OPINI: Pengembangan Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi Guru
24 November 2018 07:25 WIB Anik Ghufron Aspirasi Share :

Pada saat ini, kita sudah memasuki era revolusi industri 4.0. Beberapa bukti dapat dikemukakan, antara lain; transaksi jual beli barang serba berbasis daring, pemanfaatan teknologi informasi untuk kegiatan pembelajaran, baik yang bersifat hybrid maupun blended. Layanan perkantoran yang sudah mulai meninggalkan layanan yang berbasis konvensional dan diganti ke layanan berbasis daring. Transportasi dan akomodasi berbasis daring.

Kita tidak bisa melepaskan atau bahkan mengabaikan fenomena-fenomena kehidupan yang terjadi pada saat ini. Fenomena-fenomena kehidupan yang ada justru perlu diantisipasi dan dijawab secara tepat sehingga kita bisa hidup nyaman dan sejahtera. Tantangan bukan dianggap sebagai hambatan justru harus diubah menjadi peluang. Hal ini sejalan dengan pandangan Venti Eka Satya (2018) yang berkata, “dunia saat ini telah memasuki era revolusi industri keempat. Pada revolusi industri ini terjadi lompatan besar dalam sektor industri, ketika teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya. Agar mampu bersaing, Indonesia harus mampu mengadopsi Industri 4.0 ini dan mempersiapkan strategi yang tepat di semua sektor.”

Mungkin, tidak ada satu institusi di negeri ini yang tidak peduli atau acuh terhadap hiruk pikuk era revolusi industri 4.0. Presiden beserta para menteri kabinetnya telah berupaya keras untuk mengajak semua warga negara bersama-sama menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang terhadap fenomena kehidupan era revolusi industri 4.0 ini. Bagaimana kita bisa menjadi pemenang dan bukan menjadi pecundang di era revolusi industri 4.0 ini. 

Apa yang perlu dilakukan oleh para stakeholder bidang pendidikan, agar lembaga pendidikan sebagai agen perubahan atau pembaharu masyarakat sesegera terwujud? Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah mengembangkan pendidikan sesuai karakteristik kehidupan era revolusi industri 4.0.

Pengembangan Pendidikan

Setidak-tidaknya ada lima hal yang perlu kita lakukan dalam mengembangkan pendidikan yang relevan dengan era revolusi industri 4.0. Pertama, melakukan pergeseran paradigma pendidikan menuju ke paradigma heutagogic (self determined learning). Paradigma ini relevan diterapkan pada era revolusi industri karena menawarkan kebebasan kepada pebelajar dalam belajar. Sejak awal, pebelajar diberikan banyak pilihan tentang materi pembelajaran yang akan dipelajari, bagaimana membelajari, dan bagaimana membuktikan terhadap tingkatan penguasaan materi yang telah dipelajarinya.

Dalam implementasinya, paradigma heutagogi lebih menekankan pada tingkat kemandirian dan kematangan pebelajar dalam belajarnya. Semakin matang pebelajar dalam hal kemandirian belajarnya, maka tingkat ketergantungan pembelajar dari berbagai pihak (guru) dalam belajar harus semakin diminimalkan. Pebelajar dituntut untuk bertanggung jawab terhadap apa-apa yang akan dipelajari dan kapan mereka harus belajar.

Kedua, reorientasi kurikulum pada semua satuan pendidikan. Beberapa kegiatan yang perlu dilakukan, yaitu memasukkan ke dalam muatan kurikulum keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan di era revolusi industri 4.0, antara lain; berpikir kritis, kreativitas, inovasi, komunikasi, dan kolaborasi. Pengembangan kemampuan literasi digital, big data, dan kemanusiaan. Penggunaan atau aplikasi teknologi informasi dalam pembelajarannya dengan mendasarkan pada prinsip-prinsip belajar sepanjang hayat.

Desain kurikulum yang digunakan pada setiap satuan pendidikan harus mengacu dan mendasarakan pada karakteristik masing-masing satuan pendidikan tersebut (akademik, professional, dan vokasi). Sudah tidak saatnya lagi, kita menggunakan satu desain kurikulum (misalnya desain kurikulum berbasis kompetensi) pada semua satuan pendidikan. Demikian pula dalam pengembangan kurikulum, perlu menggunakan model-model kurikulum yang mampu menginspisasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan kondisi dan kebutuhannya sesuai kemajuan ilmu, teknologi, dan seni.  

Ketiga, perubahan peran pendidik. Di era revolusi industri 4.0, peran pendidik perlu dikuatkan pada peran sebagai agen pembelajaran, kurator, teknolog, kolaborator, ilmuwan, dan peneliti. Perubahan-perubahan peran tersebut sangat relevan diwujudkan mengingat yang dihadapi pendidik dan peserta didik adalah teknologi disrupsi sebagai dampak dari gelombang atau lompatan inovasi yang sangat cepat dan sulit diprediksi sebelumnya.

Interaksi edukasi antara pendidik dengan peserta didik lebih bersifat saling menguntungkan,  antara pendidik dan peserta didik memperoleh peluang yang sama dalam proses transmisi dan transformasi pengalaman belajar. Pada saat tertentu pendidik yang menginisiasi dan penyampai materi dan pada saat yang lain peserta didik yang aktif memaparkan materi sebagai hasil kajian atas tugas-tugas belajar yang diberikan oleh pendidik. 

Keempat, penguatan kegiatan inovasi dan pengembangan berbagai bidang yang diperlukan era revolusi industri 4.0, antara lain teknologi kecerdasan artifisial, robotik, internet, otomasi kendaraan, bioteknologi, nanoteknologi, teknologi printer tiga dimensi, ilmu-ilmu material, dan komputer kuantum. Selanjutnya, untuk merealisasikannya diperlukan dukungan dana yang memadai dan sumberdaya peneliti yang handal.

Kelima, percepatan internasionalisasi lembaga-lembaga pendidikan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperoleh pengakuan internasional terhadap mutu penyelenggaraan dan produk pendidikan di Indonesia. Apabila hal ini terwujud, maka mutu pendidikan kita akan tidak terlampau ketinggalan dengan lembaga pendidikan negara-negara lainnya. Bahkan sebaliknya, antar lembaga pendidikan yang ada di Indonesia dengan lembaga-lembaga pendidikan di negara lain bisa saling berkolaborasi untuk pengembangan ilmu, teknologi, dan seni yang dibutuhkan masyarakat era revolusi industri 4.0.

Sampai saat ini, lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia telah banyak yang terakreditasi nasional. Sementara itu, yang terakredasi internasional masih sedikit. Oleh karena itu, program internasionalisasi lembaga pendidikan ini sangat perlu untuk disegerakan perwujudannya.

Kelima kegiatan dalam pengembangan pendidikan yang telah dipaparkan di atas, tentu saja telah mulai dilaksanakan, walaupun aktivitasnya belum bersifat masif. Sementara itu. kegiatan-kegiatan lainnya mungkin baru diupayakan. Oleh karena itu, agar kita bangsa Indonesia tidak tergilas oleh hiruk pikuk kehidupan era revolusi industri 4.0, kita perlu memulainya dan melaksanakan berbagai aktivitas sebagaimana yang dituntut era revolusi industri 4.0.

*Penulis adalah Guru Besar FIP dan Ketua LPPMP UNY.