggungjawab orang tua untuk merawat anak dan memenuhi kebutuhannya sejak bayi. Kebutuhan bayi dimulai dari perlengkapan mandi, mainan, serta kebutuhan imunisasi dan kesehatan.

Saat ini kebutuhan bayi mulai direspons sebagai peluang bisnis oleh pasar. Penjualan produk bayi mewabah dengan segala macam strategi pemasarannya. Pada akhirnya segala sesuatu yang berhubungan dengan bayi menjadi over price.

Anak yang lahir pada generasi sekarang disebut generasi alpha (lahir antara 2011–2025). Kebanyakan bayi Alpha lahir dari orang tua generasi Y atau popular disebut generasi Milenial (lahir antara tahun 1981–1994). Ciri khas generasi alpha adalah mereka sekolah sejak dini bahkan sedari bayi. Saat ini banyak sekolah usia dini mengenalkan baby school program. Ini adalah program untuk bayi usia 6 bulan, dengan materi perkembangan bayi. Walau durasi sekolah bayi rata-rata hanya 30 menit, bukan berarti biayanya murah. Hal ini menjadi tantangan bagi orang tua Generasi Alpha untuk menyiapkan biaya agar anak memperoleh pendidikan terbaik.

Biaya pendidikan dan anak tidak dapat dipisahkan, jika orang tua ingin anaknya mampu bersaing pada generasinya. Pertanyaan selanjutnya yang menjadi kekawatiran orang tua adalah jika biaya sekolah anak usia dini saja saat ini uang pangkalnya puluhan juta rupiah, bagaimana dengan biaya pendidikan ketika SD nanti? Atau bahkan ketika masuk perguruan tinggi. Bisa jadi rata-rata sudah ratusan juta.

Menurut data penelitian, kenaikan biaya pendidikan anak saat ini adalah 15% per tahun. Padahal rata-rata kenaikan gaji per tahun hanya 5%.

Jika kita saat ini adalah seorang sarjana, tentu saja kita mengharapkan anak kita memperoleh tingkat pendidikan minimal sama dengan kita. Lalu bagaimana solusi mengatasi tingginya biaya pendidikan di masa depan yang tidak sebanding dengan kenaikan gaji? Jangan sampai ternyata uang yang dipersiapkan ternyata masih kurang untuk membiayai pendidikan anak kelak. Jawabannya adalah berinvestasi. Investasi apa yang tepat? Investasi yang sesuai kondisi keuangan dan kebutuhan kita.

Dalam ilmu ekonomi terdapat teori nilai waktu uang. Nilai dari uang Rp10.000 sekarang akan menjadi berbeda dengan Rp10.000 di masa depan. Dalam bahasa sederhana, jika saat ini dengan Rp10.000 kita bisa mendapatkan paket makan siang, nasi ayam dan es teh, maka lima tahun mendatang mungkin Rp10.000 hanya dapat nasi putih saja. Asumsikan kenaikan harga makanan adalah 15% per tahun, maka 5 tahun yang akan datang diperlukan uang Rp20.000 untuk membeli paket makan siang. Maka dapat kita disimpulkan nilai uang Rp10.000 saat ini setara dengan Rp20.000 pada lima tahun yang akan datang.

Membuat perkiraan

Teori nilai waktu uang dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan biaya pendidikan anak di masa depan. Asumsi uang pangkal kuliah saat ini Rp10 juta, dan anak akan kuliah 17 tahun yang akan datang. Jika berdasarkan data kenaikan biaya pendidikan adalah 15% per tahun, maka Rp10 juta saat ini setara dengan Rp107 juta pada 17 tahun mendatang. Perhitungan dengan rumus: Nilai di masa depan = Rp10 juta x (1+ 15%)17. Saat ini sudah ada aplikasi untuk menghitung nilai waktu uang di smartphone jika tidak terbiasa dengan hitungan matematis.

Nah, setelah mengetahui perkiraan, perlu memilih investasi yang tepat sesuai dengan kondisi keuangan, kebutuhan dan pola konsumsi keluarga. Investasi adalah ketika kita menggunakan uang untuk tujuan memperoleh pengembalian, contoh membeli emas, saham, deposito,asuransi pendidikan, bahkan membangun bisnis pun dapat disebut investasi.

Setiap pilihan investasi terdapat dua hal yang selalu menyertainya, yakni tingkat pengembalian dan risiko. Jika tujuan investasi adalah untuk biaya pendidikan di masa depan, maka sebaiknya pilih investasi yang berisiko rendah.

Menentukan cara

Setelah menjatuhkan pilihan investasi, selanjutnya perlu kita tentukan cara untuk berinvestasi. Ada dua cara. Pertama, melakukan setoran/investasi sekali saja pada saat ini dan menunggu dana berkembang di tahun ke 17. Cara pertama disebut jenis single cash flow. Cara kedua, dengan melakukan setoran secara rutin setiap tahun sampai tahun ke 17, sehingga akan ada 17 kali setoran. Untuk cara kedua jika menggunakan aplikasi nilai waktu uang, anda bisa memilih jenis perhitungan annuity.

Lalu dari mana sumber keuangan yang bisa diinvestasikan. Tentu sumbernya akan berbeda-beda. Bisa dari penyisihan dari gaji, bonus tahunan, laba usaha dan lain-lain.

Contoh ada satu keluarga yang tidak mampu menyisihkan gajinya untuk ditabung atau diinvestasikan karena banyaknya kebutuhan bulanan. Bisa jadi bonus tahunannya dapat disisihkan untuk investasi, sehingga akan ada dana rutin yang disimpan untuk investasi. Atau mungkin ada keluarga yang tidak mampu secara rutin menyisihkan dana untuk kebutuhan investasi, namun ada tender besar yang dimenangkan sehingga memperoleh keuntungan besar. Bisa saja keluarga tersebut memutuskan menyimpan uang tersebut dalam bentuk deposito yang tidak akan dibuka sepanjang 17 tahun yang akan datang.

Setiap keluarga memiliki sumber penghasilan berbeda-beda sebab setiap kondisi keluarga memiliki keunikan masing-masing. Selain berbeda sumber penghasilannya, tentu saja yang paling mutlak adalah berbeda kebutuhannya. Oleh karena itu tidak ada model investasi yang paling tepat atau sempurna. Keputusan investasi terbaik adalah yang paling pas dan cocok dengan kondisi keluarga bersangkutan.

Investasi untuk menjawab kebutuhan pendidikan di masa depan, sudah wajib dilakukan jika anda menginginkan anak memperoleh tingkat pendidikan yang direncanakan. Sekarang tinggal memutuskan, akan berinvestasi ke mana dan sumber keuangan mana yang digunakan untuk berinvestasi.

*Penulis adalah dosen Akuntansi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

 

Ad Tokopedia