OPINI: Eksistensi Pramuka di Era Perkembangan Teknologi

Pramuka
14 Agustus 2019 06:02 WIB Arif Dwi Suara Mahasiswa Share :

Praja Muda Karana (Pramuka) telah lahir di dunia, tepatnya 14 Agustus 1961. Berbagai tantangan telah dihadapi oleh anggota yang berusia remaja sampai dewasa ini. Di usianya yang ke 58 tahun yang tidak lagi muda masih ada tantangan yang menghadang bagi Pramuka Indonesia, yaitu arus teknologi tidak terkendali terutama dunia siber dan Internet.

Generasi Pramuka telah mengalami pergantian. Terhitung saat ini telah generasi ketujuh. Generasi pertama (1880-1900) yaitu HOS Tjokroaminoto, Haji Agus Salim dan rekan-rekan dengan menamakan Pandu. Generasi kedua (1900-1910) yaitu Soekarno, Hatta dan Natsir sebagai penggerak kepanduan.

Generasi ketiga (1920-1940), Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Soeharto dan Tien Soeharto pendukung sarana dan prasarana bagi kaum muda pramuka. Generasi keempat (1940-1950) yaitu Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono dengan melahirkan Undang-Undang tentang Gerakan Pramuka.

Generasi kelima (1960-1970) para menteri dan pemimpin organisasi nasional. Generasi keenam (1980-1990) generasi dengan usia tertua 35 tahun dan generasi ketujuh (1990-2000) dengan generasi usia tertua 15 tahun.

Generasi ketujuh ini yang rentan terhadap perkembangan teknologi baik dunia siber dan Internet karena teknologi saat ini telah menghubungkan seluruh manusia seluruh dunia tanpa batas melalui media yang memudahkan penggunanya.

Di balik kemudahan tersebut, bila generasi Pramuka ketujuh tidak mampu membedakan antara sisi positif dan negatifnya akan mudah terbawa arus teknologi tersebut. Generasi muda betah berlama-lama menggunakan gadget yang dimiliki sampai melupakan kewajibannya untuk belajar ataupun menjalin komunikasi dengan orangtua maupun teman sebayanya.

Bahkan tidak jarang karena terlalu asyiknya tersebut rentan terhadap tindak kejahatan melalui media sosial tersebut, seperti potensial menjadi korban penculikan, korban perkosaan, korban pemerasan dan lain sebagainya.

Tantangan inilah yang harus dihadapi seorang Pramuka. Bukan dalam arti pramuka antiteknologi, justru Pramuka harus dapat mengikuti perkembangan teknologi yang ada agar terjalin interaksi antarpramuka seluruh dunia.

Dengan kata lain, generasi ketujuh Pramuka tersebut harus dapat melakukan inovasi kreatif pada perkembangan teknologi yang ada tanpa mengesampingkan teknologi tersebut. Mengadakan interaksi sosial sesama Pramuka dengan media teknologi yang ada ataupun giat kompetisi kreativitas bagi pramuka tentang kepramukaan yang berhubungan langsung dengan nilai-nilai dalam Pramuka.

Nilai-nilai Pramuka itu baik Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka (blog, postingan Instagram ataupun selfie). Dengan demikian generasi Pramuka saat ini dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitas dirinya akan potensi yang dimiliki tanpa harus anti teknologi.


*Penulis merupakan Mahasiswa S1 PGSD Universitas Sarjanawiyata Yogyakarta