OPINI: Tantangan Literasi Bagi Orang Tua Generasi Alpha

Ilustrasi anak. - JIBI
13 November 2019 05:02 WIB Vivi Kusumastuti Aspirasi Share :

Anakku sudah lancar membaca dan menulis sejak TK, besok bisa masuk SD favorit adalah ungkapan yang sering didengar dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa menanggapi dengan santai, beberapa menanggapi dengan panas kuping.

Sejatinya setiap orang tua selalu berharap anaknya menjadi yang terbaik. Harapan itu akan diupayakan dengan berbagai cara agar bisa terwujud. Salah satu harapan yang biasa ditemukan dalam dunia anak usia dini adalah kemampuan berbahasa. Namun pernahkah orang tua merenungkan apa yang sudah diupayakan agar kemampuan berbahasa anak berkembang dengan baik?

Kemampuan berbahasa anak usia dini ada empat hal, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Membaca dan menulis merupakan kemampuan yang diharapkan muncul pada anak prasekolah. Sebuah kebanggaan apabila anak bisa membaca dan menulis sejak usia dini. Orang tua menganggap kemampuan membaca dan menulis menjadi sebuah penanda. Penanda bahwa anaknya kelak sudah siap memasuki jenjang pendidikan dasar.

Pencapaian kemampuan tersebut diperoleh dengan berbagai upaya. Sebagian dari orang tua menyerahkan pada pihak satuan pendidikan. Menyerahkan stimulasi sepenuhnya pada pihak satuan pendidikan dengan sebuah harapan. Harapan ketika anak lulus sudah otomatis bisa membaca dan menulis. Sebagian lainnya memilih untuk mengikutsertakan anak les membaca dan menulis. Orang tua menginginkan hasil yang siap jadi sehingga mereka tidak repot. Anak memang akhirnya bisa membaca namun sangat mungkin tidak senang membaca. Capaian kemampuan bisa terwujud karena terdapat target. Target yang diberikan dalam waktu tertentu untuk bisa membaca.

Bisa membaca dengan senang membaca memiliki dampak yang berbeda. Jika harapannya hanya bisa membaca, maka tugas anak selesai saat dia sudah bisa membaca. Jika harapannya senang membaca, maka anak akan senang dengan bacaan. Anak senang membaca yang nantinya menjadi dasar atau memotivasinya untuk menulis. Hasil studi Most Littered Nation in The World oleh Central Connecticut Sate University menempatkan posisi minat baca warga Indonesia ke peringkat 60 dari 61 negara. Rendahnya minat baca disebabkan banyak faktor. Salah satunya bisa disebabkan karena tujuan selama ini hanya anak bisa membaca, bukan senang membaca.

Sebagian orang tua meluangkan waktu untuk menstimulasi sendiri kemampuan berbahasa pada anak. Pilihan itu memiliki arti bahwa orang tua harus menyediakan waktu untuk anak. Orang tua mau meletakkan gawai sesaat agar dapat fokus saat menstimulasi. Mereka melakukan kegiatan bersama dengan anak. Kegiatan tersebut di antaranya membacakan buku, mengajak anak bercerita, atau mendongeng sebelum tidur. Orang tua menemani anak saat bermain di rumah. Menggali cerita dari hasil karya, membantu menuliskan nama atau hasil gambar anak di kertas. Bahkan mau dengan sabar dan telaten membacakan kata demi kata yang terdapat dalam lingkungan. Beberapa kata dalam bungkus makanan, papan penunjuk jalan, iklan, atau papan nama dibacakan dan ditunjukkan pada anak.

Apapun upaya yang dipilih semua memiliki konsekuensinya masing-masing. Orang tua pasti sudah mempertimbangkan apa yang dipilih dengan matang. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah apakah upaya tersebut sudah manusiawi untuk anak usia dini. Manusiawi dalam arti anak tidak kehilangan masa dimana mereka bermain dan bersosialisasi. Anak lebih cepat menyerap informasi jika mereka merasa senang. Suasana senang dapat dibangun dengan interaksi melalui kegiatan main. Situasi yang penuh dengan tekanan dan paksaan akan membuat kenangan yang tidak menyenangkan. Akibatnya di masa depan anak malas dengan yang namanya membaca dan menulis.

Gawai memang menghadirkan pesona dunia dalam genggaman. Anak usia dini merupakan bagian dari Generasi Alpha. Generasi yang lahir di atas 2010 memang dekat dengan sentuhan teknologi. Keberadaan gawai memang bagaikan dua sisi mata uang. Satu sisi memberikan banyak kemudahan dengan mendekatkan yang jauh. Sisi lainnya seperti membentangkan jarak antara orang tua dan anak. Orang tua menemani anak bermain sambil menggunakan gawai. Kadang mengajak anak berbicara tetapi pandangan matanya kearah gawai. Sering ditemui anak menggenggam gawai selama berjam-jam tanpa pengawasan. Ironisnya bahkan ada orang tua yang menenangkan anaknya yang menangis dengan gawai.

Gawai seakan menjadi pengasuh yang baru. Bisa memberikan efek menenangkan sekaligus sebagai candu. Kondisi seperti ini diperparah dengan tuntutan orang tua. Menuntut anak mengembangkan kemampuan membaca dan menulis tapi orang tua sendiri enggan meluangkan waktu. Bahkan untuk sekedar mendengarkan dan mengajak anak berinteraksi.

Penggunaan gawai memang menjadi sebuah dilema tersendiri. Gawai kini sudah menjadi bagian dan kebutuhan hidup. Asal bijak dalam menggunakan sesuai fungsi maka gawai akan bisa menjadi salah satu alat bantu. Penggunaan gawai harus dilakukan dengan pendampingan penuh dengan batasan waktu. Batasan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama antara orang tua dengan anak. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa bijak menggunakan gawai merupakan bagian dari literasi digital.

Usia dini menjadi salah satu fase dalam rentang kehidupan seorang anak. Fase yang sebenarnya hanya dilalui dari usia 0 sampai 7 tahun di awal kehidupannya. Suatu hari nanti akan datang masa dimana anak sudah bisa mandiri mengurus keperluannya. Segala kerepotan dan ketergantungan anak pada orang tua tidak akan berlangsung lama. Ketika masa itu datang, kerinduan orang tua akan muncul. Untuk itu perlu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan melakukan kegiatan bersama. Salah satu tujuannya agar dapat mengembangkan kemampuan berbahasa pada anak. Tak perlu merasa ‘panas kuping’ selama orang tua sudah mengupayakan yang terbaik.

*Penulis merupakan pendidik PAUD di Satuan PAUD Sejenis (SPS) Melati Ganggong Bangunkerto Turi/kontributor beberapa buletin dan laman PAUD dan Pendidikan Masyarakat