OPINI: Transformasi 4.0, Solusi Wujudkan SDM Unggul Indonesia

Buruh migran Indonesia sedang berlatih meracik minuman bubble tea di Taiwan yang diselenggarakan oleh Global Workers' Organization (GWO), LSM Taiwan, Minggu (8/7/2018). - Bisnis/Hery Trianto
11 November 2019 05:27 WIB Dewi Wiranti Aspirasi Share :

Sudah bukan rahasia umum bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih memerlukan perbaikan di berbagai sektor. Rendahnya kualitas lulusan sekolah, perbedaan kualitas infrastruktur sekolah, ketidaksesuaian kemampuan lulusan dengan keperluan industri, dan tingginya angka pengangguran terdidik menjadi beberapa masalah pendidikan di Indonesia yang belum ditemukan akar pangkalnya.

Masalah tersebut menghambat sumber daya manusia Indonesia bersaing di dunia internasional. Di era Industri 4.0 ini, memiliki sumber daya manusia yang berkualitas sangatlah penting. Otomatisasi yang menjadi inti dari industri 4.0 membutuhkan sumber daya manusia dengan keahlian khusus karena banyak pekerjaan yang pada akhirnya akan diserahkan kepada mesin.

Dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, diharapkan tidak akan terjadi lonjakan pada tingkat pengangguran. Salah satu upaya untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah dengan diselenggarakannya pendidikan vokasi. Melalui program Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan pembukaan berbagai program kuliah vokasi (D3/D4), sebenarnya pemerintah telah berusaha untuk memenuhi kebutuhan industri.

Akan tetapi, usaha tersebut tampaknya belum membuahkan hasil. Menurut CNN Indonesia, lulusan SMK menyumbang 13% angka pengangguran nasional, diikuti lulusan diploma dan S1. Sementara data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2019 menunjukan pengangguran dari lulusan diploma meningkat sebesar 8,5% dan dari lulusan S1 meningkat sebesar 25%. Pentingnya pendidikan vokasi telah dibuktikan oleh berbagai negara, seperti Jerman dan Jepang. Di kedua negara tersebut, lulusan vokasi dianggap lebih siap bekerja dengan ilmu yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.

Karena itu, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, khususnya vokasi, perlu mengalami transformasi. Istilah yang tepat untuk transformasi pendidikan ini adalah Transformasi 4.0 sesuai dengan jargon Industri 4.0. Transformasi 4.0 memiliki tigapilar utama. Pertama, percepatan perubahan tata kelola keuangan, manajemen, dan proses penyelenggaraan pendidikan melalui fasilitas digital. Digitalisasi ketiga proses inti tersebut akan memberikan hasil yang maksimal dalam penyelenggaraan pendidikan. Adapun pada pilar kedua adalah percepatan perubahan kompetensi SDM.

Perubahan ini harus didukung oleh pihak-pihak yang berkepentingan, seperti praktisi usaha dan pemerintah. Dengan peningkatan kualitas SDM yang berfokus pada kemampuan vokasi, akan tercipta lulusan yang siap memenuhi kebutuhan di dunia industri. Selain kedua pilar di atas, pilar ketiga yang terpenting adalah perubahan budaya dalam pendidikan.

Pencegahan radikalisasi dan penanaman budaya yang positif serta membangun akan menghasilkan sumber daya masyarakat yang madani dan dapat beradaptasi dalam segala kondisi. Oleh karena itu bila Indonesia ingin memenangkan persaingan, maka pembangunan dan penguatan sumber daya manusia adalah keharusan.

Dengan demikian diperlukan sekali penguatan dan pengembangan dalam konteks digitalisasi maupun budaya. Menurut penelitian Institute for Management Development (IMD), daya saing tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan sejumlah negara Asean seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Persaingan ini juga diperkuat dengan terjadinya disrupsi digital atau digital disruptions.

Terlepas dari hal ini, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin di era pasar tunggal Asean karena jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 40% dari total keseluruhan penduduk di kawasan ini. Apalagi jumlah usia produktif Indonesia akan mencapai 64% pada tahun 2020. Untuk menciptakan SDM Indonesia yang unggul dan memiliki daya saing di seluruh penjuru Tanah Air sesuai dengan prinsip Education for All, kita perlu memiliki pendidikan yang berkualitas, bukan hanya di kota-kota besar tapi juga di kota-kota kecil bahkan di pelosok-pelosok daerah.

Sudah saatnya kesenjangan pendidikan dibenahi agar tercipta pemerataan kualitas pendidikan di seluruh Tanah Air. Digital Distance Learning dan Mobile Apps based adalah salah satu contoh penerapan program yang diharapkan bisa mencapai tujuan Education for All tadi. Dalam hal ini misalnya, PT PBS Indonesia Sejahtera bersama TUJ Foundation menjalin kemitraan dengan pihak swasta dan lembaga terkait lainnya yang peduli dengan kualitas SDM di Indonesia, sudah menginisiasi dan memulai Tranformasi 4.0 di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Langkah ini adalah sebuah terobosan yang diperlukan Indonesia untuk memenangkan persaingan di wilayah Asean maupun global, sehingga perlu mendapat dukungan yang berarti dari pemerintah secara terstruktur, masif, berkesinambungan, dan terukur. Selanjutnya supaya transformasi yang penuh tantangan ini berhasil, pekerjaan penting yang mendesak bagi pemerintah atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak terkait, misalnya kalangan praktisi industri dan tenaga pendidik.

Sinergi antara pihak-pihak yang berkepentingan akan membantu tercapainya target Transformasi 4.0, yakni pemanfaatan bonus demografi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pencapaian target Transformasi 4.0 juga harus melibatkan masyarakat, perusahaan termasuk industri swasta dan BUMN serta pemerintah pusat dan daerah.

Hal ini bertujuan untuk membuka peluang agar jangkauan yang diharapkan bisa lebih luas dengan hasil yang lebih maksimal. Ujungnya adalah agar SDM di Indonesia dapat memenangkan persaingan di level regional maupun global.

*Penulis merupakan Founder & CEO PT PBS Indonesia Sejahtera

Sumber : Bisnis Indonesia