OPINI: Kerusuhan Suporter dan Rasisme Sepak Bola

Suporter Persib masuk ke lapangan dalam pertandingan antara PS Tira melawan Persib, Senin (30/7/2018) malam di Stadion Sultan Agung, Bantul. - Harian Jogja/Jumali
07 Agustus 2018 22:55 WIB Ribut Lupiyanto Aspirasi Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kerusuhan antarsuporter kembali menelan korban beberapa waktu lalu. Kerusuhan terjadi beberapa jam sebelum laga derby PSS Sleman melawan PSIM Jogja di Stadion Sultan Agung, Bantul, Kamis (26/7/2018). Korbannya satu orang meninggal dan sembilan orang luka-luka.

Permasalahan sepakbola masih cukup kompleks dan dilematis. Dunia sepak bola juga baru saja terguncang. Kasus klasik berupa bahaya laten rasisme tidak pernah reda. Kali ini terjadi di Timnas Jerman dan menimpa pemain pilarnya, Mesut Ozil.

Hulu polemik berujung rasisme adalah tersebarnya foto pertemuan Ozil dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum Piala Dunia 2018 digelar. Pro dan kontra segera mengemuka di Jerman. Media setempat mengecam dan mendeskreditkan sikap ozil yang kebetulan keturunan Turki.

Lepas dari evaluasi kegagalan Jerman, tindak rasisme sangat disayangkan dan patut dikecam. Dunia sepak bola sudah menegaskan sejak lama bebas dari politik dan rasisme. Statuta FIFA menyatakan bahwa sepak bola harus independen. Kasus Ozil dapat menjadi evaluasi serius bagi dunia sepakbola seluruh dunia agar kembali bersama mengupayakan memutus rantai tindak rasisme .

Konsepsi dan Regulasi

Sepak bola adalah antirasisme. Sanksi yang diancamkan cukup berat sebenarnya, mulai dari penghentian pertandingan dan hukuman berat bagi pelaku dari federasi sepak bola yang bersangkutan. Pelaku yang dapat dikenai sanksi mulai dari individu, kelompok, hingga klub.

Kode disiplin FIFA tentang diskriminasi telah mengatur rasisme pada poin 58. Isinya menyatakan bahwa diskriminasi adalah siapapun yang menyinggung martabat seseorang atau sekelompok orang melalui hinaan, tindakan diskriminatif, atau pencemaran nama baik, atau melalui tindakan yang berhubungan dengan ras, warna kulit, bahasa, agama atau suku bangsa.

Sanksi yang diancamkan adalah akan dihukum sebanyak lima kali pertandingan, dilarang masuk stadion, dan didenda minimal 20.000 franc Swiss atau setara Rp176 juta. Jika pelaku adalah official tim, maka jumlah denda adalah sebesar 30.000 franc Swiss atau setara Rp264 juta.

Jika beberapa orang (official team atau pemain) dari klub yang sama atau timnas terus menerus melanggar atau memperburuk keadaan, maka tim tersebut akan mengalami pengurangan nilai sebanyak tiga poin pada saat pelanggaran pertama dan enam poin pada saat pelanggaran selanjutnya. Pelanggaran yang dilakukan terus menerus akan mengakibatkan degradasi bagi tim. Jika dalam sistem gugur, maka tim akan langsung didiskualifikasi.

Selanjutnya jika suporter tim yang melanggar diskriminasi, maka denda minimal 30.000 franc Swiss akan dijatuhkan kepada timnas atau klub terlepas dari melakukan kesalahan atau lalai melakukan pengawasan. Pelanggaran serius akan mengakibatkan sanksi tambahan, seperti pertandingan tanpa penonton, WO, pengurangan nilai, atau diskualifikasi. Penonton yang melanggar akan menerima sanksi berupa pelarangan masuk stadion selama dua tahun.

Upaya Pemutusan

Pengharaman rasisme dalam sepak bola mestinya harga mati. Sederet sanksi yang diancamkan di atas mesti disertai penegakan yang tegas dan berkeadilan. Banyak tantangan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi upaya memutus rantai rasisme dalam sepakbola.

Pertama yang paling berwenang dan diharapkan adalah pucuk tertinggi lembaga sepakbola dunia yaitu FIFA. Peluit FIFA mesti nyaring jika rasisme menyerang sepakbola level global atau justru melibatkan federasi sepakbola suatu negara. Kasus Ozil misalnya turut menyeret Presiden DFB Grindel, karena ikut mengomentari Ozil secara diskriminatif. FIFA penting membahas dan mengevaluasi terkait regulasi kode disiplin dan pelaksanaannya. Tim pengawas khusus penting dibentuk dan dioptimalkan kerjanya. Federasi sepakbola dapat dikumpulkan dan diajak berkomitmen ulang guna memerangi rasisme di wilayahnya.

Kedua yang paling sering melakukan rasisme adalah penonton atau pendukung. Sasarannya paling banyak adalah pemain, baik lawan bahkan pemain klub dukungannya sendiri. Rasisme umumnya mencuat dilatarbelakangi adanya kekecewaan kepada personil akibat performa, ulah dan lainnya. Klub atau federasi penting berkala berkoordinasi dan melakukan pembinaan terhadap komunitas supporter. Setiap jelang pertandingan juga penting diberikan pengumuman untuk salah satunya tidak melakukan tindak rasisme. Klub mesti tegas juga terhadap penontonnya yang melakukan pelanggaran.

Ketiga adalah federasi sepak bola suatu negara. Federasi mesti berkomitmen menjalankan kode disiplin FIFA tentang diskriminasi secara profesional. Regulasi lebih detail di wilayahnya dapat disusun guna menjabarkan dan menjalankan kode displin tersebut. Penegakan mesti dilakukan secara berkeadilan. Personil di federasi penting memberikan keteladan untuk tidak turut menjadi pelaku rasisme.

Keempat adalah klub. Klub bertanggung jawab mendidik manajemen, pemain, hingga pendukungnya untuk tidak rasis. Sinergi dengan komunitas suporter penting dilaksanakan berkala dan berkesinambungan. Sikap kesatria juga harus ditunjukkan jika ada kejadian rasisme, maka klub mesti langsung menunjukkan tanggung jawabnya.

Kelima adalah publik dan insan sepak bola pada umumnya. Rasisme di era informasi mulai bervariasi dan merambah hingga media elektronik dan sosial. Edukasi publik penting digencarkan. Etika dan regulasi bermedia sosial mesti dipahamkan secara massal. Publik penting dibuka matanya bahwa rasisme justru akan mencoreng dan memperburuk reputasi dan prestasi dunia sepak bola.

Era globalisasi dan keterbukaan mestinya semakin mereduksi hadirnya rasisme. Faktanya rasisme telah menjadi virus yang mewabah termasuk di sepak bola. Perang terhadap rasisme mesti dilakukan secara bersama dan berkesinambungan. Strategi jangka pendek, menengah hingga panjang mesti dirancang dan dijalankan secara disiplin. Upaya memutus virus rasisme adalah tanggung jawab semua pihak dan insan penikmat sepak bola di muka Bumi.

*Penulis adalah penikmat sepak bola dan Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration).