OPINI: Kegagalan Narasi Nusantara

Ilustrasi. - Solopos/Sunaryo Haryo Bayu
05 September 2019 06:02 WIB Dwi Munthaha Aspirasi Share :

Kekhawatiran matinya demokrasi dengan berbagai anggapan kegagalan liberalisme dalam dekade ini, belum sampai pada penemuan narasi besar sebagai solusi. Setidaknya dalam bentuk praktikal, belum tampak tanda-tanda baru, kecuali mengulang-ulang narasi lama yang telah menuai kegagalan emperik.

Yufal Noah Harari dalam trilogi Sapiens, Homo Deus, 21 Lesson, seakan membawa pencerahan naratif bagaimana sejarah manusia hingga abad teknologi ini. Secara kritis dia mengaitkan aspek psikologi manusia dalam perjalanan evolusi dulu hingga sekarang dengan nilai-nilai utama liberalisme, yakni: individu dan kebebasan. Menurut Yufal, kebebasan individu itulah yang justru mengungkung manusia untuk memahami kemanusiaan, relasi diantaranya, serta daya dukung ekologis.

Namun, kritisme Yufal masih sebentuk kritik yang sepertinya sulit berlanjut sebagai gerakan revolusional. Meski menginspirasi, mutunya masih di bawah liberalisme itu sendiri, yang mampu merevolusi alam pikir manusia yang berabad-abad lamanya terkungkung dalam dogma agama.  Juga dengan komunisme dan fasisme yang dengan percaya diri menunjukkan praktek perlawanan pada liberalisme, kendati pun gagal. Setidaknya, narasi-narasi tersebut mewujud dalam ideologi yang praktikal.

Renaisans telah mampu menciptakan Tuhan baru, yang dianut umat manusia lintas agama mau pun tidak beragama. Kebebasan individu yang dilahirkannya, mempercepat tumbuhnya ilmu pengetahuan dan memperbesar industri dengan pembenaran-pembenaran klasiknya Adam Smith, distribution of wealth. Alih-alih terdistribusi, kapitalisme yang merupakan anak kandung liberalisme, menggunakannya untuk semakin memperbesar kapital dan itu pertanda eksploitasi terhadap manusia dan alam masih akan terus berkelanjutan.

Perkembangan teknologi, barangkali menurut Harari secara satire dianggap sebagai human interest dari kapitalisme.  Dengan alasan melindungi manusia bekerja keras, maka teknologi diciptakan untuk mengurangi beban kerja manusia, hingga sampai titik puncaknya mampu menggantikan peran manusia.  Evolusi kerja ini sudah dapat terlihat di dunia medis, dokter menyerahkan kemampuan analisisnya terhadap penyakit pasien melalui mesin-mesin dan komputer.

Kekacauan politik dan ekonomi, tak meyurutkan  perkembangan teknologi, bahkan semakin gegap gempita dengan kemajuan Information technologi (infotek) dan biology techonology (biotek).  Infotek telah menghasilkan Big Data yang merekam semua algoritma perasaan manusia yang berhubungan dengan internet. Rekaman itulah yang kemudian menjadi panduan manusia untuk menentukan sikap dan pilihan hidupnya.  Di sisi lain biotek juga dikembangkan untuk menyempurnakan manusia, dari sisi fisik, kesehatan, dan memperpanjang usia hidup.

Kritik yang dapat disederhanakan dari Yufal, apa gunanya manusia jika asasinya sebagai manusia dihilangkan, terganti oleh mesin dan komputer? Lalu apa gunanya manusia cerdas, sehat dalam usia yang panjang, sementara menanti potensi penderitaan fisik dan mental yang menyedihkan.

Kegagapan Negara
Saat layar kolonialisme terkembang, bersamaan dengan itu reformasi agama menggelora di Eropa.  Reformasi agama yang dimulai pada 1517, meluncur tak terkendali dari keinginan awal penggagasnya.  Nilai sekularisme, bahkan anti terhadap gereja membawa kesedihan tersendiri bagi Marthin Luther. Namun, di tengah ketidakkuasanya, reformasi itu berujung revolusi.

Eropa bersimbah darah, namun mampu mengkonstruksi keagungan setelahnya. Keagungan bangsa-bangsa Eropa ditunjukkan dengan penaklukan-penaklukan di benua lainnya. Pada titik inilah mulai terjadi kesenjangan, wilayah-wilayah kolonial yang pada akhirnya merdeka, tertatih-tertatih untuk berjalan menuju masa depannya sendiri sebagai bangsa.

Postkolonialisme menghegemoni pemikiran, perilaku dan budaya bangsa terjajah, yang hanya dengan mukjizat politik mampu keluar darinya. Ciri utama dari perilaku kolonial adalah mengeksploitasi manusia dan alam. Masyarakat di negeri jajahan dianggap rendah baik secara ras, budaya dan intelektualitasnya.

Jared Diamond (Gun, Germ & Steel, 1997) melakukan kajian antropologi yang dalam salah satu babnya membahas tentang masyarakat asli Papua dan Australia. Dia membuka pertanyaan, tentang kolonisasi yang dilakukan oleh bangsa Eropa, pencipta demokrasi industrial, terhadap masyarakat pemburu-pengumpul yang buta aksara hingga 40.000 tahun berlalu.

Pandangan primitif Diamond itu, dikontraskan dengan kekayaan alam yang luar biasa dan dieksploitasi untuk kepentingan negara kolonial. Di Australia, suku Aborigin lenyap dari pandangan demokrasi bahkan kemanusiaan, demikian juga dengan saudaranya di Papua. Wajah kekuasaan kolonial ini belum juga berubah. Sekalinya berubah pun,  masih menyisakan perilaku postkolonial yang merendahkan ras dan budaya. Indikatornya adalah kegagalan negara melihat aspek kemanusiaan dan budaya dengan menyegerakan pertumbuhan ekonomi ala liberal. Ukuran-ukurannya kemudian tidak paralel dengan kondisi masyarakat yang telah mengalami trauma batin maupun fisik terhadap kekuasaan.

Sementara di sisi lain, terjadi  juga kegegagapan negara (nervous state) menghadapi perkembangan teknologi dan industri. Di era digital, kekosongan pengetahuan dengan cepat diisi oleh rumor, fantasi dan dugaan, beberapa di antaranya dengan cepat diplintir dan dilebih-lebihkan agar sesuai dengan narasi yang disukai.  Menurut William Davies, ketakutan terhadap kekerasan  sama merusaknya dengan kekerasan itu sendiri. Dan jika itu dilakukan oleh negara, maka akan menjadi sulit untuk menumpasnya (Nervous State,2019).

Narasi Nusantara
Situasi pergulatan emosi di Papua saat ini, harus dipahami terjadi dari sejarah yang panjang. Papua memiliki ras dan etnisitas berbeda dengan suku-suku lainnya yang ada di Indonesia. Atas nama kedaulatan bangsa, dengan merujuk kewilayahan kolonial Hindia-Belanda, Papua masuk ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masuknya Papua dalam pangkuan Ibu Pertiwi, jika hendak ditunjukkan sebagai aksioma budaya, tentunya juga harus diikuti dengan kesadaran yang memperkaya varian budaya.

Dari sanalah bertambah kekuatan identitas Indonesia sebagai bangsa yang plural. Keberagaman budaya  ini yang harusnya dieksplorasi sebagai modal membangun narasi Nusantara. Sayangnya, cita-cita founding fathers kita, membangun karakter nasional nyaris terhenti.

Narasi Nusantara, alih-alih menjelaskan visi, tidak mampu menerjemahkan bagaimana pikiran masyarakat Indonesia tentang dirinya sendiri dan bangsanya. Semua berjalan sendiri-sendiri dengan identitasnya, bahkan ketika tercampur kepentingan politik, keberagaman kita tidak menunjukkan kekuatan, bahkan berpotensi kehancuran.

Politisasi identitas hadir dengan membangun skat-skat keberagaman. Nilai-nilai liberal dapat memaklumi kemunculan tersebut dan segera punya cara untuk mengelolanya. Tujuan hanya satu,  apapun tidak boleh menghalangi investasi dan akumulasi kapital.

Nilai-nilai inilah yang menghambat Narasi Nusantara membesar. Narasi Nusantara harus diperjuangkan menjadi narasi besar, setidaknya untuk Bangsa Indonesia. Narasi yang mempersatukan tanpa mengecilkan satu dengan yang lain. Narasi yang mampu menyintesa duka-gembira masa lalu negeri ini. Narasi yang merdeka dari kepentingan paham  impor yang terbukti telah mempersulit langkah tegap kita sebagai bangsa.

*Penulis merupakan Sustainable Development Specialist FIELD Indonesia