OPINI: Memaknai Ramadan sebagai Bulan Refleksi Diri

ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender
28 Mei 2019 06:02 WIB Eko Purwanti Hikmah Ramadan Share :

Ramadan adalah bulan suci yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia karena berbagai keutamaan yang terdapat di dalamnya. Ramadan adalah bulan ketika Allah akan melipatgandakan pahala atas segala amal baik yang dilakukan oleh manusia. Selain itu, Ramadan adalah bulan dimana Allah juga membuka pintu ampunan seluas-luasnya terhadap segala kesalahan dan dosa yang telah dilakukan oleh manusia.

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”(HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760). Oleh karena itu, banyak umat Islam yang membuat perencanaan dengan matang setiap bulan Ramadan tiba, apalagi karena di dalam bulan Ramadan ada satu malam yang jauh lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qodar. Akan tetapi, karena bulan Ramadan hadir setiap tahun, maka banyak pula umat Islam yang terperangkap ke dalam rutinitas dan tradisi tahunan Ramadan belaka. Pernahkah kita melakukan refleksi diri mengenai makna bulan suci Ramadan bagi kita?

Secara singkat refleksi dapat diartikan sebagai think about something atau berpikir mengenai sesuatu. Oleh karena itu, refleksi diri dapat diartikan sebagai berfikir tentang diri sendiri mengenai sikap, perilaku, dan perbuatan yang telah dilakukan. Kaitannya dengan bulan suci Ramadan, maka refleksi diri dapat diartikan secara lebih luas dengan berfikir dan introspeksi diri mengenai sikap dan perilaku serta perbuatan-perbuatan yang pernah dilakukan selama bulan Ramadan ini.

Sebagai contoh dari refleksi diri adalah kita bertanya kepada diri sendiri, misalnya apakah sikap dan perilaku kita sudah semakin baik dan santun, baik terhadap Allah, manusia, ataupun alam. Contoh sikap kita yang baik terhadap Allah adalah memenuhi panggilan sholat secara tepat waktu, selalu ikhlas dalam mengerjakan semua amalan ibadah, selalu mengingat Allah dalam setiap kesempatan, dan membaca serta mengamalkan ayat-ayat Allah secara rutin, dan sebagainya.

Sementara itu, kita juga bertanya pada diri sendiri apakah sikap dan perilaku kita terhadap manusia lain sudah baik, misalnya berbicara santun dan lembut, tidak menyinggung perasaan, ramah dan tidak jutek, serta tidak membicarakan keburukan orang lain di belakang alias menghibah.

Refleksi Diri
Adapun refleksi diri mengenai sikap dan perilaku kita terhadap alam dapat dilakukan dengan bertanya pada diri sendiri seperti apakah kita sudah meringankan beban bumi dengan tidak membuang sampah secara sembarangan, mengolah sampah organic dan mendaur ulang sampah nonorganik, menghemat air dan bahan bakar secara bijaksana, dan sebagainya.

Mengapa kita perlu melakukan refleksi diri? Secara sederhana, di dalam ajaran Islam ada konsep waktu bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan kalau hari ini sama saja dengan hari kemarin maka kita termasuk ke dalam golongan orang yang merugi. Selain itu, di dalam Alquran surat Al Hasyr: 18, Allah berfirman yang artinya ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’. (Terjemahan Q.S. AL Hasyr: 18). Jadi, refleksi diri sebagai bentuk introspeksi diri sendiri hukumnya wajib bagi umat Islam. 

Lantas, bagaimana kita melakukan refleksi diri terhadap ibadah kita di bulan Ramadan tahun ini?  dan apa tindak lanjut dari refleksi diri kita ini? Kita bisa bertanya pada diri sendiri mengenai apa yang sudah kita lakukan dan apa yang belum sempat kita lakukan. Sudahkah kita berpuasa sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam yang benar? Sudahkan kita beramal sholeh dengan misalnya memberi makan berbuka untuk teman yang sedang berpuasa? Sudah berapa juz Alquran yang kita baca? Apakah kita selalu rajin mengikuti tarawih dan kajian Islami selepas sholat subuh di masjid?

Setelah kita berpikir dan melakukan refleksi diri, maka langkah penting selanjutnya adalah mempunyai niat yang kuat untuk bisa melanjutkan semua amalan baik yang telah dilakukan, memperbaiki dan tidak mengulang kesalahan yang sama selama bulan Ramadan ini, dan meninggalkan segala perbuatan yang sia-sia sebagai sarana kita untuk menggapai ketakwaan sebagai tujuan akhir ibadah puasa kita.


*Penulis merupakan dosen Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta