OPINI: Kerusuhan, Ancaman Nasionalisme Generasi Muda

Kerusuhan Manokwari Senin (19/8/2019) - Suara.com/Istimewa
21 Agustus 2019 05:02 WIB Ratna Marista Suara Mahasiswa Share :

Kerusuhan terjadi di Manokwari hingga memicu pembakaran gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua Barat, Senin (19/8). Dikutip Kompas TV, dipicu saat massa menggelar aksi unjuk rasa memprotes dugaan tindak perkusi dan sikap rasisme terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, Jawa Timur.

Dalam beberapa tahun ini rasa nasionalisme terutama pada generasi muda kian dirasakan tidak sekuat dan seperti dahulu lagi. Hal itu tampak ketika penerus bangsa menggelar aksi unjuk rasa yang awalnya damai justru menjadi sikap rusuh dan kisruh. Padahal, generasi founding father ketika masa penjajahan mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi sehingga akhirnya berhasil memerdekakan bangsa. Tentu, semangat generasi dahulu dimasa perjuangan dapat dimuculkan kembali demi menciptakan generasi yang mampu mencintai tanah tumpah darahnya.

Nasionalisme mengandung tiga makna, menurut Encylopaedia Britania, nasionalisme merupakan suatu keadaan jiwa setia individu yang merasa bahwa setiap orang memiliki kesetiaan dalam keduniaan (sekuler) tertinggi kepada negara kebangsaan. Sementara International Encyclopaedia of the Social Sciences, nasionalisme adalah suatu ikatan politik yang mengikat kesatuan masyarakat modern dan memberi keabsahan terhadap klaim (tuntutan) kekuasaan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nasionalisme diartikan kesadaran suatu bangsa yang mempunyai tujuan yang sama dengan semangat kebangsaan untuk mempertahankan, mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa.

Dari ketiga pengertian nasionalisme tersebut dapatlah diringkas ciri-ciri suatu bangsa berjiwa nasionalisme terutama bangsa Indonesia yaitu memiliki rasa cinta pada tanah air (patriotisme), mempunyai nilai kebanggaan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi ataupun golongan, pengakuan dan penghargaan keanekaragaman yang terdapat di Indonesia, bersedia membela dan memajukan negara demi nama bangsa, membangun rasa kekeluargaan (baik persaudaraan, solidaritas, kedamaian dan anti kekerasan) antarkelompok masyakarat dengan semangat persatuan serta menyadari sepenuhnya bahwa kita juga bagian dari bangsa lain dalam menciptakan hubungan kerjasama yang saling menguntungkan.

Dikarenakan anak merupakan investasi suatu bangsa yang mampu memajukan suatu bangsa. Potensi anak dapat digali dan penanaman kebanggaan untuk bisa mencintai negerinya sendiri dapat dilakukan. Dimana usia yang masih belia dengan segala keunikan yang terdapat pada diri anak serta mampu menyerap informasi dan peka pada lingkungannya, kelak dewasa mempunyai sikap dan perilaku menciptakan rasa nasionalisme yang kuat pada dirinya serta menghindari penyimpangan-penyimpangan sosial yang nantinya dapat merusak norma-norma maupun nilai yang ada di suatu bangsa.

Terutama di dalam keluarga pun harus tertanam rasa nasionalisme, karena keluarga dapat dikatakan fondasi utama dalam pengasuhan, perawatan, dan pendidikan anak (pembentukan karakter anak) sehingga nantinya terbentuknya tahap-tahap awal proses sosialisasi bagi anak-anak. Dari sini anak akan menyadari bagaimana upaya pejuang memberikan sesuatu bagi bangsanya, begitupula generasi sekarang harus termotivasi pula akan semangat pejuang pendahulu.

Apapun upaya yang akan dilakukan tentunya sebuah upaya jangan sampai generasi yang akan datang hilang rasa nasionalisme pada negerinya sendiri.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Perhotelan Stipram Jogja