7 Langkah Praktis Edukasi Bahaya Narkoba Sejak Usia Dini

Ilustrasi narkoba - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
25 Oktober 2019 16:12 WIB Santy Dwi K Aspirasi Share :

Pernahkah anda menemui situasi seperti ini, disaat bersantai bersama keluarga sambil menonton tayangan televisi, tiba-tiba anak anda yang masih berusia balita bertanya dengan polosnya , “Ayah/ Bunda narkoba itu apa sih? Kenapa orang dalam TV itu ditangkap?”

Kira-kira apa jawaban anda saat itu? Mengalihkan perhatian si kecil dari pertanyaannya yang mungkin nda sendiri bingung menjawabnya, menjawab tidak tahu, atau justru menasehati si kecil agar tidak menanyakan urusan orang dewasa? Mengatakan bahwa nanti saja kalau sudah besar akan tahu sendiri, atau nanti tanya guru di sekolah saja,  atau apakah anda memilih menjawab pertanyaan si kecil tentang apa itu narkoba? Dengan cara dan bahasa yang seperti apa? Nah, kok justru jadi bingung sendiri ya.

Begitulah, banyak orang tua yang kebingungan manakala mendapat pertayaan ’ajaib’ seperti ini. Satu sisi, anak usia balita memang sedang masa mengeksplore segala hal, menanyakan segala hal, dan rasa ingin tahu sangat tinggi. Sementara itu, banyak orang tua yang bahkan tidak memiliki/ sangat minim pengetahuan tentang narkoba. Hanya faham bahwa Narkoba adalah zat yang sangat berbahaya dan melanggar hukum. Tetapi secara detail bagaimana bahayanya juga belum difahami. Kalaupun orang tua telah memahami bahaya narkoba secara cukup, tantangan selanjutnya adalah harus menyampaikan pesan bahaya narkoba kepada anak  usia balita adalah tantangan tersendiri. Tidak bisa dilakukan dengan metode dan bahasa orang dewasa. Karena anak usia dini /balita masih belum bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataan. Menjelaskan kepada mereka harus menggunakan cara yang konkrit.

Karena kita semua menyadari, bahaya ini telah menjadi ancaman serius bagi generasi masa depan. Bahkan saat ini Indonesia sedang berada dalam situasi darurat narkoba, dimana sasarannya  bukan hanya usia dewasa, melainkan juga telah menyasar pada usia remaja dan anak-anak. kita pasti pernah mendengar adanya berita beberapa makanan yang terinidikasi mengandung jenis narkotika/psikotropika. Brownis yang mengandung ganja, permen yang diduga mengandung zat berbahaya, dan lain-lain. Berita sepeti ini sudah pasti membuat orang tua manapaun akan was-was. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh orang tua? Bagaimana menghadapi situasi ini?

Pada prinsipnya setiap orang tua harus memiliki kecukupan informasi tentang bahaya narkoba,dan berkewajiban menyampaikan informasi ini kepada anak sesuai usia mereka. Mengapa harus di sesuaikan dengan usia? Karena berbeda usia, beda pula kebutuhan informasi dan cara penyampaiannya. Sebagai contoh, menyampaikan informasi bahaya narkoba kepada anak usia dini ( dibawah 7 tahun) tentu tidak dianjurkan menggunakan cara yang menakutkan. Tidak perlu juga menyampaikan jenis narkoba serta bahayanya apabila disalahgunakan. Karena anak usia dini belum paham hal tersebut. Alih-alih berharap anak akan memahami, yang terjadi justru anak akan takut. Lalu apa yang harus disampaikan kepada anak usia dini sebagai benteng dirinya untuk menolak narkoba apabila tawaran itu akan datang di usia kedepannya kelak? Ada beberapa hal yang bisa orang tua upayakan diantaranya adalah :

  1. Charahter building

Orang tua harus memberkan pendidikan karakter positif sejak anak usia dini. Hal ini peting karena anak dengan karakter yang positif dan kuat, telah memiliki modal besar untuk membentengi diri dari pengaruh negatif apapun, termasuk narkoba. Berbagai metode pendidikan karakter bisa dilakukan, misalnya dengan pembiasaan hal-hal baik seperti meminta maaf, berterimakasih, minta tolong, membantu orang lain, saling menyayangi dengan keluarga dan teman, berbagi, dan hal baik lainnya. Pendidikan karakter ini juga bisa didasarkan pada nilai-nilai agama/keyakinan yang dianut. Sekaligus penanaman nilai spiritual, akan makin memperkokoh karakter positif pada anak.

  1. Pendidikan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)

Ajarkan sejak dini tentang pentingnya kebersihan dan menjaga kesehatan tubuh, makan makanan bergizi, berolahraga, dan pembiasaan hidup sehat lainnya. Tanamkan juga rasa menyayangi dan mencintai tubuhnya  sehingga menjaga kesehatan adalah bentuk dari rasa syukur pada Tuhan atas diberikannya tubuh yang sempurna. Dengan penananam nilai dan kebiasaan ini, anak akan sejak dini berusaha menjaga tubuhnya dan menghindari segala hal yang berpotensi merusak tubuhnya, salah satunya narkoba.

  1. Melatih anak sejak dini untuk memiliki manajemen stres yang sehat

Kemampuan mengelola stres dengan  sehat sangat penting ditanamkan sejak dini sebagai bekal anak menghadapi setiap peristiwa sulit/tidak sesuai harapan. Latihlah anak menerima stres sebagai hal yang wajar terjadi pada setiap orang. Latih anak menerima dan menyadari situasi stres yang dia hadapi. Jangan membiasakan blaming (mencari kambing hitam saat peristiwa tidak menyenangkan terjadi), melainkan ajarkan dan latih untuk menerima situasi tersebut, dan berfokus pada pencarian alternatif solusi. Anak yang terbiasa mengelola stres dengan sehat, akan memiliki alternatif solusi yang lebih banyak dibanding anak yang kurang mampu mengelola stres, apalagi yang terbiasa blaming.

Sebagai contoh: saat anak balita terjatuh saat naik sepeda, maka beberapa orang tua masih melakukan kebiasaan tidak bak dengan berusaha menghentikan tangis anak dengan mengatakan ’ jalannya nakal, sepedanya nakal, dan lain-lain. Saat anak masih menangis kesakitan dan marahpun, orang tua berusaha sesegera mungkin menghentikan tangis anak dengan berbagai rayuan bahkan ancaman, misalnya : anak pintar tidak boleh nangis. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah, beri ruang dan waktu untuk anak menyelesaikan emosinya (menangis dan marah) dan tetap dampingi. Tunjukkan empati dengan kalimat ”Rasanya sakit ya Kak? Kakak boleh menangis kok, nanti kalau sudah tenang dan cukup menangisnya, kita ngobrol ya.” Nah, saat anak telah tenang, maka ajaklah ngobrol dengan mengevaluasi penyebab jatuh dan bagaimana supaya selanjutnya bisa lebih berhati-hati. Contoh penyelesaian masalah seperti ini jika dilakukan dengan konsisten, akan membuat anak memiliki keterampilan bukan hanya mengelola stres dengan sehat, tetapi sekaligus mengelola emosi dan keterampilan penyelesaian masalah. Sehingga saat usia nya bertambah dan masuk ke fase remaja dan dewasa, akan terhindar dari bujuk rayu dan kebohongan bahwa narkoba adalah solusi untuk menenangkan diri dari masalah.

  1. Tumbuhkan selalu rasa percaya diri pada anak

Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan keluasan dan kepercayaan untuk mempunyai pilihan sendiri. Pembiasaan ini juga akan membuat anak berlatih mandiri dan bertanggung jawab pada pilihannya. Tugas orang tua adalah memberikan lingkungan dengan berbagai pilihan alternatif yang baik dan biarkan anak memilih salah satu yang terbaik menurut dia.

  1. Informasi yang jelas (konkrit)

Anak usia balita harus diberikan informasi yang konkrit dan jelas tentang apa saja yang tidak boleh dimakan/dimasukkan ke mulut mereka. Misalnya detergen,pembersih lantai, dan zat berbahaya lainnya yang ada di rumah. Anak harus faham bahwa zat-zat berbahaya itu ada di rumah untuk fungsi yang lain, dan bukan untuk dimakan/minum. Sebaliknya, jelaskan pula tentang obat yang harus diminum saat sakit agar anak juga tidak takut minum obat. Pengalaman sakit pada anak dapat dimanfaatkan oleh orang tua untuk menjelaskan bahwa mengkonsumsi obat harus dengan resep dokter, cara minum dan jumlah obat harus sesuai anjuran dokter, dan mengkonsumsi obat hanya jika benar-benar dibutuhkan untuk pengobatan. Pembiasaan seperti ini akan membantu anak terhindar dari penyalahgunaan obat yang pada akhirnya juga berpotensi pada kecanduan.

  1. Menjadi orang tua yang update informasi terutama tentang modus peredaran narkoba.

Sampaikan pesan teknis tetang issue terbaru modus peredaran dan penawaran narkoba. Informasi ini harus dikemas dengan cara yng menyenangkan, interaktif dan tidak menakutkan. Misalnya melalui teknik mendongeng. Contoh pesan yang disampaikan misalnya: buatlah sebuah cerita/dongeng yang intinya menyampaikan pesan agar anak-anak tidak menerima makanan/minuman/barang pemberian dari orang lain yang tidak dikenal. Dan apabila anak-anak dipaksa, mereka harus tahu kemana harus mencari pertolongan/melapor.

  1. Orang tua sebagai role model

Lebih dari segala upaya yang telah disebutkan tadi, yang utama adalah orang tua harus menjadi role model. Anak adalah peniru ulung. Dia akan menyerap semua informasi yang dilihat dari orang yang paling dekat, dalam hal ini adalah keluarganya. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan akan dengan sangat mudah diikuti oleh anak dan jika terjadi terus menerus akan menjadi perilaku yang menetap. Maka, konsistensi orang tua sebagai role model adalah cara terjitu membentuk anak yang tangguh dan memiliki soft skill menolak narkoba.

Demikianlah beberapa hal yang bisa orang tua lakukan dalam rangka membentengi anak dari bahaya narkoba sejak usia dini. Lalu, bagaimana dengan edukasi bahaya narkoba pada anak usia remaja atau bahkan dewasa? Tentu memiliki pendekatan dan cara yang berbeda. Kira akan bahas pada kesempatan tulisan yang lain.

Nah, sekarang siapkah anda menjadi orang pertama yang akan memberikan edukasi bahaya narkoba sejak dini pada anak anda? Bukankah orang tua adalah guru pertama anak, rumah adalah sekolah pertama untuk anak. Bahkan badan dunia UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime)  menyatakan bahwa ketrampilan menolak narkoba harus telah tuntas diberikan pada anak sebelum usia mereka 9 tahun. Anda telah siap? Bagus. Selamat menjadi role model dan guru pertama anak. Anda belum siap karena informasi bahaya narkoba yang belum cukup? Maka segeralah melengkapi diri anda dengan informasi yang cukup tentang bahaya narkoba melalui sumber informasi yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selamat menangkal bahaya narkoba dari rumah anda.

Karena keluarga kita sangat berharga.

*Penulis adalah Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNNP DIY