OPINI: Meladeni Tantangan Perguruan Tinggi Abad 21

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir (tiga kiri) meresmikan 12 gedung baru Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (2/2/2019). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
05 Agustus 2019 05:07 WIB A.Budiyanto Aspirasi Share :

Beberapa hari belakangan kita disibukkan dengan warta tentang dunia politik. Dunia yang kadang unik tapi juga penuh intrik. Warta seputar pertemuan beberapa tokoh politik nasional silih berganti dan bersliweran di jagad media cetak maupun elektronik.

Mulai dari pertemuan fenomenal antara Presiden terpilih, Joko Widodo, dengan Prabowo Subianto, hingga mencuatnya warta politik nasi goreng. Tak hanya itu, jagad media juga dibumbui dengan warta seputar koalisi dan rencana bagi-bagi kursi menteri.

Akan tetapi, penulis tidak akan fokus pada warta tersebut. Penulis tertarik dengan warta yang juga sempat membuat heboh media masa. Ya, tak lain dan tak bukan adalah adanya wacana rektor perguruan tinggi yang akan didatangkan dari luar negeri untuk menjadi rektor di Indonesia. Wacana tersebut dilontarkan oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Profesor Mohamad Nasir.

Wacana tersebut sebenarnya sudah pernah terlontar sekitar tahun 2016 lalu. Namun, banyak kalangan yang menolak wacana tersebut, termasuk para rektor perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Beliau berharap adanya rektor dari luar negeri bisa mendongkrak kualitas pendidikan dan sumber daya manusia. Menteri ternyata berkaca pada beberapa negara yang sudah menerapkan kebijakan ini, seperti Singapura, Taiwan, China dan Arab.

Harus Terbuka
Dunia pendidikan, utamanya perguruan tinggi, memang harus terbuka. Sistem pendidikan harus terbuka dengan pemikiran atau praktek yang menghasilkan suatu kebaikan bagi Indonesia. Hal tersebut agar tercipta suatu proses belajar. Proses belajar tidak hanya terbatas dalam skala nasional. Bahkan tujuan pendidikan sendiri agar tercipta learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.

Selain itu, dunia sekarang sudah tak kenal lagi batasan ruang dan waktu sebagai akibat dari globalisasi yang semakin menguat. Pengaruh globalisasi juga berpengaruh pada tingkat persaingan yang semakin kompetitif pada segala bidang, termasuk bidang pendidikan. Tuntutan tersebut harus disikapi oleh pendidikan dengan bijak dan tentunya dengan terbuka juga. Pendidikan harus dinamis dengan segala perubahan zaman. Bahkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Revolusi Industri 4.0 menjadi salah satu dampak dari berkembangnya dunia. Di era Revolusi Industri 4.0, setiap individu tidak hanya membutuhkan kebutuhan psikologis sebagai kebutuhan dasar (dalam Piramida Maslow). Setiap individu sekarang membutuhkan wifi dan baterai untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pergesaran konstelasi kehidupan tersebut tidak lain dan tidak bukan karena adanya perkembangan teknologi di era Revolusi Industri 4.0. Setiap negara berlomba-lomba untuk selalu meng-update dan berinovasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perguruan Tinggi
Perubahan yang tak terduga, ketidakpastian), kompleksitas masalah dan ambiguitas menjadi tantangan bagi setiap negara dan menimbulkan persaingan yang begitu ketat. Indonesia juga harus mampu ikut bersaing dengan negara lain agar tidak tertinggal. Perguruan tinggi harus menyiapkan sumber daya manusia yang mumpuni dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Pertanyaannya, seperti apa gambaran perguruan tinggi Indonesia saat ini?

Berdasarkan data yang baru dirilis oleh Quacquarelli Symonds World University Ranking (QS-WUR) 2019, hanya tiga perguruan tinggi Indonesia yang berhasil memasuki peringkat 500 besar dunia. Dari Indonesia, Universitas Indonesia menjadi peringkat pertama (peringkat 296 dunia), disusul oleh Universitas Gajah Mada (peringkat 320 dunia) dan urutan ketiga Insitut Teknologi Bandung yang menduduki peringkat 331 dunia.

Adanya wacana rektor yang didatangkan dari luar negeri memberikan semangat untuk bersaing baik antar perguruan tinggi di dalam negeri maupun dengan perguruan tinggi di luar negeri. Harapannya, dengan adanya rektor dari luar negeri tingkat daya saing dan kompitisi baik itu pimpinan perguruan tinggi maupun perguruan tingginya sendiri bisa terdongkrak. Setiap pimpinan perguruan tinggi harus mampu mengerahkan usaha dan tenaganya serta mampu berinovasi agar mampu bersaing dengan sehat.

SDM Abad-21
Sebenarnya tujuan utamanya adalah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dalam menghadapi tantangan abad-21 di atas. Sumber daya manusia yang dipersiapkan harus memiliki pemikiran kritis dan kemampuan pemecahan masalah, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berkolaborasi serta kemampuan berinovasi dan kreativitas.

Dalam mempersiapkan SDM yang unggul tentunya harus didukung oleh SDM yang unggul pula dalam mengelola. Mungkin itu juga yang menjadi bahan pertimbangan pak menteri dalam menggaungkan wacana ini.

Namun, wacana seharusnya jangan hanya sekadar wacana. Harus ada langkah yang realistik dan benar-benar bisa dijalankan. Tentunya pak menteri sudah sangat mahfum dalam hal ini. Regulasi yang jelas dan koordinasi dengan kementerian lain harus segera terselsaikan. Kalau memang kebijakan tersebut baik untuk dunia pendidikan dan demi kemajuan bangsa dan negara, penulis sangat yakin, akan ada kemudahan, baik itu dari Sang Pencipta, maupun dari sesama warga bangsa.

*Penulis merupakan pendidik di SDIT Salsabila Al Muthi’in/Ketua Divisi Inovasi Program Komunitas Wonosobo Mengajar/aaggota Komunitas Guru Belajar Jogja