OPINI: Bidik Devisa dengan Beksan Wanara

Wisatawan menikmati keindahan Songgo Langit, Mangunan, Bantul, Kamis (6/6/2019).- Harian Jogja - Salsabila Annisa Azmi
25 Juli 2019 05:02 WIB Mahestu N Krisjanti Aspirasi Share :

Sektor pariwisata adalah salah satu tambang devisa Indonesia. Pertumbuhan kunjungan wisatawan manca negara ke Indonesia mengalami pertumbuhan lebih dari 20%, lebih tinggi dari pada pertumbuhan di Asia Tenggara. Tidaklah mengherankan ketika Indonesia dinobatkan masuk menjadi salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan industri pariwisata tercepat di dunia (Top-20 Fastest Growing Tourism Industry in the World).

Pertumbuhan industri ini bukan hanya hasil kerja keras dari pelaku bisnis pariwisata saja, melainkan hasil kolaborasi dari berbagai sektor. Terlebih ketika Presiden Jokowi menetapkan pariwisata sebagai salah satu sektor utama dalam perekonomian Indonesia, yang artinya akan mendapat dukungan percepatan dari berbagai kementrian dan lembaga lain. Misalnya, pembangunan infrastruktur dalam bentuk bandara, pelabuhan, jalan dan jembatan untuk mendukung percepatan pertumbuhan sektor pariwisata. 

Di tingkat daerah, usaha-usaha peningkatan pendapatan dari sektor pariwisata juga sangat signifikan.  Masing-masing daerah berusaha untuk menarik wisatawan manca negara sebanyak mungkin dengan membuka destinasi wisata baru maupun dengan revitalisasi atau reposisi destinasi wisata yang sudah ada. Tidak dipungkiri, persaingan antar daerah untuk merebut potongan kue wisatawan asing menjadi salah satu booster dalam peningkatan kunjungan wisatawan manca negara ke Indonesia.

Salah satu daya tarik wisata di Indonesia adalah wisata alam Indonesia yang sangat cantik. Itu poin besar bagi industri pariwisata Indonesia. Namun demikian ketika kita melihat pada level daerah, keindahan topografi yang hampir sama di beberapa daerah akan menyebabkan persaingan itu hanya ada dalam satu kotak pasar saja, yang menyasar konsumen yang sama.

Sulit bagi daerah untuk mengatakan kunjungi pantai yang sangat indah di saat daerah-daerah lain juga menawarkan jualan yang sama dan dengan keindahan yang sama. Apa dong bedanya? Bagaimana calon wisatawan akan memilih ketika ada banyak pilihan tetapi semuanya sama? Dengan situasi ini, akhirnya pelaku bisnis hanya akan bermain di tingkat harga. Siapa yang bisa menawarkan harga lebih murah, dia yang akan mendapat kue pelanggan. Tetapi, ada sebuah konsekuensi dari strategi ini, ketika terjadi perang harga, maka ada potensi pelaku bisnis mengorbankan kenyamanan konsumen.

Untuk menghindari perang harga yang akan merugikan konsumen, pelaku bisnis bisa menggunakan pendekatan lain yang lebih mengedepankan penciptaan keunikan destinasi wisata atau biasa disebut positioning dalam ilmu pemasaran. Strategi ini sudah digunakan oleh banyak pelaku bisnis wisata, termasuk destinasi di sepanjang pantai selatan.

Bukan lagi hutan pinus yang dikedepankan sebagai daya tarik bagi wisatawan tetapi hutan pinus yang instagramble. Kalau hanya hutan pinus saja, menjadi tidak menarik dan tidak unik. Sama kasusnya dengan pantai teras kaca. Pantai saya tidak cukup menjadi pemicu bagi calon wisatawan untuk datang karena ada ribuan pantai di Indonesia yang sama cantiknya. Alhasil, setelah dipasang teras kaca untuk berfoto, banyak wisatawan yang datang berkunjung. Penempatan strategi dengan kata kunci instagramble cukup berhasil untuk memicu pertumbuhan industri pariwisata.

Namun demikian, apakah penempatan dengan kata kunci tersebut akan bertahan lama? Sangat layak untuk diragukan. Ketika wahana-wahana unik untuk berfoto di sekitar Mangunan menjadi naik daun, muncul wahana-wahana serupa di beberapa tempat, bahkan di dalam kota. Keunikan akan sangat penting dalam persaingan bisnis di industri yang menawar barang/ jasa yang serupa.Tetapi keunikan yang terlalu sederhana, akan mudah ditiru oleh pesaing sehingga tidak lagi menjadi unik.Tantangan terbesar dalam bisnis ini adalah menciptakan daya tarik yang unik, yang tidak mudah ditiru oleh pesaing.

Beberapa waktu yang lalu, muncul flashmob Beksan Wanara di seputaran Malioboro yang ditarikan oleh sekumpulan anak-anak muda dengan penampilan milenial. Di hari yang sama, video flashmob tersebut beredar luas di berbagai media sosial, dan menjadi topik perbincangan di berbagai level masyarakat. Masyarakat dan juga warganet terlihat mengapresiasi aktivitas tersebut.

Salah satu poin yang tercipta dari flashmob tersebut adalah kenyataan bahwa masih banyak anak-anak muda Jogja yang menunjukkan atensi tinggi pada seni tari tradisional. Anak-anak muda yang terlihat sangat mengikuti perkembangan jaman, terbukti dengan pilihan merek baju dan sepatu yang mereka pakai pada saat pertunjukkan flashmob tersebut, ternyata masih sangat mengapresiasi seni tari tradisional dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bagaimana efek pertunjukkan flashmob ini pada industri pariwisata Jogja? Apakah flashmob Beksan Wanara di Malioboro akan memberikan kontribusi pada pertumbuhan kunjungan wisatawan di Jogja? Apakah pertunjukkan ini bisa menjadi keunikan yang diangkat sebagai daya tarik industri pariwisata Jogja?

Pertunjukkan flashmob Beksan Wanara ini merupakan suatu strategi cerdas dalam menggebrak pasar wisata Jogja, baik menyasar wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Flashmob ini menunjukkan suatu keunikan strategi bidik pasar dalam industri yang menawarkan produk yang serupa. Di saat pasar potensial wisatawan Jogja baik domestik mapun mancanegara sudah sangat paham dengan destinasi-destinasi unggulan Jogja, untuk apa mereka harus dicekoki dengan informasi yang sudah mereka pahami. Dalam bahasa anak muda sekarang, itu hanya mainstream. Untuk mendapatkan perhatian  haruslah menjadi antimainstream.

Pertunjukan Beksan Wanara ini tidak hanya berhasil menunjukan keberadaaan kelompok anak muda pencinta tari tradisional, tetapi lebih dari itu, berhasil membawa nama Jogja ke level pasar internasional terutama lewat media sosial. Gema dari video amatir yang dibuat oleh masyarakat yang menonton, dan di-posting di media sosial, sungguh tak terbendung. Tiba-tiba, nama Beksan Wanara dan Jogja menjadi perbincangan seru di Indonesia dan di manca negara. Suatu promosi budaya dan wisata yang maha dahsyat bagi Jogja.

Beberapa waktu yang lalu, di media sosial bahkan sangat mudah ditemui animasi Beksan Wanara yang ditarikan oleh para pahlawan Marvel – Avenger. Suatu dampak besar bagi nama Jogja, yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh para seniman yang berada di  belakang pertunjukkan tersebut. Termasuk pula, para seniman ini mungkin tidak pernah membayangkan usaha mereka akan berkontribusi pada meningkatnya kunjungan wisatawan asing, dan tentunya devisa Indonesia dari sektor pariwisata.

Hal semacam inilah yang dibutuhkan oleh industri pariwisata di Indonesia untuk meningkatkan kunjungan dan mempertahankan posisi sebagai salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan jumlah wisatawan manca negara paling cepat di dunia. Positioning yang tidak mudah ditiru oleh pesaing, yang unik dan berbeda.

Saya tidak akan heran kalau sebentar lagi ada berita munculnya flashmob Beksan Wanara di Swan Bell Perth, Dam Square Amsterdam ataupun di tempat-tempat lain di negara yang berbeda. Semoga.

*Penulis merupakan dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta