OPINI: Puasa Berkarakter Unggul

ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender
08 Mei 2019 04:27 WIB Abdus Shomad Hikmah Ramadan Share :

Ramadan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat muslim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah, rahmah dan penuh ampunan (maghfirah). Ibadah puasa pada Ramadan mempunyai orientasi pada pembentuk karakter diri seseorang menuju derajat mulia yaitu takwa dihadapan Allah Tuhan semesta alam sehingga orang yang menjalankan puasa atas dasar iman dan keyakinan kepada Allah ditempatkan di tempat yang terbaik dan muliakan di sisi-Nya.

Hanya Allah yang dapat menilai kualitas ibadah puasa yang dilakukan oleh seseorang apakah orang tersebut benar-benar bertaqwa atau tidak. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Alquran surat al baqarah ayat 183 “Wahai orang-orang beriman diwajibkan atasmu puasa seperti apa yang telah diwajibkan orang-orang sebelumu agar kamu bertakwa.”

Ibadah puasa yang telah diwajibkan bagi orang-orang yang beriman ternyata mempunyai dampak positif dalam beberapa hikmah, di antaranya yakni hikmah pada dimensi jasmani (kesehatan), hikmah sosial, dan hikmah spiritual.

Untuk menuju derajat takwa tersebut tentunya tidak hanya menjalankan puasa sekadar menggugurkan kewajiban saja dan hanya bisa menahan lapar, dahaga dan hubungan suami istri, namun ibadah puasa harus dikerjakan dilandasi atas dasar ruhiyah spiritual yang tinggi atau dalam bahasa transedentalnya adalah Syiammul Makrifah (mengenal puasa lebih dalam).

Adapun cara yang dapat penulis sarankan untuk mencapai derajad takwa yang sebenar-benarnya (manusia yang unggul) dengan segala keterbatasan ilmu dan pengetahuan di sini ada rumus mencapai maqam tersebut yaitu dengan tiga hal yang pertama, Mahabbah. Muroqabah dan Muhasabah.

Tiga hal itulah yang merupakan pokok penting dalam ad-dinul Islam yaitu Iman, Islam dan ihsan. Mahabbah seseorang dalam menjalani puasa dilakukan dengan penuh suka cita dan bahagia, mempunyai rasa cinta terhadap perintah agama ini tanpa ada paksaan maupun intervensi maka dapat dimaknai mempunyai ruhiyah keimanan yang mendalam. Cinta sejati kepada Allah Ta’ala dan Nabi SAW merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Rasa tersebut tidak dapat diucapkan dengan kata-kata, tidak dapat dideskripsikan dengan bahasa apapun.

Evaluasi Diri
Yang kedua yaitu Muroqobah, dapat diartikan merasa dalam pengawasan Allah (merasa diawasi oleh Allah) orang yang berpuasa akan bertindak jujur tidak ada unsur kebohogan apalagi pencitraan karena jika seseorang yang berpuasa melakukan kesadaran dirinya sedang diawasi oleh Allah sehingga tidak mau melakukan perbuatan yang membatalkan pahala puasa. Jika seseorang sedang berpuasa maka kecenderungan akan berkata, berpikir dan bertindak lebih hati-hati karena dirinya merasa diawasi oleh Allah SWT, pada dimensi ini orang tersebut sudah melakukan implemtasi dari makna Ihsan.

Yang ketiga yaitu Muhasabah, yaitu mengevaluasi. Orang yang cerdas adalah orang yang selalu melihat kekurangan diri sendiri dan selanjutnya melakukan perbaikan sehingga dirinya akan menjadi lebih baik. Bagi orang yang berpuasa, untuk mencapai kualitas puasanya dari tahun ke tahun, apakah meningkat atau tidak, diperlukan indikator diri yaitu evaluasi dirinya apakah kualitas puasanya meningkat atau bahkan sebaliknya.

Watak (karakter) manusia yang mudah mengevaluasi diri (muhasabah) akan mudah minta maaf dan memberi maaf kepada orang lain, sehingga menyebabkan manusia tersebut berhati lembut. Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Puasa dengan implimentasi tiga hal itulah (Mahabbah, Muroqabah dan Muhasabah) merupakan rumus yang mustajabah dalam usaha mencapai derajad taqwa di sisi Allah, sekaligus berorientasi dalam membentuk karakter diri seseorang menjadi manusia mulia, unggul diantara makhluk Allah yang ada di alam semesta.


*Penulis merupakan dosen Program Vokasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta