OPINI: Hikmah Ujian, Lulus atau Remidi

Ilustrasi stres - Reuters
22 Mei 2019 06:02 WIB Hijriyah Oktaviani Hikmah Ramadan Share :

“Seseorang akan terus menghadapi ujian yang sama jika setiap kali ujian datang, ia tak pernah lulus atau belajar dari kegagalan ujian tersebut,” demikian ungkapan seorang motivator yang kebetulan juga adalah pengusaha.

Ia pun mencontohkan, “Misalnya ada orang tiba-tiba sakit perut. Ia terus mencari obat, reda. Dan, ternyata selang beberapa waktu dia sakit perut lagi. Loh, kenapa jadi sering sakit perut,” seseorang tersebut bertanya tanya tentang kondisi tubuhnya.

Orang yang seperti itu tidak mengambil hikmah. Sebenarnya ketika sakit perut pertama kali, ia mestinya mengambil hikmah, cek kebiasaan makannya. Apakah makanannya berdasarkan kebutuhan atau hanya menuruti selera, sambel yang banyak misalnya. Jika dia tidak mengambil hikmah, sampai kapanpun, sekalipun ia minum obat, sakit perut itu akan terus menimpanya. Kenapa, ia bersandar pada obat dan tidak benar-benar ingin sehat. Kalau mau sehat, ambil hikmah dan berhenti makan secara tidak sehat.

Pandangan tersebut patut memantik kesadaran kita untuk melihat hidup ini dengan menemukan atau mengambil hikmah dari setiap kejadian yang mewarnai kehidupan ini. Allah Ta’ala pun memerintahkan kita untuk berpikir dengan kisah-kisah, perumpamaan yang Allah jabarkan di dalam Alquran.

“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar merepa berpikir.” (QS. Al-A’raf: 176).
Dalam bahasa umum hikmah dipahami sebagai kebijaksanaan atau bijaksana. Tentu saja, makna praktis yang bisa kita ambil adalah bagaimana kita senantiasa mau mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang mengitari kehidupan sekaligus mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah-kisah yang ada di dalam Alquran. Dengan demikian, perubahan mindset dan perilaku bisa secara perlahan diupayakan di dalam diri kita.

Secara lebih utuh, kisah Nabi Yusuf AS adalah kisah di dalam Alquran yang terurai secara keseluruhan di dalam satu surah, yang tentu saja memudahkan kita untuk mengambil pelajaran (hikmah) di dalam kisah tersebut.

Di antara hikmah terbesar dari kisah Nabi Yusuf AS adalah kesabarannya dalam menghadapi cobaan hidup dan bahkan Nabi Yusuf AS berlapang dada dan memaafkan saudara-saudaranya saat dirinya menjadi orang yang telah Allah angkat derajatnya.

Hikmah lainnya dari kisah Nabi Yusuf AS adalah agar kita jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, sekalipun rasa-rasanya hidup diterpa kesulitan secara bertubi-tubi. Kemudian, jangan pernah kompromi dengan kebatilan, sebab sekalipun harus menghadapi kesulitan karena konsisten di dalam kebenaran, Allah lah yang akan berikan jalan keluar terbaik dan membalikkan keadaan.

Selanjutnya, jangan pernah dendam, sekalipun terhadap mereka yang telah membuat hidup kita sengsara. Maafkan dan terimalah mereka kembali. Di sana ada kebahagiaan luar biasa.

Dengan demikian, sebenarnya hidup seorang Muslim tidak perlu dilanda stress dan frustasi. Sebab, apapun yang kita alami, pada hakikatnya solusi sudah ada di dalam Alquran.

Pertanyaannya adalah, apakah diri kita telah benar-benar mengambil pelajaran dengan sungguh-sungguh mentadabburinya atau sekedar tahu tanpa pernah melakukan perenungan dan pendalaman dari setiap ayat-ayat Allah di dalam Alquran.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk mampu mengambil hikmah, sehingga dapat mengambil pelajaran dan istiqomah di dalam keimanan dan kebenaran. Wallahu a’lam.

*Penulis merupakan Kepala Biro Humas dan Protokol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta