OPINI: Melestarikan Tradisi Mubeng Beteng

Pojok Benteng Keraton Ngayogyakarta sisi Timur Laut (tembok Baluwarti) masih menyisakan bekas setelah mengalami kerusakan beberapa puluh tahun yang lalu. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
31 Agustus 2019 05:02 WIB Bambang Nugroho Aspirasi Share :

Seperti tahun-tahun sebelumnya Paguyuban Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bersama warga kembali akan menyelenggarakan Lampah Budaya Mubeng Beteng atau Tapa Mbisu menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Suro 1953 bersamaan dengan tanggal 1 Muharram 1441 H. Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan dari dan kembali di Kagungan Dalem Bangsal Ponconiti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mulai pukul 20.00 WIB sampai dini hari.

Sebagai kegiatan rutin yang telah berjalan bertahun-tahun sejak berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta bahkan sejak Kerajaan Mataram di Kotagede, ketika saat itu dilakukan oleh para prajurit yang menjalankan tugas pengamanan keraton. Kemudian digantikan para abdi dalem sejak dibangunnya beteng dan parit yang mengelilingi keraton, hingga saat ini. Apa sebenarnya makna dari lampah budaya Mubeng Beteng tersebut.

Budaya
Lampah budaya Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta juga dikenal dengan nama Tapa Mbisu karena selama menjalani perjalanan tersebut para peserta dilarang untuk bercakap-cakap, bahkan makan minum, merokok, menggunakan telepon seluler (ponsel) maupun perbuatan yang tidak senonoh atau tidak sopan selama dalam perjalanan.

Dikatakan sebagai budaya karena telah dilaksanakan secara terus menerus dalam waktu relatif lama sehingga pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah menetapkan Lampah Budaya Mubeng Beteng sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Nasional pada 2015 sesuai usulan Dinas Kebudayaan DIY.

Selama perjalanan dalam jarak tempuh kurang lebih lima kilometer dengan durasi waktu kurang lebih 1-2 jam memutar ke kiri (berlawanan arah jarum jam) beteng Keraton Ngayogyakarta melalui rute dari Bangsal Ponconiti menuju Jl. Rotowijayan, Jl. Agus Salim, Jl. KH Wahid Hasyim, Pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, Pojok Beteng Wetan, Jl. Brigjen Katamso, Jl. Ibu Ruswo, Alun Alun Utara dan kembali ke tempat pemberangkatan.

Selain lampah budaya juga sekaligus sebagai laku ritual maka selama perjalanan Tapa Mbisu tersebut peserta diharapkan bisa melakukan olah batin dengan mawas diri atas segala perbuatan yang perlah dilakukan di masa setahun lalu. Berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing untuk keselamatan, kesuksesan, ketenteraman hidup baik diri sendiri maupun masyarakat, bangsa dan negara termasuk Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam memasuki tahun baru dengan penuh optimisme.

Sebagai sebuah perjalanan budaya yang dirasa sakral dengan tujuan yang sama dan dilakukan pada tengah malam sampai dini hari, maka selama ini tidak pernah dijumpai atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti keributan antar peserta, pelecehan dan sebagainya. Padahal peserta berjumlah ribuan terdiri dari para abdi dalem serta masyarakat umum baik laki-laki maupun perempuan segala umur.

Wisata
Dalam berwisata masyarakat biasanya senang mendatangi destinasi wisata baru atau yang belum pernah dikunjungi baik wisata alam pantai, hutan, gunung, gua, danau atau wisata buatan seperti bangunan candi, monumen, taman, wahana bermain dan sebagainya. Maka Mubeng Beteng sebenarnya dapat dijadikan salah satu destinasi wisata budaya malam hari di Yogyakarta yang sangat menarik.

Sebagai salah satu destinasi wisata yang menarik mestinya wisatawan khususnya dari luar Jogja yang kemudian datang, sebaiknya tidak sekedar menyaksikan para abdi dalem dengan pakaian peranakannya bersama masyarakat pada umumnya itu berjalan menjalani lampah atau laku Mubeng Beteng. Namun, juga dapat mengikuti sejak dari keberanegkatan sampai akhir sesuai syarat yang harus dijalani yaitu Tapa Mbisu, untuk merasakan sensasinya.

Karena sudah rutin dilakukan dan waktunya pasti setiap malam tanggal 1 Sura Tahun Jawa, yang kadang bisa bertepatan dengan malam tanggal 1 Muharam Tahun Hijriyah dan kadang tidak. Maka sudah saatnya wisata Lampah Budaya Mubeng Beteng, jauh-jauh hari bisa dipromosikan baik oleh pihak berwenang bersama biro-biro perjalanan pariwisata serta jasa pariwisata lainnya.

Salah satu upaya promosi yang perlu dilakukan adalah dengan menjelaskan mengenai sejarah, pengertian, tata cara, rute, maksud tujuan serta manfaat dari Lampah Budaya Mubeng Beteng baik secara rohani maupun jasmani sehingga wisatawan bisa merasakan sensasi baru dalam berwisata yang sangat istimewa tersebut.

*Penulis merupakan Ketua Paguyuban Sastrawan Jawa Bantul Paramarta