OPINI: Pergeseran Industri Wisata dari Tradisional ke Digital

Ilustrasi iklan digital - Bisnis.com
14 Desember 2019 05:27 WIB Agus Rochiyardi Aspirasi Share :

Gegap gempitanya pengaruh Revolusi Industri 4.0 di berbagai aspek, berdampak pula terhadap sektor kepariwisataan. Banyak contoh terkait hal tersebut, bagaimana Traveloka, lembaga yang tidak memiliki maskapai penerbangan dapat menjual kursi pesawat, termasuk AirBnB menjual akomodasi, Gojek menjual transportasi, dan lain-lain.

Dengan memanfaatkan teknologi, sekarang ini sharing economy mudah untuk dilakukan dan ini berdampak pada industri, asosiasi ataupun para pelaku pariwisata yang banyak mengalami kemunduran diakibatkan tidak mampunya bertransformasi dan masih menjalankan bisnis seperti biasa dan terjadi seleksi alamiah sebagaimana disampaikan oleh Charles Darwin (1809), it is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.

Adanya revolusi industri sebenarnya dipicu oleh kreativitas manusia di dalam berinovasi, yaitu meliputi pengetahuan baru, cara baru, objek baru, teknologi baru, maupun penemuan baru. Sebagaimana dicontohkan dalam revolusi industri generasi pertama yang telah dicatat oleh sejarah karena berhasil menaikan perekonomian dunia secara dramatis, dengan ditemukanya mesin uap pada abad ke-18, yang dapat menggantikan tenaga manusia dan hewan sehingga produktivitas meningkat.

Pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan munculnya pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber) pada 1876, hal ini memicu kemunculan mobil, pesawat terbang, dan lain-lain, yang memudahkan manusia untuk bergerak semakin cepat, lebih jauh dan ini mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan Internet pada 1969, semakin memudahkan manusia untuk menyimpan, menanalisa data-data secara akurat dan mampu meningkatkan produktifitas disemua industri.

Di dalam Revolusi Industri 4.0, Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution, mengemukakan revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan kemampuan fungsi otak.

Adanya Revolusi Industri 4.0 mengakibatkan terjadinya perubahan perilaku konsumen yang menjadi semakin digital, apalagi Gen Y (generasi milenial) dan Gen Z (generasi screenage) semakin besar jumlah dan pengaruhnya sehingga muncul istilah always-connected travellers, di manapun dan kapanpun mereka saling terkoneksi dengan adanya mobile apps/devices.

Adanya revolusi industri ini mengubah gaya hidup wisatawan di dalam mencari informasi untuk berwisata, yang dulunya mereka merencanakan liburan selalu mengandalkan agen travel ataupun biro perjalanan wisata namun sekarang ini mereka memperbandingkan antarproduk, memesan paket wisata, dan berbagai informasi terkini yang dapat dilakukan secara digital melalui telepon seluler, singkatnya mereka search and share menggunakan media digital.

Kata kunci digital lifestyle ini yaitu mobile, personal, dan interaktif, hal ini dilakukan wisatawan di dalam melihat-lihat dan mencari informasi (look), kemudian memesan paket wisata yang mereka minati (book), dilanjutkan pembayaran secara daring (pay), bila platformnya masih menggunakan media konvensional seperti televisi atau koran, maka prosesnya tidak bisa diintegrasikan secara digital dengan booking company (book) atau online payment company (pay).

Penggunaan big data dalam platform digital, mampu mendapatkan insights perilaku konsumen yang lebih presisi, dan mudah diakses oleh wisatawan dari manapun di seluruh dunia, karena itu muncul tagline The more digital, the more personal. The more digital, the more professional. The more digital, the more global.

Kaum milenial sekarang ini senang sekali melakukan aktualisasi diri dengan mengunduh berbagai kegiatan seperti berada di mana, dengan siapa, melakukan kegiatan apa dan semuanya itu lebih ke arah individual sehingga sebuah destinasi harus mampu menciptakan experience, memorable dan testimoni.

Untuk kegiatan pemasaran terjadi perubahan yang sangat mendasar, di mana pada awalnya pelanggan dianggap sebagai objek, sekarang terjadi pergeseran menjadi subjek sehingga pemasaran konvensional akan kesulitan mencari pelanggannya, maka diperlukan toolbox baru seperti online booking system, messenger and WhattsApp, Google analytic, Facebook, Instagram, Tweeter, untuk mempermudah mengakses, menganalisa, komunikasi dan berbagai keperluan lainnya.

Secara prinsip pemasaran lebih kearah proses komunikasi dari pengirim ke penerima namun di dalam prosesnya selalu saja ada noise yang akan mengganggu didalam penyampaian respons ataupun feedback, untuk itu perlu dicari langkah-langkah yang kreatif untuk mengeliminasi noise, salah satu cara yaitu dengan memanfaatkan sebuah story, hal ini dikarenakan visual lebih cepat diproses dalam otak dibandingkan data dan angka-angka, gelombang frkeuensi si pembuat story akan sama dengan yang mendengar ataupun melihatnya dan yang terpenting adalah 90% informasi yang ditransmisikan ke otak berupa visual.

Pelaku industri harus berubah mengikuti pola keinginan konsumen, baik bisnis model, cara memasarkan, ataupun strategi-strategi lainnya, dari tradisional kearah digital agar tidak ketinggalan dan tetap dapat sustain.

Pada akhirnya para pelaku pariwisata yang mampu mengorkestrasi ekosistem bisnis yang didukung oleh artificial inteligent, Big data, Super Apps, Broadband Network, Internet of Things dan Cloud computing, memunculkan value baru dan terbukti hasilnya sangat luar biasa, sebut saja Google, Gojek ataupun Traveloka.

*Penulis merupakan Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur