OPINI: Puasa dan Dekolonialisasi Kerakusan

ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender
06 Mei 2019 06:07 WIB David Efendi Aspirasi Share :

Sejarah menunjukkan bagaimana puasa sebagai ritual untuk mengeskpresikan perlawanan terhadap segala bentuk kolonialisasi dan penindasan. Praktik puasa yang bukan milik satu agama terbukti dapat membangkitkan solidaritas rakyat untuk melawan berbagai bentuk kerakusan imperealisme, rezim diktator dan pemerintahan korup. Titik kisar sejarah itu paling kuat dapat kita saksikan dalam sejarah Islam di Indonesia dan juga Hindu di India.

Puasa praktik ritual yang sejatinya sebagai upaya menomorduakan ambisi duniawi (kerakusan) dan jasadi dan lebih mengutamakan dimensi kejiwaan. Alhasil, makna puasa adalah menghindarkan sikap kerakusan dengan memboikot nafsu hewani–nafsu kebinatangan. Puasa juga dapat dimanknai sebagai manifesto keberpihakan dan solidaritas sosial.

Dekolonialiasi sebagai anti tesis dari praktik penguasaan lahir dan bathin secara paksa oleh pihak yang lebih kuat. Kolonialisme modern mewariskan tindakan exploitasi akibat surplus of value yang dilegalkan negara dan merebut kebebasan sehingga dekolonialisasi atas praktik rakus adalah sebuah keniscayaan—yang itu dipancarkan oleh puasa dalam bentuk praktik pemaknaan yang aktual.

Ketimpangan dan penindasan tidak dibenarkan agama apa pun sebab menegasikan rasa keadilan. Semua agama mempunyai visi pembebasan. Praktik sehari-hari penindasan dan kerakusan oleh aktor negara dengan cara korupsi atau power abuse harus diakhiri dengan mengembalikan makna puasa sebagai upaya pembebasan.

Dalam sejarah Islam tertulis kemenangan perang Badar dilakukan pada bulan puasa. Kemenangan ini hampir tidak masuk akal para tentara Islam akibat musuh dan perlengkapan yang tidak sebanding dengan yang dimiliki pasukan yang sedang berpuasa. Perang antara kelompok pro-peradaban (Islam) dan anti peradaban dimenangkan oleh kubu Islam. Praktik kekerasan oleh kelompok Quraish adalah bentuk penolakan mereka terhadap kehidupan manusiawi.

Jadi, puasa selain hablum minaa Allah adalah medium untuk meningkatkan militansi, kepercayaan diri yang akan berkonstribusi pada perjuangan nilai/makna. Dengan puasa, manusia merasa punya tempat kembali, sebaliknya kelompok islamophobia semakin takut akan kehancuranya yang sia-sia. Inilah propaganda ideologi yang sangat melekat pada awal-awal sejarah kemenangan Islam. Dalam gerakan sosial, ideologi adalah yang membuat seseorang rela mati untuk keyakinannya.

Puasa perlawanan
Di Indonesia, perang kemerdekaan meletus bulan Agustus tahun 1945 bertepatan bulan puasa yang berujung pada proklamasi kemerdekaan republik Indonesia. Sekitar 89% penduduk sedang melakukan ibadah puasa pada peristiwa itu. Dalam suasana bathin orang puasa yang ada adalah semangat pembebasan, kemerdekaan, dan anti penjajahan. Jika ada penghalang melakukan keyakinan tersebut maka mereka berani mati mempertahankannya karena jihad anti kolonial adalah kewajiban bagi setiap muslim.

Sayang, akhir-akhir ini tidak muncul solidaritas anti korupsi di saat praktik-praktik penyimpangan kekuasaan merajalela. Puasa kurang menemukan daya transformatifnya sehingga ada ungkapan tidak korupsi di bulan puasa, nanti lanjut korupsi usai puasa. Puasa tak lagi memiliki dimensi alat perlawanan tetapi menjadi rutinitas.

Misalnya, di saat hak-hak kaum lemah dihabisi, dirongrong, dan dilemahkan tidak muncul tokoh dengan kekuatan simbol spiritual yang mampu menyatukan kesadaran publik sebagaimana di India. Koruptor dan mafia semakin berani melawan kebenaran yang dikenal istilah the corruptors fight back. Puasa mengalami keterpurukan makna ketika berhadapan dengan praktik penindasan sehari-hari yang dekat dengan pelaku puasa.

Sebagai penutup, puasa harusnya menjadi satu kekuatan spiritual yang dapat ditransformasikan dalam energi terbarukan untuk memastikan kehidupan lebih adil dan manusiawi. Puasa adalah niscaya sebagai alat perlawanan yang efektif untuk menolak dominasi ekonomi, yang dimulai dari penolakan atas praktik korupsi dan keserakahan. Keserakahan dapat dilawan dengan tidak makan/minum apa yang mereka ingin kuasai, dengan tidak mendewakan uang dan harta benda. Terasa berat, tapi itulah hakikat makna puasa sebagai alat perlawanan, sebagai alat dekolonialisasi.

*Penulis merupakan dosen Ilmu Pemerintahan UMY