Mengurai Masalah TWCB dengan Borobudur Highland

Ilustrasi Candi Borobudur. - Ist/Borobudur Park
12 Februari 2019 08:00 WIB Agus Rochiyardi Aspirasi Share :

Candi Borobudur sebagai aset negara sekarang ini pada posisi yang mengkhawatirkan terkait dengan jumlah kunjungan wisatawan. Candi Borobudur mempunyai kapasitas terpasang sekitar 276.480 pengunjung per tahun atau 128 orang per hari (paparan expert meeting 6-10 Agustus 2018). Padahal, jumlah kunjungan sekitar empat juta orang per tahun, katakanlah yang naik candi sebanyak 50%, atau dua juta orang, maka sudah tujuh kali lipat dari kapasitas terpasang.

Hal ini akan berdampak keausan pada batu tangga dan lantai, apalagi kalau terjadi vandalisme, kerusakan dapat terjadi juga pada dinding relief. Namun, adanya Candi Borobudur diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara yang notabene mendatangkan devisa yang dapat dipergunakan untuk pembangunan Indonesia.

Sebagai heritage peninggalan sejarah bangsa Indonesia, Borobudur diakui sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), yaitu salah satu lembaga bergengsi di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang berkedudukan di Paris, Prancis, maka sudah sewajarnya banyak pihak yang ikut peduli terkait dengan konservasi maupun pemeliharaan Candi Borobudur tersebut.

Badan Otorita Borobudur merupakan sebuah badan yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No.46/2017, yang sekarang ini menginduk ke Kementerian Pariwisata, dengan tugas fungsi koordinatif destinasi Jogja-Borobudur, Solo-Sangiran, Semarang-Karimunjawa dan Dieng, dan fungsi otoritatif yaitu membuat kawasan wisata baru di sebelah barat kurang lebih 10 kilometer dari Borobudur di daerah perbukitan Menoreh dengan luas 309 hektare, yang diharapkan menjadi salah satu 10 Bali baru, yang diberi nama Borobudur Highland.

Daerah perbukitan Menoreh yang dikelola Perum Perhutani merupakan areal hutan produksi dengan potensi ekowisata yang sangat luar biasa. Dengan vegetasi hutan pinus, kontur lahan yang sangat eksotis dan pemandangan yang indah, sangat sesuai dijadikan kawasan ekowisata.

Potensi ekowisata di daerah Borobudur Highland dapat dikembangkan untuk budaya, resort, dan adventure. Selain itu banyak desa-desa yang memiliki kekhasan khusus dan dapat menjadi keunikan sekaligus penunjang aktivitas di Borobudur Highland.

Dengan adanya kawasan wisata baru, diharapkan mampu memecah keramaian di Candi Borobudur sehingga mengurangi beban pengunjung yang berlebih, dan juga menyejahterakan masyarakat sekitar, menguatkan kearifan lokal dan mampu mendorong semua potensi yang ada disekitar areal wisata lebih maju dan kompetitif sehingga kegiatan wisata dapat bertahan.

Pengembangan kawasan wisata memerlukan perencanaan yang terintegratif, dimulai dari penyusunan masterplan, pembuatan detail engeneering design sampai dengan tahap implementasi, yaitu pembangunan kawasan. Untuk merealisasikan ini, diperlukan dana yang besar dan waktu yang lama, seperti penyediaan aksesibilitas, amenitas, atraksi dan lain-lainnya.

Namun demikian, untuk percepatan Borobudur Highland dikenal sebagai kawasan wisata, tanpa menunggu pembangunan amenitas, atraksi , aksesibilitas dan lain-lainnya, maka langkah tercepat yang dapat dilakukan yaitu dengan pembuatan Nomadic Tourism.

Glamping de-Loano
Nomadic Tourism adalah gaya berwisata baru, ketika wisatawan dapat menetap dalam kurun waktu tertentu di suatu destinasi wisata dengan amenitas yang portable dan dapat berpindah-pindah. Bentuk wisata ini dapat bermacam-macam, seperti Glamours camping (Glamping), karavan (mobil rumah), homepod (rumah telur) dan lain-lain. Terkadang nomadic tourism ini dianggap sebagai solusi sementara namun dapat menjadi solusi selamanya (Arif Yahya, 2018).

Badan Otorita Borobudur pada fungsi otoritatif mencoba memulai dengan membuat glamping dilahan seluas satu hektare yang diberi nama Glamping de-Loano di Pangkuan Sedayu. Nama ini diambil karena letak glamping ini berada di lokasi kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo sehingga pemilihan nama ini jadi penguat lokasi yang sudah ada.

Fasilitas glamping berupa 11 tenda berkapasitas 66 orang; satu tenda musala; satu tenda dinning kapasitas 70 orang; satu tenda meeting kapasitas 70 orang dan dilengkapi titik-titik swafoto yang Instagramable.

Berbagai fasilitas kegiatan siang hari yang dapat dilakukan para tamu ataupun pelanggan individual maupun kelompok, seperti minat khusus yaitu jungle tracking, jungle survival; experiencing learning seperti team building, leadership training program; cultural program; interaksi dengan masyarakat; volunteer program; dan lain-lain.

Banyak juga kegiatan yang dapat dilakukan malam hari dalam rangka meningkatkan keakraban keluarga ataupun kelompok, seperti api unggun, nonton bareng, pentas seni dan lain-lain.Selain program-program tersebut, ada juga lahan yang dipergunakan untuk coworking space yang dilengkapi Internet, juga ruang keluarga untuk lebih mengakrabkan keluarga.

Kuliner yang ditawarkan merupakan makanan khas daerah Jateng dan DIY, seperti gudeg, geblek, jajan pasar dan lain-lain. Hal ini dimaksudkan untuk menambah sensasi rasa dan penguat kekhasan glamping tersebut, apalagi pengelola Glamping de-Loano merupakan pemain lama di bidang glamping yang sudah berpengalaman mengelola di beberapa lokasi di Indonesia, seperti di Sukabumi dan Bali.

Untuk kepentingan jangka panjang, Badan Otorita Borobudur bekerja sama dengan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan terkait dengan potensi flora dan fauna khususnya yang ada di daerah Glamping de-Loano dan Borobudur Highland pada umumnya sehingga memperkuat kegiatan kepariwisataan yang ada.

Keberadaan Glamping de-Loano di Borobudur Highland diharapkan semakin menambah keberagaman kegiatan pariwisata yang ada di Jateng dan DIY sehingga lama tinggal wisatawan bisa bertambah dan tentunya pengeluaran uang wisatawan juga semakin besar.

*Penulis merupakan Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur