OPINI: Cerdas Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Ignatia Ryana Widyatini - Ist.
20 September 2018 07:25 WIB Ignatia Ryana Widyatini Aspirasi Share :

Terdapat hubungan erat antara inklusi keuangan dan literasi keuangan. Tingkat inklusi keuangan suatu negara diukur dari banyaknya anggota masyarakat yang memanfaatkan produk dan jasa perbankan. Adapun literasi keuangan adalah pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat dalam mengelola keuangan. Pengetahuan yang baik mengenai bagaimana mengelola keuangan akan memengaruhi pola belanja masyarakat. Masyarakat termasuk bagian dari pelaku ekonomi. Masyarakat yang mampu mengelola keuangannya dengan baik akan menjauhi sikap hidup konsumtif. Pengelolaan keuangan yang cerdas berdampak pada sikap yang lebih dewasa dalam mengelola keuangan dan berorientasi pada hal yang bersifat investasi.

Hasil survey Otoritas Jasa Keuangan, menemukan di Indonesia terdapat empat kategori masyarakat yaitu well literate, sufficient literate, less literate, dan not literate.

Masyarakat disebut well literate jika memiliki pengetahuan, kepercayaan dan fasih menggunakan produk perbankan, sufficient literate jika memiliki pengetahuan dan kepercayaan terhadap perbankan, less literate jika hanya memiliki pengetahuan terhadap perbankan dan not literate tidak terdapat pemahaman mengenai lembaga keuangan. Hasil survei yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada 2013 menunjukkan penduduk Indonesia sebagian besar termasuk pada golongan sufficient literate dengan persentase 75,69%

Menciptakan masyarakat well literate merupakan sasaran dari pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia. Pengetahuan keuangan yang paling mendasar dimulai dari kehidupan sehari-hari. Bagaimana cara kita mengatur dan membelanjakan kebutuhan operasional bulanan menunjukkan seberapa cerdas kita mampu mengatur keuangan. Kadang kala belanja bulanan membengkak,  keuangan minus di akhir bulan, dan utang yang semakin melilit. Jangankan untuk berinvestasi, untuk mencukupkan gaji dengan kebutuhan bulanan saja suatu hal yang sulit.

Pola belanja masyarakat Indonesia pada umumnya adalah mengalokasikan pendapatan untuk belanja operasional sehari-hari. Kemudian jika masih ada sisa dialokasikan kebutuhan belanja yang sifatnya konsumtif seperti pakaian, sepatu, mainan anak dan lain sebagainya. Bagian terakhir dari sisa pendapatan dialokasikan untuk tabungan atau investasi. Artinya terdapat kecenderungan menempatkan porsi invetasi pada bagian akhir dari alokasi pendapatan. Pola pembelanjaan seperti ini berdampak pada seringkali tidak ada sisa untuk menabung.

Dalam ilmu manajemen keuangan, pengaturan alokasi dari pendapatan bulanan yang ideal adalah menempatkan alokasi investasi pada bagian awal. Alokasikan ke investasi dihitung menggunakan dasar persentase, sehingga akan ada sisa pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional bulanan. Prinsip yang digunakan adalah belanja disesuaikan dengan konsisi keuangan bukan sebaliknya. Apabila sisa dana bulanan terbatas, harus pandai-pandai mengatur pembelanjaan untuk kebutuhan makan  dan menghapus daftar belanja yang bukan kebutuhan utama. Misal karena keuangan yang mepet maka alternatifnya bisa mengurangi makan daging dan memilih untuk masak sendiri. Jika berkeinginan untuk makan lebih enak, artinya harus berusaha menambah penghasilan bukan mengeliminasi rencana menabung.

Pola manajemen keuangan dengan mengalokasikan investasi pada daftar pertama dalam membelanjakan pendapatan bulanan akan menyebabkan kita memiliki dana tabungan. Kemudian jika dana tabungan tersebut sudah terkumpul cukup banyak, ada berbagai pilihan yang dapat kita lakukan untuk memanfaatkan dana tersebut. Contohnya, dapat kita wujudkan dalam bentuk deposito, membeli emas, saham, atau aset tetap.  Jika kita memiliki anak kita dapat memilih investasi pada pendidikan dan kesehatan. Pendidikan di masa depan merupakan syarat untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas dan hal ini merupakan syarat dari kesuksesan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi yang sering terjadi saat ini adalah banyak keluarga muda yang mempunyai aset tetap atau membeli rumah dengan cara memanfaatkan fasilitas KPR dari perbankan. Kewajiban untuk membayar cicilan KPR per bulan tersebut termasuk bagian dari investasi. Artinya alokasi pertama dari pendapatan bulanan kita adalah untuk membayar cicilan dahulu. Pengetahuan pengelolaan keuangan yang kurang cerdas menyebabkan kita tidak memiliki aset tetap, tabungan atau simpanan. Oleh karena itu dalam setiap rumah tangga diharapkan membuat anggaran rumah tangga untuk mengatur pembelanjaan.

Anggaran Rumah Tangga

Alokasi pendapatan bulanan yang pertama wajib dialokasikan pada investasi atau saving sebesar 30%. Terdapat banyak pilihan investasi dengan pertimbangan keuntungan dan tingkat risiko. Investasi 30% yang dimaksud dapat berupa tabungan, asuransi keuangan, atau cicilan aset tetap. Alokasi kedua adalah dana cadangan sebesar 5%-10%. Dana cadangan dipersiapkan untuk hal-hal yang sifatnya insidentil atau mendadak di luar rencana.

Setelah pendapatan bulanan yang bersifat wajib sudah dialokasikan sebesar 40%, untuk investasi dan dana cadangan, sisa 60% dari pendapatan dapat dialokasikan untuk kebutuhan operasional yang sifatnya tetap. 

Alokasi kebutuhan operasional sudah tidak relevan lagi jika menggunakan persentase. Contoh kebutuhan yang bersifat tetap seperti biaya kendaraan, asisten rumah tangga, dan kebutuhan anak. Jika kebutuhan tetap tersebut sudah dialokasikan, sisanya kita belanjakan untuk kebutuhan makan. Masyarakat yang tidak terbiasa mengelola keuangan, cenderung bersikap pesimis. Kekhawatiran yang ada karena kecilnya pendapatan bulanan tidak akan cukup untuk makan jika meletakkan porsi investasi di bagian awal.

Prinsip anggaran belanja rumah tangga adalah mengatur kebutuhan operasional bulanan dengan mengandalkan 60% pendapatan. Pengeluaran yang sifatnya tetap dan kebutuhan makan harus diatur dengan rencana yang tepat. Terdapat beberapa aternatif yang dapat diambil, misal jika bensin mobil memerlukan biaya besar dapat memilih motor atau angkutan umum. Jika biaya listrik membengkak, mungkin dapat dikurangi pemakaian AC, lampu dan TV. Atau jika ternyata hanya ada sisa sedikit untuk kebutuhan makan, maka alternatifnya dapat mengatur jadwal menu makan sayur dan lain sebagainya. Jika ingin hidup lebih enak, artinya harus menambah penghasilan, bukan mengeliminasi kewajiban menabung.

Namun jangan khawatir, masih ada sumber pendapatan lain yang sifatnya tidak rutin, yaitu tunjangan hari raya (THR) dan bonus. THR dan bonus dapat dialokasikan untuk kebutuhan tersier, seperti pakaian, mainan anak, kosmetik dan lain sebagainya.

Kebiasaan membuat anggaran keluarga dan mengatur keuangan akan membawa dampak yang positif bagi kondisi keuangan kita. Konsistensi dalam berinvestasi menyebabkan kita dapat memiliki aset dan simpanan di masa depan. Sebagai bagian dari pelaku ekonomi, bijak dalam mengatur keuangan menjadikan kita masyarakat yang well literate dan bankable. Jadi, berinvestasilah sebelum berbelanja.

*Penulis adalah dosen Program Studi Akuntansi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.