OPINI: Menggelorakan Cinta Flora dan Fauna

Ilustrasi elang.-Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
04 November 2019 05:17 WIB Suyatno Aspirasi Share :

Dalam rangka refleksi Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tiap 5 November patut digelorakan kembali rasa cinta flora dan fauna. Kehidupan alam akan senantiasa membentuk keseimbangan. Kepunahan bisa berakibat pada rusaknya keseimbangan ekosistem.

Itulah pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati. Namun akibat keserakahan dan desakan kebutuhan manusia tega merusak ekosistem. Kita sering dikejutkan dengan ditangkapnya pemelihara satwa langka dilindungi oleh aparat penegak hukum. Kita juga merasa sungguh kasihan melihat satwa yang dieksploitasi oleh manusia.

Patut terus didengungkan bahwa masyarakat awam hendaknya tidak memelihara dan memperjualbelikan hewan atau tumbuhan langka yang rawan punah. Memelihara binatang langka di rumah akan menyebabkan hewan-hewan tersebut semakin cepat punah. Karena itu, tersangka akan dijerat sanksi Undang-Undang No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang mengatur larangan perjualbelian hewan langka. Tersangka juga melanggar Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) KUHP dengan ancaman pidana penjara lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Sejatinya, hewan dan tumbuhan tersebut mesti dibiarkan hidup secara alami atau diserahkan pemeliharaannya kepada orang yang ahli agar ditangkarkan dan kemudian dilepaskan kembali ke habitat aslinya. Bila tidak aktivitas itu ternyata dapat menurunkan keanekaragaman hayati. Hingga saat ini, berbagai jenis tumbuhan dan hewan terancam punah dan beberapa di antaranya telah punah. Australia saja selama 20 tahun ini telah kehilangan 41 jenis mamalia, 18 jenis burung, reptilia, ikan, dan katak, 200 jenis invertebrata, dan 209 jenis tumbuhan.

Sementara itu, Indonesia kehilangan beberapa satwa penting, misalnya harimau bali. Saat ini hewan tersebut tidak pernah ditemukan lagi keberadaannya, alias sudah punah. Hewan-hewan seperti badak bercula satu, jalak bali, dan trenggiling juga terancam punah. Belum lagi beberapa jenis serangga, hewan melata, ikan, dan hewan air, yang sudah tidak ditemukan lagi di lingkungan kita.

Sungguh keanekaragaman hayati bisa menurun akibat aktivitas manusia. Perusakan habitat diyakini menjadi penyebab utama kepunahan organisme. Ekosistem diubah fungsinya oleh manusia. Hutan ditebang dijadikan lahan pertanian, pemukiman dan akhirnya tumbuh menjadi perkotaan. Perusakan terumbu karang di laut juga dapat menurunkan keanekaragaman hayati laut. Ikan-ikan serta biota laut yang hidup bersembunyi di dalam terumbu karang tidak dapat lagi hidup dengan tenteram, beberapa di antaranya tidak dapat menetaskan telurnya karena terumbu karang yang rusak.

Belum lagi penggunaan pestisida yang sebenarnya hanya untuk membunuh organisme penggangu (hama), pada kenyataannya menyebar ke lingkungan dan meracuni mikroba, jamur, hewan, dan tumbuhan lainnya. Menurunnya populasi serangga pemangsa (predator) karena disemprot dengan insektisida mengakibatkan terjadinya ledakan populasi serangga yang dimangsa dan memakan tanaman pertanian sehingga sangat merugikan petani. Bahan pencemar berasal dari limbah pabrik dan limbah rumah tangga juga dapat membunuh mikroba, jamur, hewan dan tumbuhan penting.

Penebangan hutan tidak hanya menghilangkan pohon yang sengaja ditebang, tetapi juga merusak pohon-pohon lain yang ada di sekelilingnya. Kerusakan berbagai tumbuh-tumbuhan karena penebangan akan mengakibatkan hilangnya hewan. Secara tidak sengaja perilaku kita mempercepat kepunahan organisme. Seringnya menanam tanaman hanya yang dianggap unggul akan menghilangkan tanaman yang kita anggap kurang unggul.

Pelestarian lingkungan
Manusia merupakan aktor yang paling berperan dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup. Sebagai khalifah di bumi manusia perlu melakukan upaya yang dapat mengembalikan keseimbangan lingkungan agar kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya dapat berkelanjutan. Undang-Undang No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup membingkai pengaturan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.

Perlu juga diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.

Hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi ini. Hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air. Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul merupakan pilihan yang tepat.

Patut dihindari tindakan membabat dan membakar hutan secara sewenang-wenang.
Perlu ditegakkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon. Sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan merupakan tindakan bijak. Sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan menjadi tuntutan untuk ditegakkan.

Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan karena ulah manusia yang patut segera diakhiri. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan hutan bakau harus ditinggalkan. Kegatan itu akan mengancam kelestarian laut dan pantai. Upaya meminimalkan terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai harus segera disebarluaskan. Hal ini penting dalam mencegah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap gempuran ombak. Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai menjadi tuntutan.

Sebagai negara maritim yang besar, kita harus mampu mencegah pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut. Meskipun sumberdaya ikan kita sangat melimpah namun tidak sepatutnya ada pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan. Demikian juga pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan jangan lagi ada.

Kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Salah satunya dengan mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa. Selain itu tidak boleh dibuka peluang adanya kegiatan perburuan liar. Justru harus diduduk usaha menggalakkan kegiatan penghijauan.

Meningkatkan Keanekaragaman
Menurunnya keanekaragaman hayati jelas menimbulkan masalah lingkungan yang akhirnya merugikan manusia. Penebangan hutan mengakibatkan banjir. Hewan-hewan yang hidup di dalam hutan seperti babi hutan, gajah, kera, menyerang lahan pertanian penduduk karena habitat yang semakin sempit, dan makanan mereka semakin berkurang.

Upaya membantu melestarikan keanekaragaman makhluk hidup dengan memelihara kelestarian lingkungan dapat dilakukan dengan berbagai langkah. Usaha melestarikannya juga bisa dengan memelihara hewan atau tumbuhan hasil penangkaran atau budi daya. Tindakan membunuh hewan dan tumbuhan liar serta mempermainkan hewan liar dan memetik tumbuhan langka jangan sampai terjadi.

Kegiatan penghijauan meningkatkan keanekaragaman hayati adalah cara lain yang bisa ditempuh. Kegiatan penghijauan tidak hanya menanam tetapi yang lebih penting adalah merawat tanaman setelah ditanam. Pembuatan taman-taman kota selain meningkatkan kandungan oksigen, menurunkan suhu lingkungan, memberi keindahan, juga meningkatkan keanekaragaman hayati. Pemuliaan yang membuat varietas unggul dengan cara melakukan perkawinan silang akan menghasilkan varian baru yang meningkatkan keanekaragaman gen. Sudah saatnya kita semua berfikir meninggalkan kebaikan bagi anak cucu. Lestarilah alamku.

Penulis merupakan dosen FHISIP Universitas Terbuka Yogyakarta pemerhati politik ekonomi lingkungan.