OPINI: Komunikasi Internal dan Pengembangan Daya Tarik Wisata

Ilustrasi wisata Jogja. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
28 Januari 2019 16:00 WIB Agus Rochiyardi Aspirasi Share :

Bagaimana mungkin sebuah daya tarik wisata dapat tumbuh dan berkembang dengan baik manakala komunikasi internal yang terjadi belum mampu memunculkan sinergi di antara sumber daya manusia dengan berbagai macam fungsinya.

Sumber daya manusia yang ada dalam sebuah organisasi memiliki kompetensi berbeda-beda, di mana seorang pemimpin dengan pengaruh, kemampuan komunikasi yang baik, akan mampu memotivasi, merangkul seluruh elemen yang ada dan menumbuhkan sinergi positif untuk menyelesaikan tujuan kelompok dan memajukan organisasinya (Gary Yukl,2010).

Secara sederhana komunikasi merupakan proses yang melibatkan pengiriman dan penerima informasi, yang ditransmisikan dan dimengerti dengan menggunakan bahasa verbal maupun simbol-simbol nonverbal yang dapat melalui berbagai media dan didalam prosesnya dapat diganggu adanya noise (Eric Baron,2010).

Noise merupakan hambatan komunikasi dapat mendistorsi kejelasan sebuah pesan, terkait problem masalah persepsi, informasi yang berlebih, kesulitan semantik, atau perbedaan budaya, berimpak kepada feedback.

Komunikasi interpersonal dilakukan dalam bentuk: oral komunikasi berbentuk pidato, diskusi kelompok, rumour ataupun gossip, dan lain-lain, komunikasi ini pesannya cepat, dapat diulang, dan mendapat feedback dengan cepat; komunikasi tertulis, surat, memo, nota dinas, email, dan lain-lain, biasanya penting dan kompleks karena bentuknya tangible, maka dapat diverifikasi, direkam dan disimpan waktu lama sehingga orang lebih hati-hati, dan feedback-nya sangat kurang; komunikasi nonverbal, kerlingan mata, senyum, gerakan tubuh, intonasi, ekspresi muka, dan lain-lain, karena itu komunikasi kurang sempurna tanpa mempertimbangkan non-verbal communication, misal ekspresi muka bila dikaitkan dengan intonasi, dapat memperlihatkan arogansi, agresifitas, ketakutan, malu dan karakteristik yang lainnya.

Beberapa faktor berpengaruh terhadap komunikasi berupa: filtering, merujuk pada informasi dimanipulasi oleh si pengirim dengan alasan tertentu; selective perception, komunikasi berdasarkan apa yang diinginkan sesuai dengan background-nya; information overload, banyaknya informasi masuk melebihi kapasitas, maka biasanya akan dipilih, pass over sehingga komunikasi tidak efektif; emosi, interpretasi pada saat marah akan berbeda dengan saat gembira; bahasa, kata yang sama bisa punya arti yang berbeda-beda, ini terkait dengan usia dan konteksnya; communication apprehension, kecemasan didalam komunikasi dapat membuat masalah karena mempengaruhi teknik komunikasi.

Secara umum ada empat dasar sifat manusia: Koleris, sifat tegas dalam mengambil keputusan, suka mengatur, menyukai tantangan baru dan optimistis; Plegmatis, sifat cinta damai, menghindari konflik, toleransi tinggi, pendengar yang baik, dan sabar; Sanguinis, sifat senang bergaul, menjadi pusat perhatian, emosi dan labil; Melankolis, sifat perfeksionis, terstruktur dan terencana, menghargai estetika, tidak banyak bicara, dan penuh analisa.

Tarik Ulur
Adanya berbagai sifat dasar manusia di dalam organisasi, maka akan terjadi interaksi yang beragam dan sangat dinamis, hasilnya bisa positif ataupun negatif untuk organisasi.
Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, nilai dan kemudahan berupa keanekaragaman alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi kunjungan wisatawan (Undang-Undang No.10/2009).

Sebuah organisasi yang berusaha dibidang daya tarik wisata, dengan kelompok orang yang ada didalamnya, bersama-sama menyediakan jasa pariwisata, yang bertujuan agar tercapai keinginan organisasi, mendapat keuntungan, mendapatkan pengakuan, dan lain-lain.

Di dalam penyelenggaraan organisasi biasanya akan terjadi tarik ulur terkait dengan kepentingan masing-masing fungsi, terutama terjadi pada saat penyusunan anggaran tahunan, implementasi pemotongan anggaran saat organisasi mengalami krisis, benturan kepentingan terkait kredibilitas, ketidaksesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota atau kelompok organisasi yang mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai atau persepsi, kejadian ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kinerja organisasi.

Personel pada setiap fungsi biasanya merasa yang paling berjasa didalam organisasinya, sehingga mereka merasa yang paling berhak untuk mendapatkan alokasi biaya yang lebih besar, perhatian yang lebih dibandingkan dengan fungsi yang lainnya. Apabila hal ini terjadi, maka akan muncul konflik atau persaingan yang tidak sehat dan masing-masing berusaha untuk mempengaruhi satu dengan lainnya, yang berdampak pada organisasi yang kurang kondusif.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang jasa khususnya hospitality, maka sudah sewajarnya apabila kepentingan pelanggan yang harus diutamakan. Sehingga karyawan harus lebih memahami orang lain dan menghormati keberagaman dan harus lebih fokus pada visi, misi dan tujuan organisasi.

Untuk mengatasi permasalahan internal yang ada, perlu dilakukan pengurangan noise dan faktor-faktor penghambat komunikasi agar terjadi komunikasi yang efektif, yaitu dengan dibuat aturan-aturan yang jelas dan adil secara tertulis, baik berupa pengumuman, peraturan perusahaan, ataupun bentuk budaya organisasi yang mengikat anggota-anggotanya. Perlu pendekatan keteladanan dari pimpinan yang berorientasi pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) agar pemahaman dan mindset karyawan berfokus pada pelayanan, baik internal maupun eksternal.

Agar lebih memudahkan didalam pengelolaan sumberdaya manusia nantinya, perlu dipikirkan didalam penerimaan karyawan, disesuaikan dengan sifat dasar manusia, dan ini dijadikan salah satu kriteria terkait dengan tipikal pelayanan ataupun hospitality. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan komunikasi internal lebih baik dan dapat terealisir pengembangan daya tarik wisata.

*Penulis merupakan Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur