OPINI: Pilar Bertahan Profesi Akuntan

Ilustrasi uang. - Bisnis/Rachman
27 Juni 2019 08:02 WIB Totok Budisantoso Aspirasi Share :

Setiap saat, kita disuguhi parade kejutan kehidupan yang menjadi buah dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Jargon baru seperti Revolusi Industri 4.0 seakan menjadi dewa baru pola kehidupan. Memang harus diakui bahwa kehadiran momentum itu membawa perubahaan pada penyesuaian pekerjaan pada manusia, mesin, teknologi dan proses di berbagai bidang profesi, termasuk profesi akuntan.

Teknologi baru mengubah seluruh mata rantai kegiatan ekonomi dan social. Perubahan besar seperti gelombang besar menghantam rangkaian bisnis sektor manufaktur, sektor perdagangan dan keuangan dengan penggunaan artificial intelligence (AI), e-commerce, big data, fintech dan shared economies. Berbagai model bisnis dan transaksi keuangan telah terimbas dampak arus digitalisasi.

Toko konvensional mulai tergantikan dengan online marketplace, agen perjalanan konvensional tergantikan dengan aplikasi travel agent yang menjadikan perjalanan lebih mudah dan murah, serta munculnya moda transportasi online menggantikan taksi dan ojek tradisional. Pelayanan perbankan berubah drastis yang memungkinan nasabah menyetor dan menarik tabungan tanpa harus ketemu pegawai bank, serta penggunaan uang elektronik digital yang mempermudah dan mempercepat pembayaran transaksi dibanding uang tunai.

Dalam pusaran perubahan itu, dimana signifikansi peran akuntan? Konon, deras dan banyaknya nya informasi justru berbanding terbalik dengan kebutuhan tenaga manusia. Termasuk di dalamnya adalah profesi akuntan yang justru diperkirakan akan tergantikan oleh robot. Bahkan ada yang sudah memperkirakan bahwa 95% aktivitas akuntansi dan akuntan digantikan perangkat lunak berbasis robotik dan analisis data (Big Data). Mereka akan mengambil alih proses pencatatan, pemilahan dan pengolahan transaksi bahkan sampai analisis yang sangat sophisticated. Dalam konteks ini diskusinya bergeser dari signifikansi ke topik eksistensi. Diskusi yang terkesan agak provokatif dan menakutkan bahwa ada potensi, eksistensi akuntan menjadi sedemikian terancam.

Dalam berbagai diskusi ilmiah yang ramai dihadiri para pakar, diamini bahwa salah satu cara bertahan adalah meningkatkan kefasihan berteknologi. Revolusi teknologi menuntut profesi akuntan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi. Cara kerja dan praktik akuntan perlu diubah untuk meningkatkan kualitas layanan dan ekspansi global melalui komunikasi daring dan penggunaan cloud computing. Para akuntan perlu menguasai data non-keuangan seperti data analysis, information technology development dan leadership skills. Diperlukan pemetaan risiko yang semakin komprehensif. Aktivitas pengakuan dan penilaian dalam akuntansi akan semakin kritikal seiring perkembangan teknologi dan inovasi.

Perkembangan teknologi yang sangat dahsyat mendorong dengan sangat cepat posisi back office profesi Akuntan tergantikan oleh software dengan rangkaian aplikasi yang sangat canggih. Ketidakmampuan untuk merespon perkembangan ini akan menyebabkan profesi tersapu dari kancah percaturan bisnis. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwa akuntansi adalah bahasa global yang melewati batas-batas geografis antar negara dan diterima sebagai bahasa akuntabilitas. Konteks akuntabilitas inilah yang mestinya akan memberi peluang pada akuntan untuk tetap berperan secara produktif dalam dunia bisnis. Model-model bisnis yang berkembang seperti berbagai fintech menciptakan peluang sekaligus ancaman yang nyata. Kemampuan menakar resiko terkait dengan model-model baru bisnis didasarkan pada keahlian dan wawasan yang luas.

Dalam hiruk pikuk perputaran bisnis yang berubah dengan cepat, diharapkan akuntan professional mampu mengurai complexity dengan memberi solusi profesional menjadi clarity. Di sinilah akuntan mestinya menempatkan titik utama ekstistensi sebagai profesi yang tidak akan di anak tirikan. Dalam proses itulah dibutuhkan elemen utama profesi akuntan yaitu integritas. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, integritas dimaknai sebagai mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Tentu saja tidak bisa dipungkiri bahwa kompetensi teknis adalah bekal yang penting untuk berkiprah secara professional. Meskipun demikian, dibutuhkan pengikat kuat untuk menjamin signifikansi dari kompetensi teknis yang dikuasai.

Tanpa ikatan integritas yang kuat, penyangga kepercayaan public, kasus-kasus yang terkait dengan profesi akuntan akan semakin menyudutkan. Kasus terakhir yang melibatkan salah satu flag carrier Indonesia - Garuda Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran akuntan di dalamnya. Manipulasi akuntansi yang terjadi dan ketidakmampuan untuk mengungkapkan dan menyampaikannya di hadapan public adalah tamparan keras bagi profesi akuntansi.

Menjadi tuntutan juga sekarang bahwa di luar himbauan untuk mengembangkan kompetensi teknologi, tidak boleh dilupakan untuk nurturing kompetensi etis yaitu membangun integritas profesi. Integritas yang dimaknai sebagai upaya untuk menjaga marwah profesi yang pada dasarnya berpegang pada kejujuran dan dapat dipercaya. Menjadi pesan penting juga bahwa dalam proses pendidikan dan pembelajaran bagi profesi akuntan untuk memberikan porsi yang cukup untuk menguatkan sisi integritas. Saya percaya bahwa perkawinan antara kompetensi teknis di bidang rekayasa informasi keuangan berbasi teknologi informasi dan kekuatan integritas akan mengembalikan akuntan di porsi yang penting dalam rantai bisnis terkini. Mari kita perjuangkan bersama.


*Penulis merupakan dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta