OPINI: Membangun Zonasi Peradaban

Ilustrasi siswa sekolah - JIBI
10 Juli 2019 05:00 WIB Isdiyono Aspirasi Share :

Setiap calon raja pada zaman kerajaan nusantara, wajib dikirim ke suatu daerah yang jauh dari kerajaan. Mereka akan kembali pada saatnya menjadi dewasa, setelah bersentuhan secara langsung dengan masyarakat. Bahkan, identitasnya dihilangkan untuk menyatu dengan rakyat jelata, pedagang, pegawai dan pejabat-pejabat daerah.

Bertemunya dia pada berbagai macam karakter, menumbuhkan kepekaannya terhadap komunikasi sosial. Sehingga, ketika pada saatnya ia kembali ke istana sudah siap dan dewasa untuk memimpin rakyatnya dengan berbagai macam kepribadiannya. Beberapa tidak mau kembali dan membangun daerah yang ditinggali yang dikemudian hari menjadi kota-kota dengan karakter kuat baik dalam budaya maupun sejarah persebaran agama.

Hal yang menarik adalah tidak semua pangeran mendapatkan pendidikan eksklusif dengan guru-guru terbaik, teman terbaik, fasilitas terbaik atau nama almamater terbaik. Atau bisa kita sepakati bersama bahwa semua pangeran wajib untuk belajar di lingkungan yang terbatas dengan masyarakat berbagai lapisan dan berbagai macam problematikanya.

Karena itu, tidak hanya pengetahuannya saja yang bertambah tetapi juga selaras dengan kemampuan olah gerak, olah irama dan olah jiwa atau secara singkat Ki Hajar Dewantara menyebutnya sebagai sebagai keseimbangan wiraga, wirama dan wirasa. Kalau dikomparasikan dengan kondisi saat ini, multiple intelligence yang dipopulerkan oleh Howard Gardner, secara nyata telah dipraktikkan dalam sejarah panjang dunia pendidikan kita melalui konsep tersebut.

Selama bertahun-tahun lamanya, dunia pendidikan kita utamanya di sekolah dasar mendapatkan sorotan tajam dari masyarakat. Penilaian akhir dengan angka yang dipatenkan dengan peringkat, selama bertahun-tahun dianggap sebagai penyebab utama kurang berkembangnya pendidikan kita dalam memfasilitasi peserta didik dengan segala wujud dan kemampuannya. Seolah-olah kesuksesan para peserta didik hanya ditentukan oleh seberapa besar nilai ujian. Padahal, pada kenyataannya tidak. Banyak anak-anak pintar kemudian malah bekerja di unit-unit usaha atau perusahaan yang dibangun oleh anak-anak yang pada awalnya di cap gagal.

Optimisme Kurikulum 2013
Rapor dengan lebih banyak uraian daripada angka pada akhirnya bisa kita jumpai bersama melalui kurikulum 13. Pengembangan pembelajaran dengan konsep high order thinking skill atau pembelajaran dengan pemikiran mendalam termuat di dalamnya. Peserta didik tidak hanya mampu memecahkan soal ujian, tetapi bisa memecahkan permasalahan yang ada di dalam suatu persoalan. Sedikit demi sedikit, pendidikan memfasilitasi generasi muda dan orang tua untuk tidak hanya melihat nilai secara parsial, tetapi juga melihat proses yang dilaksanakan oleh anak.

Dalam perkembangannya, secara perlahan dinamika pendidikan telah mulai berlanjut pada konsep mencerdaskan kehidupan bangsa secara adil dan merata sesuai dengan UUD 1945 dan Pancasila sila ke-5. Pendidikan yang memfasilitasi proses belajar siswa, diikuti dengan sistem zonasi dalam kelanjutan belajar di jenjang selanjutnya. Meskipun, di tahun-tahun awal pelaksanaannya ini sistem zonasi mendapatkan banyak kritikan terutama oleh para orangtua siswa yang kebingungan dalam mempersiapkan anak-anaknya.

Keberadaan media sosial turut mempercepat berbagai macam keluhan tersebar. Sisi positif dari tersebarnya keluhan-keluhan tersebut adalah cepatnya orang tua menyesuaikan sistem dalam menentukan keberlanjutan pendidikan anak-anaknya. Pasca era reformasi ini, sudah bukan saatnya kewajiban tertuju pada kewajiban belajar sembilan tahun. Sudah saatnya pendidikan kita mampu untuk menjawab problematika-problematika yang kian kompleks. Penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah harus mampu menjawab pemerataan kualitas pendidikan untuk semua lapisan masyarakat.

Energi Fisik
Adanya zonasi sekolah memberikan keuntungan bagi warga sekitar sekolah untuk tidak perlu jauh-jauh bersekolah. Sehingga, waktu, tenaga dan energi tidak terbuang sia-sia hanya untuk perjalanan menuju ke sekolah. Penerimaan langsung warga sekitar dengan jarak yang ditentukan, memberikan kesempatan dampak pendidikan dalam pengembangan masyarakat di dalamnya.

Perlahan, konsep sekolah unggulan dan non-unggulan akan terhapus dengan sendirinya. Input sekolah yang satu dengan yang lainnya sedikit demi sedikit akan setara. Sehingga, tidak memaksa siswa untuk memacu diri meningkatkan prestasi, tetapi juga memacu para pendidik untuk meningkatkan kompetensinya. Jadi, bagus tidaknya sekolah tidak lagi tergantung pada input, tetapi pada sistem di dalamnya yang memuat unsur kurikulum, pelaksana, tenaga kependidikan, hubungan sekolah dengan masyarakat hingga pengelolaan sekolah melalui penjaminan mutu.

Pada akhirnya, kebingungan para orang tua akan menjadi bagian dari dinamika perubahan pendidikan kita yang lebih baik. Berkumpulnya peserta didik dengan berbagai karakter, keunggulan dan kekurangan akan menjadikan kawah candradimuka dalam pemerataan kualitas pendidikan. Karena pada dasarnya pendidikan tidak hanya memfasilitasi anak dengan kemampuan berpikir saja, tetapi juga harus dapat mengolah kelebihan energi fisik, keselarasan koordinasi gerak dan kemampuan jiwa untuk mengaktualisasikannya. Ketika pendidikan dapat memfasilitasi keberagaman dalam ruang-ruang kelas, pada saat itulah kita dapat berharap bahwa peradaban bangsa yang besar ini sedang dibangun ulang dengan tidak melupakan sejarah panjang pendidikan kita sejak era kejayaan kerajaan.

*Penulis merupakan guru Sekolah Dasar Negeri 1 Pandak