OPINI: Membahagiakan Pekerja Lepas di Era Ekonomi Digital

Ilustrasi uang dolar AS - Today.com
01 November 2019 05:02 WIB Bagus Takwin Aspirasi Share :

Bekerja, selayaknya, meningkatkan kebahagiaan pelakunya. Dengan bekerja orang dapat memenuhi kebutuhan finansial dan memenuhi kebutuhan psikologisnya. Pemenuhan kebutuhan psikologis itu diperlukan dalam pencapaian kebahagiaan.

Kerja memberikan ciri dan kualitas manusiawi pada orang yang menekuninya. Bekerja menjadi salah satu sumber utama identitas, juga sumber otonomi dan tujuan hidup, memberi rasa aman dan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas. Itu semua manfaat kerja yang dapat memenuhi kebutuhan psikologis. Manfaat kerja berkontribusi pada kebahagiaan. Orang yang tidak punya akses ke manfaat kerja cenderung tidak bahagia.

Promosi kebahagiaan di tempat kerja bermanfaat baik dari segi kualitas pekerjaan maupun penyediaan lingkungan yang mendorong perilaku sehat. Masyarakat juga menerima manfaat dalam hal meningkatkan jumlah warga yang sehat dan terlibat dalam komunitas mereka, mencegah terkurasnya sumber daya negara karena kesengsaraan warganya.

Namun, belum banyak bukti pengusaha berinvestasi untuk kebahagiaan pekerjanya. Ini juga yang berlangsung di Indonesia. Kebahagiaan pekerja belum jadi prioritas. Tampaknya belum kuat kesadaran bahwa manfaat bisnis dari peningkatan kebahagiaan jauh lebih besar dari sekadar pengendalian biaya. Ini tantangan bagi pembuat kebijakan dan pengusaha, memberikan pekerjaan yang lebih memuaskan.

Tantangan itu menjadi lebih besar dengan adanya laju perubahan pesat dan revolusi teknologi informasi yang telah mengubah pekerjaan dalam waktu cepat. Berbagai pekerjaan baru, juga hubungan kerja baru, muncul. Ini terjadi juga di Indonesia, seiring dengan besarnya pengaruh internet terhadap jenis pekerjaan, cara dan hubungan kerja.

Satu hipotesis mengemuka belakangan ini bahwa di era ekonomi digital, individu akan semakin memberikan layanan kerjanya dalam bentuk-bentuk hubungan kontraktor independen dengan perusahaan, sebagai pekerja lepas. Kontraktor independen dapat menawarkan layanan mereka secara efisien ke basis pelanggan yang jauh lebih besar.

Ekonomi berdasarkan permintaan (gig economy) dapat menjadi versi baru dari ekonomi layanan pribadi yang diakses melalui teknologi yang tersedia luas di smartphone dan perangkat serupa lainnya, seperti layanan transportasi dan pengiriman makanan. Bagi pekerja, pekerjaan seperti itu cocok dengan karir pekerja dalam berbagai cara, baik sebagai pekerjaan sementara, sampingan, atau, dalam beberapa kasus, menjadi pekerjaan utama.

Selain perlu ada peraturan yang mengakomodasi jenis pekerjaan itu, perlu juga dipikirkan bagaimana dalam pekerjaan baru itu pekerjanya memperoleh kepuasan dan kebahagiaan dalam bekerja.

Kebahagiaan mempengaruhi produktivitas kerja. Orang yang bahagia terdorong melakukan aktivitas produktif, tahan stres, menjalani hidup secara positif dan penuh makna, serta mampu membina hubungan baik, dan ikut serta dalam pengembangan lingkungan sosialnya. Kebahagiaan juga membuat orang memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit fisik dan mental.

Di tempat kerja, kebahagiaan memengaruhi proses kognitif, memungkinkan pekerja berpikir lebih kreatif dan lebih efektif memecahkan masalah. Kebahagiaan juga meningkatkan sikap kooperatif dan kolaboratif, serta memberi pekerja stamina dan ketahanan yang lebih tinggi terhadap penyakit.

Kini, kebahagiaan menjadi sorotan utama di dunia kerja, dikaitkan dengan pengembangan masyarakat yang bermakna dan berkelanjutan. Banyak yang makin tidak puas dengan bisnis yang hanya mementingkan keuangan murni. Manajemen sumber daya manusia jadi sorotan dengan kesejahteraan organisasi dan kebahagiaan pekerja sebagai indikator prospek jangka panjang perusahaan. Semakin masuk dalam abad ke-21, kebahagiaan semakin dinilai penting sebagai agenda perusahaan.

Ekonomi berbasis permintaan yang dimungkinkan oleh internet masih menjadi tantangan bagi Indonesia. Perlu diprediksi dampak potensialnya. Untuk dapat memantau trennya kita perlu memastikan statistik resmi dan data lainnya untuk komunitas penelitian dan kebijakan, termasuk juga statistik tentang kebahagiaan pekerja. Sayangnya itu belum ada di Indonesia.

Tantangan bagi pemerintah dan pengusaha adalah bagaimana menyediakan data kebahagiaan pekerja beserta faktor-faktornya, membuat standar kerja yang membahagiakan, serta mengupayakan peningkatan kebahagiaan pekerja. Pengukuran kebahagiaan pekerja dan faktor-faktornya menjadi penting di Indonesia, karena hasilnya dapat memberikan informasi mengenai seberapa jauh perusahaan memfasilitasi kebahagiaan pekerja. Hasilnya dapat menjadi bahan evaluasi dan perbaikan di masa berikutnya.

Untuk menghadapi tantangan itu, diperlukan pemahaman mengenai faktor kebahagiaan pekerja. Penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) pada 2019 terhadap 201 mitra Go-Jek menemukan faktor yang berperan meningkatkan kebahagiaan pekerja.

Cakupannya adalah pertama, kesesuaian pekerjaan dengan orang yang mengerjakannya. Kedua, kesempatan berinteraksi dengan banyak orang dan terlibat dalam komunitas. Ketiga, otonomi dan kontrol diri sendiri dalam bekerja. Keempat, penghargaan. Kelima, rasa memiliki dan keterlibatan tinggi dalam pekerjaan, dan keenam, perasaan berharga dan dibutuhkan.

LD FEB UI juga melakukan pengukuran kepuasan hidup pada 6.712 mitra Go-Jek. Hasilnya, 49% melaporkan sangat puas dan puas dengan kehidupannya, serta 27% melaporkan agak puas. Dapat disimpulkan kebanyakan dari mitra Go-jek yang diteliti menilai diri mereka bahagia. Ini sejalan dengan hasil penelitian terhadap para pekerja lepas pelaku gig economy di Inggris dari Mark Stabile, profesor ekonomi INSEAD, bersama Bénédicte Apouey, profesor Paris School of Economics, yang dirilis dalam artikel berjudul The Effects of Self and Temporary Employment on Mental Health: The Role of the Gig Economy in the UK pada Juni lalu.

Mereka menemukan bahwa pekerja ekonomi gig di Inggris memiliki skor kebahagiaan psikologis lebih tinggi daripada pekerja di ekonomi arus utama. Penyebabnya mencakup tingginya kepercayaan diri, kemandirian kerja seperti menentukan jadwal sendiri, memutuskan kapan harus bekerja dan membuat keputusan tentang pelanggan yang mengarah ke rasa kontrol yang lebih besar.

Sebelumnya, Stabile menghitung sekitar 33% pekerja gig economy melaporkan diri mereka memiliki traits sehat mental positif, persentase yang besar dan, menurutnya, di luar dugaan. Penelitian itu memberikan pemahaman mengenai pentingnya otonomi dan perasaan berharga di tempat kerja.

Rancangan pekerjaan yang meleluasakan orang mendapatkan pengalaman yang meningkatkan kebahagiaan penting bagi keberlangsungan dan keberhasilan kerja. Kontrol dan fleksibilitas dalam bekerja membuat pekerja lebih sehat mental. Pelibatan pekerja untuk bertanggung jawab dan percaya diri dalam pengambilan keputusan mereka juga penting bagi peningkatan kebahagiaan.

Fasilitasi dari perusahaan untuk mempromosikan keterlibatan dan kemampuan berkonsentrasi pada kegiatan kerja diperlukan agar pekerja dapat melihat peluang yang menarik bagi dirinya. Penting juga mengaitkan pekerjaan dengan tujuan dan makna yang lebih luhur agar pekerja memiliki tujuan kerja yang membahagiakan.

Sekali lagi, meningkatkan faktor-faktor yang membahagiakan dan meminimalkan faktor-faktor yang mengurangi kebahagiaan pekerja menjadi tantangan bagi pembuat kebijakan dan perusahaan. Perlu kesungguhan untuk menyandingkan produktivitas kerja dan kebahagiaan. Semestinya keduanya berjalan beriringan, seperti dua sisi dari satu koin.

Sumber : Bisnis Indonesia