OPINI: Terjebak Hal Masa Kini

Ilustrasi iklan digital - Bisnis.com
12 September 2019 06:02 WIB Tegar Satya Putra Aspirasi Share :

Kita hidup di era yang menawarkan hal-hal baru setiap harinya, mulai dari produk baru yang makin memudahkan hidup kita sampai teknologi baru yang menawarkan pemecahan masalah dalam berbagai aspek kehidupan kita. Hal-hal baru ini muncul dengan kecepatan yang luar biasa. Bayangkan, hanya dalam waktu kurang dari satu dekade, kita sudah bisa memesan transportasi umum, makanan dan jasa lain dari genggaman tangan kita. Cepat munculnya hal-hal baru pada masa ini memaksa kita sebagai manusia harus membaharui pengetahuan kita dengan hal-hal masa kini atau kekinian. Manusia yang menolak atau terlambat mempelajari dan menggunakan hal-hal kekinian akan tergilas zaman.

Tekanan untuk menjadi kekinian semakin besar tiap harinya. Dunia pendidikan berusaha mati-matian untuk mengajarkan anak-anak didik hal-hal baru, orang tua berbondong-bondong memberi anaknya teknologi terbaru agar anaknya “kekinian”, perusahaan-perusahaan juga berlomba membuat kesan kekinian untuk menarik calon pegawai potensial. Hal seperti ini memang tidaklah salah, namun menurut opini penulis, hal ini bisa menjadi jebakan.

Berbagai Aspek
Usaha untuk menjadi kekinian terjadi hampir di semua aspek. Dalam aspek Pendidikan anak-anak, eksposur terhadap hal-hal kekinian terutama pada usia dini membuat anak-anak lebih cepat belajar berbagai hal. Berbagai teknologi kekinian menyediakan konektivitas dengan internet, sehingga memudahkan anak untuk belajar hal baru seperti bahasa asing dan matematika dengan tampilan yang menarik dan interaktif. Selain menawarkan kemudahan teknologi juga membantu anak-anak mendapat informasi yang mereka butuhkan kapanpun di manapun. Berangkat dari hal-hal tersebut banyak sekolah yang menawarkan konsep belajar blended learning. Blended learning merupakan penggabungan antara pengajaran melalui internet dengan pengajaran tradisional di kelas.

Pada aspek Pendidikan tinggi, mengajarkan hal kekinian merupakan hal penting untuk menyiapkan lulusan siap kerja dan diterima atau diserap industri dengan baik. Kurikulum pada pendidikan tinggi mulai diatur sedemikian rupa sehingga diharapkan menghasilkan lulusan-lulusan yang bersifat kekinian. Bahkan tren jurusan atau program studi kekinian juga mulai marak bermunculan di berbagai perguruan tinggi. Ada universitas yang menawarkan program sarjana kekinian yang diklaim lulusannya akan bisa menjawab kebutuhan industri di masa depan. Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi pun mendukung munculnya program studi kekinian tersebut semakin bertumbuh ke depannya. Data terakhir dari kemenristek menunjukan ada sekitar 100 prodi kekinian yang dibuka universitas-universitas di Indonesia.

Dari kacamata bisnis, berusaha menjadi kekinian merupakan langkah untuk bertahan di tengah persaingan dunia bisnis yang semakin ketat. Banyak perusahaan yang berusaha mendesain tempat kerjanya menjadi tempat kerja berkesan modern dan menyenangkan. Perusahaan mulai menyediakan ruang permainan, ruang tidur, desain unik pada meja kerja dan juga berbagai unit kegiatan supaya pegawai-pegawai perusahaan tersebut dalam meluangkan waktu mereka untuk menjalani hobi mereka.

Terjebak Kekinian
Menciptakan nuansa kekinian bukanlah hal yang salah, namun terlalu fokus pada aspek kekinian pada akhirnya menghilangkan esensi dari suatu kegiatan. Hilangnya esensi dan terlalu menekankan kekinian lah yang penulis maksud sebagai terjebak kekinian.

Pada aspek pendidikan usia dini, pengenalan teknologi terkini memang menjadi alat pemasaran paling efektif sekarang ini, namun perlu diingat teknologi canggih tidak dapat menggantikan kurikulum dan cara ajar yang efektif. Teknologi dan hal kekinian yang lain hanya merupakan bumbu, bukan hidangan utama dalam pendidikan. Konsep blended learning merupakan cara pengajaranyang bagus namun bukan esensi pengajaran dari sebuah pendidikan dasar.

Pada aspek pendidikan tinggi, penulis juga mengakui bahwa ilmu sekarang sudah sangat berkembang luas dan dalam. Perkembangan ilmu ini pasti akan memunculkan jurusan dan program studi baru untuk menjawab kebutuhan industri. Kendati demikian, perlu diingat bahwa, sama seperti pendidikan anak usia dini, kekinian bukanlah resep utama, namun hanya bumbu atau alat tambahan untuk mempertajam kurikulum sebuah pendidikan tinggi.

Pembuatan prodi kekinian bukanlah hal yang salah, namun hal ini perlu disusun secara terperinci agar benar-benar mencetak lulusan yang mempunyai ilmu yang menjawab kebutuhan industri atau negara pada era Revolusi Industri 4.0 ini. Jangan sampai munculnya prodi kekinian ini hanyalah menjadi sebuah ajang jual gelar dengan bahasa kekinian.

Perusahaan dan usaha mereka untuk menciptakan kerja yang menyenangkan juga bukan merupakan suatu yang salah, namun, perlu digarisbawahi bahwa pengadaan aset fisik yang kekinian bukanlah kunci untuk membuat pegawai senang. Semua harus kembali pada esensi dari sebuah pekerjaan. Pegawai-pegawai pada suatu perusahaan mungkin mempunyai fasilitas seperti ruang permainan, atau café di kantor, namun semua itu akhirnya mubazir jika ternyata beban kerja pegawai di perusahaan tersebut. Pada akhirnya, pegawai-pegawai tersebut juga tidak akan bahagia dengan adanya hal-hal kekinian tersebut.

Intinya, berusaha kekinian bukanlah sesuatu yang salah dan usaha tersebut memang dibutuhkan untuk bertahan di era ini, namun esensi dari suatu hal jangan sampai dikesampingkan. Jangan sampai kita terjebak dengan hal kekinian!

*Penulis merupakan dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta