OPINI: Membangkitkan Kembali Industri Petrokimia

Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
21 September 2019 05:02 WIB Fajar A.D. Budiyono Aspirasi Share :

Kemajuan ekonomi suatu negara tidak lepas dari tiga industri dasar, yaitu industri logam, industri pangan, dan industri petrokimia. Industri petrokimia merupakan industri strategis dan pendukung industri kemasan untuk makanan minuman, industri komponen otomotif, industri barang dan bahan bangunan, industri tekstil dan produk testil, serta industri bahan baku farmasi.

Pada era 1990-an Indonesia pernah menjadi nomor satu di Asean dalam industri petrokimia. Namun sejak 1998 tidak ada lagi investasi baru, sementara kebutuhan akan produk petrokima terus bertumbuh, sehingga impor akan produk ini terus naik sampai dengan 60%. Nilai impornya berkisar US$5 miliar setiap tahun.

Saat ini kebutuhan bahan baku plastik polypropylene sekitar 1,8 juta ton per tahun. Akan tetapi pasokan dalam negeri hanya 775.000 ton per tahun. Kekurangan tersebut kemudian dipenuhi dengan impor sebanyak 1 juta ton per tahun. Adapun kebutuhan polyethylene berkisar 1,6 juta ton per tahun, yang mana dipenuhi oleh pasokan dalam negeri baru sebatas 750.000 ton per tahun, dan kekurangannya dipenuhi dengan impor 950.000 ton per tahun.

Kedua komoditas tersebut, yaitu polypropylene dan polyethylene, mendominasi untuk aplikasi kemasan makanan minuman, komponen otomotif, karung, karpet, dan peralatan untuk bahan banguan. Adapun kebutuhan benzene, toluene, dan xylene (BTX) berkisar 1,2 juta ton per tahun dan masih 100% diimpor untuk digunakan sebagai bahan baku polyester bagi industri tekstil, cat, dan bahan baku farmasi.

Ketergantungan industri turunan petrokimia nasional sangat tinggi, dan daya saing terus menurun dikarenakan pasokan dari dalam negeri tidak kunjung bertambah. Baru pada awal 2015 mulai ada investasi oleh swasta yang dimulai oleh PT Chandra Asri Petrochemical, kemudian dikuti oleh perusahaan swasta lainnya.

Optimisme akan bangkitnya kembali industri petrokimia nasional tampaknya semakin membesar pada tahun ini. Dalam acara diskusi publik yang digelar oleh Forum Wartawan Perindustrian (Forwin) bertema Optimalisasi Industri Petrokimia pada 12 September lalu, di mana penulis menjadi salah satu nara sumber, Direktur Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata memaparkan bahwa negara sudah menguasai 95,9% saham PT Tuban Petrochemical Industries (Tuban Petro) dan tengah menyiapkan langkah-langkah optimalisasi Tuban Petro beserta anak usahanya.

Benar, tahun ini merupakan masanya negara akan kembali hadir memperkuat industri petrokimia nasional dengan menguasai mayoritas saham Tuban Petro. Saat ini konversi piutang pemerintah menjadi saham Tuban Petro sudah siap dilaksanakanakan tetapi masih menunggu ditandatanganinya peraturan pemerintah (PP) serta menyiapkan langkah optimalisasi aset anak usahanya.

Langkah optimalisasi ini akan lebih menarik lagi jika aset yang dimiliki oleh negara bisa disinergikan secara bersama. Sinergitas ini akan menghasilkan beberapa hal. Pertama, Indonesia berpotensi memiliki industri olefin (propylene) di atas 1,2 juta ton per tahun terbesar di Asean. Kedua, Indonesia memiliki industri aromatik dengan kapasitas 1,2 juta ton BTX untuk mendukung industri tekstil.

Ketiga, memberikan kepastian terhadap industri petrokimia dan turunannya di dalam negeri untuk berinvestasi kembali. Keempat, pertumbuhan produk polymer di atas 5,2% pada tahun depan bisa tercapai. Kelima, subsitusi impor produk petrokimia dengan nilai sekitar US$3,5 miliar, kenaikan penerimaan pajak lewat PPN, dan PPh. Keenam, penciptaan lapangan pekerjaan baru di bidang petrokimia dan industri turunannya.

Grup Tuban Petro beserta anak perusahaannya juga mempunyai lahan sudah matang dan mencukupi untuk pembangunan pabrik baru dengan lokasi yang cukup stategis dimana sarana dan prasarananya sudah cukup baik seperti pelabuhan dengan kedalaman yang cukup untuk bongkar muat kapal ukuran besar di TPPI (PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama). Lahan tanah puluhan hektar tersebut sudah matang dengan status clean and clear di TPPI dan Polytama.

Optimalisasi pabrik di bawah grup Tuban Petro juga akan menciptakan rantai distribusi yang lebih baik terhadap pasokan bahan baku untuk industri turunan petrokimia. Hal ini disebabkan karena lokasi anak perusahaan grup Tuban Petro cukup stategis keberadaanya, yaitu PT Polytama Propindo di Balongan, Jawa Barat, PT Trans Pacific Petrokimia Indotama di Tuban, Jawa Timur, dan PT Petro Oxo Nusantara di Gresik, Jawa Timur.

Dengan demikian, distribusi produk akan lebih cepat sampai ke pelanggan karena tidak terhambat oleh padatnya lalu lintas di ruas tol yang melewati Jakarta dan kepadatan akibat pembangunan jalan layang tol Jakarta—Cikampek.

Perlu diketahui bahwa saat ini untuk pengiriman produk dari area Cilegon (Anyer) ke Jawa Tengah membutuhkan waktu 24 jam dan menuju Jawa Timur membutuhkan waktu 48 jam. Hal ini disebabkan oleh padatnya lalu lintas.

Kebangkitan kembali industri petrokimia sudah dimulai. Hal itu berarti saatnya sumber daya yang ada dioptimalkan untuk berinovasi dan bersaing. Semangat Industri 4.0 tetap harus menjadi role model dan dimulai dari penciptaan value creation produk dan pasar baru.

Peluang pasar dalam negeri masih cukup besar untuk subsitusi barang-barang impor. Saat ini impor bahan baku plastik masih sekitar 3,5 juta ton per tahun. Selain itu, impor produk barang jadi plastik juga masih terbilang tinggi, yakni mencapai nilai US$2 miliar pada 115 HS number. Kemudian BTX sebagai bahan baku tekstil sekitar 1,2 juta ton per tahun.

Pasar impor perlu direbut kembali seperti yang pernah dicapai di era 1990-an, khususnya untuk produk-produk seperti tekstil, alas kaki, karung plastik, rotan sintetis dan kemasan makanan minuman. Itulah ketika itu Indonesia pernah menjadi eksportir karung plastik nomor tiga di dunia.

Perlu diketahui pula bahwa konsumsi akan polymer dan barang plastik di Indonesia mencapai 23 kg per kapita per tahun, masih rendah dibandingkankan dengan negara-negara lain di Asean. Dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang rata-rata di atas 5% per tahun, pertumbuhan kunsumsi per kapita plastik juga terus naik.

Oleh karena itu, kebangkitan ini pula akan memberikan sinergi positif dan kepastian terhadap minat investasi terhadap pengembangan industri di Tanah Air dengan hadirnya negara di dalam industri petrokimia.

*Penulis merupakan Sekjen Inaplas

Sumber : Bisnis Indonesia