OPINI: Sinergitas Masyarakat Entaskan Buta Keaksaraan

Ilustrasi Buku - Reuters
16 September 2019 05:07 WIB Mursana Aspirasi Share :

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkap capaian tahun 2018 tentang penuntasan buta aksara di Indonesia. Menurut data yang dihimpun dari Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud dari data proyeksi Badan Pusat Statistik, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,932%, atau tinggal sekitar 2,068% (3,474 juta orang) yang masih buta aksara.

Angka Buta Aksara usia 15-59 tahun di Indonesia dilihat dari masing-masing provinsi masih terdapat 11 provinsi memiliki angka buta huruf di atas angka nasional. Kesebelas provinsi tersebut yaitu Papua sebesar 25,843%, NTB 7,787%, NTT 5,365%, Sulawesi Barat 4,36%, Kalimantan Barat 4,283%, Sulawesi Selatan 4,686%, Bali 2,908%, Jawa Timur 3,427%, Kalimantan Utara 2,562%. Kemudian Sulawesi Tenggara sebesar 2,510%, dan Jawa Tengah 2,267%. Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional. Ironisnya penduduk tuna aksara ini kebanyakan perempuan yang minim pengetahuan, keterampilan ataupun masih berpedoman kekunoan (belum mau menerima pembaruan).

Hal ini menjadikan keprihatinan sendiri terutama sebagai masyarakat DIY akan sesama kita yang menyandang buta aksara. Pengentasan buta aksara sangat perlu secepatnya dilakukan agar tidak ada lagi masyarakat yang diperbodoh hanya karena tidak bisa membaca dan menulis. Pemerintah juga telah berkomitmen sesuai konferensi tingkat menteri negara-negara anggota PBB tahun 1965 untuk membebaskan seluruh warganya dari tuna aksara.

Sebagai upayanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menjalankan beragam program dan kegiatan untuk menuntaskan buta aksara. Antara lain memperkuat program pendidikan keaksaraan dengan budaya, keterampilan, dan bahasa. Kemendikbud juga menggulirkan program-program keaksaraan dengan memperhatikan kondisi daerah, seperti program keaksaraan dasar padat aksara, program keaksaraan dasar bagi komunitas adat terpencil/khusus, program keaksaraan usaha mandiri, dan program multikeaksaraan.

Inspirasi
Selain itu melaksanakan pula program paska buta aksara. Program tersebut diantaranya pendidikan keaksaraan usaha mandiri (KUM) dan pendidikan multikeaksaraan. KUM berorientasi pada pemeliharaan keberaksaraan dengan fokus keterampilan usaha mandiri. Sedangkan multikeaksaraan berorientasi pada pemerliharaan keberaksaraan dengan fokus pada lima tema pemberdayaan masyarakat, yakni profesi/pekerjaan, pengembangan seni budaya, sosial politik dan kebangsaan, kesehatan dan olahraga, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun, berbagai program pemerintah tanpa belum adanya daya dukung/sinergitas masyarakat tentunya untuk mengentaskan masyarakat bebas buta aksara belumlah maksimal. Keaksaraan bukan hanya sekadar prioritas pada aspek baca, tulis, dan hitung (pendidikan), tetapi merupakan investasi yang sangat penting bagi masa depan dan kemajuan bangsa yang bermartabat dan berbudaya. Upaya yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran seluruh keluarga bahwa membaca harus dimulai dari keluarga atau rumah tangga.

Sangatlah penting untuk melakukan investasi terhadap pentingnya keaksaraan agar menginspirasi semua orang, sehingga tidak ada seorang pun di rumah kita yang buta aksara. Semua individu termasuk orang dewasa perlu berpartisipasi secara aktif dengan cara mereka sendiri, baik dengan mendaftarkan, melaporkan atau membelajarkan mereka.

Selain itu di lingkungan masyarakat dapat menggencarkan Gerakan Minat Baca Masyarakat (GMBM) yang dilakukan secara rutin. Meskipun sekarang sudah berdiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ternyata masyarakat yang meminatinya masih jauh dari harapan, terutama penduduk yang sudah berfalsafah untuk apa belajar lagi, lebih baik cari uang.

GMBM ini tidak sekedar masyarakat dihimbau untuk mendatangi PKBM atau TBM, justru kita yang melakukan jemput bola untuk mendatangi masyarakat, terutama penyandang buta aksara. Contoh salah satunya, sebelum mendatangi mereka, mempersiapkan pola pengajaran/pembimbingan apa yang dilakukan serta referensi apa yang harus dibawa. Tentu hal tersebut disesuaikan dengan usia mereka. Prioritas utama kita, menyadarkan mereka bahwa betapa pentingnya membaca serta mengentaskan mereka untuk melek huruf walaupun harus bertahap.

Hemat Waktu
Terbukanya ruang komunikasi melalui media sosial terbukti telah menunjukkan laju interaksi komunikasi manusia yang semakin meningkat. Hanya saja, laju interaksi komunikasi tersebut tidak ataupun belum disertai/diimbangi kemampuan berliterasi digital dimana masyarakatnya kecermatan dalam memilah dan menganalisis konten yang ada tersebut, apakah sifatnya hanya menyesatkan ataukah justru inspiratif.

Penyandang buta aksara yang telah terentaskan sangat perlu dibekali dengan kemampuan berliterasi digital. Karena saat ini kemampun berliterasi digital masih masih rendah karena masyarakat masih menerima informasi yang ada dan kurang memiliki kemampuan berliterasi digital antara memilih dan memilah kabar yang didasarkan fakta ataupun hoaks.

Padahal jika masyarakat memiliki kemampuan berliterasi digital akan menghemat waktu dan biaya, informasi apapun akan cepat diterima dan teratasi bahkan dapat menyelamatkan beberapa nyawa dari bahaya serta ketika mengambil sebuah keputusan dapat sebagai pertimbangan untuk menjadi lebih baik lagi yang tidak lain berawal dari informasi digital tersebut. Oleh karena itu, kemampuan tersebut diperlukan.

Tidak hanya dalam menerima informasi, membaca kemudian menyebarkan ke orang lain yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Lebih dari itu kemampuan masyarakat untuk dapat menerima informasi, membaca, menganalisisi dan memiliki kemampuan membandingkan informasi yang diterimanya kemudian memilih dan memilahnya (mana bermanfaat dan mana yang tidak) sehingga pada akhirnya jika informasi tersebut hendak disebarkan ke orang lain dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu meskipun sebuah komunitas telah bebas keaksaraan belum tentu sebuah komunitas tersebut ketika menjalankan keterampilan usaha mandiri tanpa didampingi. Mereka memang sudah bisa membaca ataupun menulis. Namun belum tentu memahami seluk beluk pemasaran keterampilan yang dimilikinya. Untuk itu masyarakat yang peduli kepada yang telah bebas keaksaraan untuk mendampingi dan memasarkan serta memberikan pertimbangan ketika mereka melakukan kerjasama dengan pihak lain. Upaya ini dilakukan agar tidak mengalami pembodohan dalam hal pemasaran keterampilan usaha mandiri yang dibuat dan dipasarkannya.

Semua lapisan dapat bisa mengentaskan penyandang buta aksara bersinergi dengan pemerintah. Entah itu masyarakat sendiri, tokoh pendidik atau bahkan mahasiswa yang prihatin keberadaan masyarakat yang belum bisa membaca. Kepedulian kita sekarang ini sangat diharapkan, agar tidak ada lagi masyarakat yang jauh dalam ketertinggalan, baik itu dalam hal pengetahuan, keterampilan maupun sikap mental utuk dapat menerima pembaruan.

*Penulis merupakan Sekretaris Kecamatan Pundong Bantul