OPINI: Fenomena Perusahaan Rintisan

Ilustrasi Startup. - JIBI
10 September 2019 05:02 WIB Satwika Ganendra Aspirasi Share :

Sedikit pengalaman merintis dan mengelola perusahaan rintisan atau lazim disebut start up ternyata memiliki keunikan tersendiri. Oleh karena itu, tidak terlalu kaget ketika ada tengara start up di DIY memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan akan tetapi belum sinergi. (Harian Jogja, 26/8/2019)

Sebagaimana dikemukakan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM DIY Srie Nurkyatsiwi, bahwa banyaknya industri kreatif dan bakat yang dicetak di berbagai perguruan tinggi menjadi modal besar untuk usaha rintisan di DIY. Sayangnya potensi besar itu belum didukung basis data yang komprehensif.

Sebagian perusahaan rintisan cenderung mendorong potensi internal secara parsial sehingga dari dimensi eksternal belum menunjukkan adanya sinergi dan upaya simbios mutualisme dalam mengantisipasi tuntutan publik, baik kualitas produk maupun profesionalitas masing-masing perusahaan rintisan.

Generasi Milenial
Seperti kita ketahui sebagian usaha rintisan dikelola anak-anak muda alias generasi milenial (Gen Y). Oleh karena itu, usaha rintisan tersebut juga memiliki karakter sesuai semangat anak-anak muda yang ingin berlari kencang.

Mereka menyadari bahwa persaingan kerja yang dahsyat memerlukan kreativitas dan inovasi yang berkelanjutan. Pemilik usaha rintisan yang pada umumnya kelahiran 1980-1999, akhir-akhir ini telah menampilkan eksistensi di belantika perekonomian, memainkan peran dalam mengubah pola kerja dan peta bisnis di Indonesia.

Oleh karena itu, usaha rintisan atau start up cenderung menampilkan gaya tidak birokratis, dorongan untuk berprestasi yang tinggi, kreatif dan inspiratif. Generasi milenial dengan usaha rintisannya membangun bisnisnya dengan kemampuan interpersonal yang kokoh, enthusiasm dan kelenturan berkolaborasi.

Menghadapi realitas tersebut memang butuh strategi tersendiri, bagaimana memotivasi dan menyinergikan perusahaan rintisan yang dikelola anak-anak muda. Tidak mustahil, regulasi yang mencerminkan panjangnya rantai birokrasi, serta sikap-sikap feodalistik sebisa mungkin dihindarkan.

Peluang Start Up
Dengan keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) di Temon, Kulonprogo, yang didukung PT Pembangunan Perumahan, PT Angkasa Pura maupun Badan Otorita Borobudur, merupakan magnet tersendiri bagi pengembangan perusahaan rintisan di seantero DIY maupun Jawa Tengah.

Kesiapan PT Angkasa Pura 1 mengembangkan lahan seluas 86 hektare di Temon, Kulonprogo sebagai kawasan Aerocity yang memiliki konsep bisnis dan pelayanan sebagaimana dikemukakan Direktur Utama Faik Fahmi, tentunya akan menginspirasi pengembangan usaha rintisan sebagai pendukungnya.

Sekadar gambaran, wilayah Kulonproga sejauh ini belum lengkap akses maupun prasarananya sehingga membutuhkan kota baru agar keberadaan YIA benar-benar mendukung pengembangan Kulonprogo, wilayah sekitar DIY, sekaligus Jawa Tengah. Senada dengan gagasan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo tentang Kawasan Aerotropolis.

Untuk merealisasikan program tersebut, tentunya dibutuhkan sinergi, integrasi dan kolaborasi dari berbagai institusi, instansi maupun pernan serta perusahaan rintisan. Sudah tentu sumbangsih generasi milenial tidak ketinggalan mewujudkan kesejahteraan untuk daerahnya.

Start Up
Ditengah gegap gempitanya pelaksanaan Revolusi Industri 4.0, harapan pemerintah tidak semata-mata bertumpu pada industri mapan, namun juga memperhatikan keberadaan usaha rintisan, jiwa entrepreneurship, geliat industri kecil maupun kreativitas warganya.

Oleh karena itu, menarik sekali gagasan yang dikemukakan Pelaksanan Tugas Sementara (PTS) General Manager YIA, Agus Pandu Purnama, untuk kualifikasi bandara bertaraf internasional dengan penumpang beragam profesi maupun statusnya, YIA perlu dilengkapi fasilitas pelayanannya dengan menyediakan co-working space.

Dengan begitu, para profesional dan penumpang yang transit maupun menunggu jadwal penerbangan, bisa menepis kejenuhan dengan memanfaatkan co-working space untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tentu dengan fasilitas internet yang memadai, sembari nyruput kopi serta nyamikan yang disediakan.
Sudah barang tentu, penyediaan berbagai prasarana dan fasilitas tersebut, khususnya terkait penerapan teknologi informasi, patut memanfaatkan perusahaan start up yang memiliki kapabilitas, profesionlitas dan kompetensi memadai dibidang teknologi digital dan IT.

Demam Berselancar
Perlu kita sadari, untuk merajut sinergi perusahaan rintisan, maka sesungguhnya ada strategi mentautkan usaha rintisan satu dengan lainnya oleh pengampu UMKM dan UKM, yaitu bimbingan ataupun pelatihan tentang strategi pemasaran lewat digitalpreneur.

Digitalpreneur adalah azas memanfaatkan media sosial sebagai sarana mengundang pelanggan. Bukankah sebagian besar masyarakat saat ini sedang mengalami demam berselancar di dunia maya ? Berita kekinian, sangat dinantikan para follower, lantaran informasi yang disuguhkan media sosial mampu menjadi viral di masyarakat luas.

Berbagai promosi, baik produk barang maupun jasa kini tidak perlu lagi pertemuan face to face tetapi cukup bermodalkan follower, usaha rintisan dapat saling berkomunikasi dalam mengembangkan usahanya.

Teknologi Informasi yang digunakan generasi milenial sesungguhnya melahirkan harapan baru dalam hal bersinergi. Baik sinergi di antara sesama perusahaan start up, maupun dengan segmen pelanggan yang berbeda-beda karakternya. Sindroma demam berselancar di dunia maya, sesungguhnya merupakan peluang untuk sinergi pengembangan perusahaan rintisan. Percayalah.

*Penulis merupakan psikolog/staf pada sebuah BUMN